Perjalanan | April-Juni 2018

Kepiting-kepiting Kalimantan

 Hutan Mangrove Kalimantan layak dikembangkan menjadi ekowisata. Perjalanan saya menyusuri hutan yang menjadi benteng laut ini Kepualaun Berau.

M. Khulfi Khalwani

Perencana di Biro Perencanaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

SETIAP melihat peta Kalimantan, saya selalu membayangkan gambar kepala manusia yang sedang menghadap ke Timur. Bagian hidungnya adalah Kabupaten Kutai Timur  dan bagian matanya adalah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Berau seperti “mata Kalimantan.” 

Karena di Berau kita bisa melihat perwakilan alam Borneo secara utuh. Mulai dari potensi tambang yang melimpah sampai berbagai objek ekowisata yang eksotis; kearifan budaya hingga keanekaragaman etnisnya; mulai dari kekayaan hutan alam tropis di hulu sungai, ekosistem esensial karst, tanah gambut, sampai keunikan hutan mangrove di pesisirnya. Mulai dari kecantikan terumbu karang, habitat penyu hijau, hiu paus, sampai kekayaan hasil  lautnya yang mendunia.

Siapa yang tidak mengetahui kemolekan alam bawah laut dan pasir putih pulau Derawan, Sangalaki, Kakaban dan Maratua? Keanekaragaman terumbu karang di laut Berau tertinggi ketiga di dunia; dan kedua di Indonesia setelah Raja Ampat. Sayang perjalanan saya ke Berau kali ini bukan untuk mengunjungi pulau-pulau itu. Dan Kalimantan bukan hanya soal keindahan dunia bawah laut. Alat lautnya tak kalah eksotis: mangrove Berau.

Hujan rintik di  hari Minggu di akhir Februari mengiringi perjalanan saya mengunjungi Berau. Dua kali penerbangan dari Jakarta transit di Balikpapan, lalu saya mendarat di Bandara Kalimarau, Tanjung Redep. Di sini saya bertemu dengan Pak Setiyoko dan Pak Handoyo yang akan menjadi rekan perjalanan saya. Mereka telah lama bergabung sebagai pendamping dalam kegiatan pengendalian perubahan iklim FORCLIME, kerja sama antara pemerintah Jerman dan Indonesia di Berau, yaitu pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).

Sebelumnya lokus kegiatan FORCLIME berada di daerah hulu Kabupaten Berau dan masih berlangsung sampai saat ini. Untuk tahun ini mereka mulai merancang berbagai  program yang akan dilakukan di daerah estuari di kabupaten Berau, yaitu di kawasan Delta Berau yang dicirikan dengan ekosistem Mangrove. Suatu hal yang baru dan sangat menarik saya pelajari.

Masih pukul 7 pagi saat kami bertolak dari kota Tanjung Redep. Kami naik perahu mesin 2 x 40PK menyusuri sungai Berau menuju daerah inti yang akan menjadi calon lokasi program Demonstration Activity REDD+ di daerah Muara Pantai atau Delta Berau. Luasnya kurang lebih 32 ribu hektare dan terdapat kurang lebih 15 pulau dengan luasan yang berbeda, seperti pulau Saudang Kecil, Saudang Besar, Lungsuran Naga, Lalawan, Semerah, Simaluka, Guntungan, Bingkar.

Ada sepuluh desa di daerah Delta Berau dengan total penduduk mencapai 13.707 jiwa yang akan menjadi target sasaran kegiatan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan yang akan dilakukan, di antaranya Desa Batu-Batu, Sukan Tengah, Pegat Batumbuk, Kasai dan Teluk Semanting yang akan menjadi lokasi inti dan Desa Pesayan, Suara, Palinjau, Pulau Besing dan Buyung-Buyung yang menjadi desa penyangga.

Kapal penarik tongkang batu bara menjadi bagian pemandangan saat kami menyusuri sungai. Hingga sampai desa Pulau Besing saya dikejutkan dengan puluhan bekantan yang berkumpul pada satu pohon. Di seberangnya terdapat dermaga untuk memuat batu bara. "Setiap pagi dan sore mereka memang berkumpul di tepi sungai yang dekat dengan daerah muara," ujar pak Setyoko.

Sesaat saya ingat dengan desa Muara Bulan di bagian hilir sungai Katingan-Kalimantan Tengah, karena pernah menjumpai koloni primata berhidung besar ini di sana. Bekantan adalah primata endemik pulau Borneo yang bisa berenang. Populasinya di alam semakin berkurang akibat perburuan dan berkurangnya habitat. Saat kami mendekat, kelompok hidung membubarkan diri. Mungkin mereka kaget atau malu didekati manusia.

Perjalanan kami lanjutkan hingga desa Pegat Batumbuk di salah satu pulau inti di Delta Berau. Di sini kami mengunjungi rumah kepala desa untuk menjelaskan tujuan kami dan berencana akan bermalam di sini. "Mayoritas penduduk di sini mulanya adalah pelaut yang datang dari Sulawesi. Saya sendiri dibawa kesini saat berumur tiga tahun," kata Kepala Desa.

Mangrove merupakan salah satu tipe hutan yang memiliki ciri khas hanya tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai, dipengaruhi oleh salinitas dan pasang surut air laut.  Meskipun jenis vegetasi mangrove tidak sebanyak tipe hutan lainnya di daratan, hutan mangrove kaya akan fungsi ekologi dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.

Mangrove berfungi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi, tsunami dan mencegah intrusi air laut. Mangrove juga menyediakan hasil hutan berupa kayu dan non kayu, jasa lingkungan berupa pengembangan wisata alam, penyerap polutan, dan penyimpan karbon yang tinggi.  Secara ekologi mangrove merupakan tempat berpijak aneka biota laut, dan tempat berlindung dan berkembang biak berbagai jenis fauna ekosistem payau.

Pada tahun 1998 awalnya masyarakat di kampung Batumbuk diberi lahan garapan oleh pemerintah dengan ukuran 200 x 500 meter persegi. Mulanya tidak banyak yang membuat tambak, namun seiring waktu banyak hutan dibuka untuk tambak. Tanggul tambak dibuat dengan alat berat dan dibuatkan sekat pintu air yang terkoneksi dengan sungai. Dengan memanfaatkan pasang surut dan gravitasi air di tambak dapat dikurangi atau di tambah.

Tambak digunakan untuk budidaya udang, ikan dan kepiting. Pemanenan udang dan ikan dilakukan dengan cara membuka pintu air saat surut, sehingga akan mengikuti arus air ke jaring yang sudah disiapkan di pintu air. Untuk kepiting dipanen dengan menggunakan alat perangkap setiap harinya.

Panen udang dilakukan empat atau lima kali setahun. Pengumpul datang dan membeli langsung dari mereka. Harga udang dan kepiting di lokasi tambak sekilonya Rp 90 ribu. Tergantung  jenis dan ukuran atau jumlah udang dalam tiap kilogram. Bahkan saat menjelang Natal dan tahun baru Imlek bisa mencapai Rp 150 ribu per kilogram. Rata-rata pengumpul berasal dari Tanjung Redep atau dari Tarakan. Selajutnya sebagian hasil tambak ini diekspor hingga ke Tawau Malaysia.

"Dulu saya kerja untuk menjaga tambak. Sekarang saya punya tambak sendiri. Sewa ekskavator bisa hutang dulu pada pemodal di Tanjung Redep.  Biaya sewanya Rp 55 ribu per meter untuk pengurugan tanggul," cerita salah seorang penjaga tambak. "Dulu hasil panen bisa mencapai 2 - 3 ton. Saat ini kurang tidak seperti dulu.”

Hari menjelang sore. Burung-burung laut terbang kembali ke daratan. Pertanda kami akan kembali ke kampung Batumbuk. Makan dengan menu gulai ikan, tumis udang dan terasi produksi kampung nelayan Delta Berau terasa begitu nikmat malam ini.

Keesokan paginya kami melanjutkan touring menuju kampung Pegat yang terletak di pulau yang berbeda. Gelombang belum terlalu tinggi saat kami berputar melewati laut. Pemandangan hutan mangrove yang didominasi Avicennia sp dan Sonneratia sp terlihat bagai benteng alami dari arah laut.  Satu-dua pohon tampak hampir roboh karena mungkin sudah tua dan terus-terusan menahan gelombang. Pada bagian daratan yang tidak tertutupi mangrove, dapat dilihat gejala abrasi atau pengikisan tanah oleh ombak.

Bagi masyarakat nelayan ikan tangkap, mangrove berfungsi sebagai penahan angin laut yang mendera kampung mereka. Di sini masyarakat mengolah hasil tangkapan laut untuk dijadikan ikan asin dan terasi. Terasi, ikan asin, udang dan kepiting segar adalah produk unggulan. Pengumpul langsung datang untuk membeli. Kapal pengumpul terasi biasanya berasal dari Lombok, tutur kepala kampung yang kami jumpai.

Kami tiba di Desa Buyung Buyung. Desa ini merupakan daerah penyangga dari program REDD+ yang akan dilakukan di Delta Berau. Selain terdapat hutan mangrove pada daerah pesisirnya, desa ini juga menjadi lumbung padi karena terdapat bukit yang menjadi sumber air untuk mengairi sawah. Sebuah tugu patung berbentuk udang besar akan dijumpai di tengah desa ini.

Setiap desa yang kami singgahi tampaknya punya khasanah yang berbeda. Jika hari ini kami mengunjungi desa-desa yang ada di bagian selatan Delta Berau, esoknya kami berencana mengunjungi bagian utara yaitu desa Teluk Semanting dan desa Batu Batu.

Saat akan kembali ke kampung Batumbuk, kami singgah ke beberapa tambak yang kami lewati. Tanda-tanda ada tambak yakni ada rumah panggung menyembul di antara pohon nipah. Beberapa petani tambak memang tinggal dan memiliki tambak sendiri, namun ada juga yang hanya tinggal dan bertugas menjaganya. Mereka membawa serta keluarganya.

Adalah pak Zainal asal Bugis, yang sejak mudanya sudah merantau hingga ke Jambi, lalu ke Berau yang menjadi salah satu petambak. Anak-anaknya kini juga telah berkeluarga dan memiliki tambak di Delta Berau. Selain merawat tambak kesehariannya juga menyadap air nira dari pohon nipah.

Pada kami dia menunjukkan bagaimana teknik menyadap air nira dan memilih tangkai buah nipah yang sudah matang dan siap menghasilkan air nira. Hanya menggunakan pisau dan botol-botol air mineral bekas sebagai penampungnya.

Fresh from the oven. Segelas air nira dari Nipah langsung saya teguk seketika saat ditawarkan.  Manisnya alami. "Kalau ada lagi saya mau beli dua botol besar," kata saya disambut tawa pak Handoyo dan pak Setyoko.

Melihat tambak milik Pak Zainal yang cukup luas, pikiran saya menerawang ke Muara Gembong di Bekasi, yang beberapa waktu sebelumnya saya datangi untuk kegiatan penghijauan. Problem umum hutan mangrove di Indonesia adalah faktor manusia, yaitu illegal logging, alih fungsi lahan (pertanian, perkebunan, tambak, sapras jalan, tambang, pemukiman, pelabuhan) dan pencemaran lingkungan. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas hutan mangrove di Indonesia adalah 19% dari total luas mangrove dunia, yaitu seluas 3,49 juta hektare. Dari luas tersebut, 1,67 juta hektare dalam kondisi baik dan 1,82 juta hektare dalam kondisi kritis.

Khusus untuk di Kalimantan, menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2010 luas mangrove mencapai 1,44 juta hektare dan tahun 2015 tersisa 828 ribu hektare, sehingga Persentase laju kerusakan mangrove di Kalimantan dalam 5 tahun mencapai 43 %. Memperhatikan angka tersebut, upaya konservasi dan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan mangrove, seperti di Delta Berau tampaknya sudah menjadi vital dan harus dilakukan.

Lamunan saya buyar karena Pak Zainal kembali dengan dua botol nira. Obrolan kemudian jadi soal hutan mangrove dan wisata Kalimantan. "Cuma sekitar dua jam saja naik perahu ke Pulau Derawan dari sini," tutur pak Setyoko.

Kondisi mangrove yang relatif baik, populasi bekantan yang dapat dijumpai di sini, dan akses jalan darat dan sungai yang sudah ada hingga kampung Teluk Semanting, tampaknya cukup sebagai modal awal untuk mengembangkan ekowisata terintegrasi dengan pulau Derawan dan sekitarnya.

Dari papan informasi kampung, saya mengetahui bahwa sejarah terbentuknya kampung Teluk Semanting diawali dengan menetapnya masyarakat di teluk Pangkul yang dipimpin dan dibangun oleh Kapitan Daeng yang berasal dari Sengkang, Sulawesi Selatan. Karena kondisi teluk Pangkul yang tidak memungkinkan lagi untuk ditempati, kemudian warga berpencar mencari tempat tinggal masing-masing. Masyarakat yang bermukim sejak tahun 1961 di Teluk Pangkul mulai beralih ke Teluk Semanting pada tahun1974. Karena tanahnya juga subur, selain berprofesi nelayan dan mengolah hasil ikan, masyarakat juga banyak yang melakukan aktivitas pertanian.

Menjelang siang kami melanjutkan eksplorasi ke kampung Batu Batu. Rumah-rumah penduduk memanjang di tepi Sungai. Di sini kami berkunjung ke rumah kepala kampung untuk ramah tamah. "Rata-rata pemuda di sini bekerja di dermaga muat batu bara atau pabrik. Sebagian besar juga nelayan. Sedangkan kaum perempuan lebih banyak di rumah dan bekerja menganyam atap dari daun nipah," ujar Kepala Kampung.

Atap daun nipah digunakan untuk berbagai keperluan seperti peternakan, atau atap warung. Pengumpul membeli dari masyarakat Rp 1200 lalu dijual ke Tanjung Redep seharga Rp 1500.

Perjalanan saya ke Delta Berau tampaknya harus diakhiri di Desa Batu batu. Sebelum sore kami kembali ke Tanjung Redep. Beberapa ekor bekantan tampak berkumpul dan bermain di atas pohon-pohon yang tersisa.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.