Perjalanan | Oktober-Desember 2019

Cerita Menemukan Gua Baru di Halmahera

Tim Ekspedisi Rimbawan Pecinta Alam (Rimpala) Fakultas Kehutanan IPB menemukan gua tak bernama di Halmahera. Mereka kemudian menamainya Gua Rimpala. Simak keseruan menemukannya.

Razi Aulia Rahman

Anggota redaksi, bekerja di perusahaan konsultan kehutanan.

EKPEDISI ini dipimpin seorang perempuan, Dewi Ayu Wulandari, dengan anggota empat laki-laki dan tiga perempuan. Mereka anggota Rimbawan Pencinta Alam Fakultas Kehutanan IPB. Nama ekspedisinya “Ekspedisi Tanah Seribu Pulau” karena lokasinya di Maluku.

Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, seribu di antaranya berada di Provinsi Maluku. Para rimbawan itu datang ke sana untuk inventarisasi dan pemetaan gua di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Maluku Utara. Taman Nasional yang ditetapkan pada tahun 2004 memiliki luas sekitar 167.000 hektare.

Ekspedisi itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, kurang lebih tiga pekan pada Juni-Juli 2015. Pemandangan Gunung Gamalama yang pertama menyambut kami di tanah Ternate sebelum pilot mendaratkan roda pesawat di Bandara Sultan Babullah. Perjalanan dilanjutkan dari Ternate menyeberang Sofifi di Pulau Halmahera, kota yang memiliki banyak dramaga. Tim membelah ombak lautan selama 2 jam di atas kapal feri.

Sesampainya di Sofifi, Ibu Kota Maluku Utara, kami menuju kantor balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kami perlu mengkonfirmasi izin ke kantor balai. Kepala Balai Taman Nasinonal Aketajawe, Sadtata Noor, menyambut kami dan langsung rapat koordinasi. Kami menginap dua hari semalam di Balai untuk berkoordinasi, mengecek ulang alat ekspedisi, perencanaan lokasi penelusuran gua, dan persiapan perbekalan lapangan.

Ekspedisi dimulai dari resor Akejira untuk mencapai desa terakhir sebelum memasuki kawasan hutan di Desa Kobe. Di taman nasional hidup suku-suku lokal, salah satunya suku Tobelo. Suku ini terbagi menjadi dua, Tobelo Luar dan Tobelo Dalam atau yang biasa dikenal dengan suku Togutil.

Pulau Halmahera dikelilingi oleh lautan,  sehingga masyarakat Tobelo memiliki keahlian dalam pemahatan kayu menjadi kapal dan berburu ikan menggunakan tombak. Perempuan suku Tobelo juga pandai membuat kerajinan tangan semperti anyaman bambu. Hal ini menjadi potensi wisata budaya yang menarik untuk disinergikan dengan ekowisata alam taman nasional.

Selama ekspedisi kami didampingi staf taman nasional dibantu beberapa orang lokal. Perjalanan menuju beragam gua sungguh terjal. Setiap orang memikul beban perbekalan dan alat ekspedisi yang beratnya bisa hampir 20 kilogram. Tetapi langkah kami terhibur oleh keramahan masyarakat dan hutan Halmahera yang memikat. Menjadi obat lelah setiap orang kala itu.

Gua pertama yang kami temukan adalah gua Mamara. Terletak di lembah dengan mulut gua berada di bawah bukit yang di sekitarnya ditumbuhi pohon dan pancang. Mulut gua cukup besar dengan lebar 4,5 meter dan tinggi 5 meter. Panjang gua ini 76,69 meter dan tergolong gua kering, dalam arti tidak ada aliran air.

Tanpa air dan ornamen-ornamen yang tidak berbentuk lagi, gua Mamara bisa dikategorikan sebagai gua fosil. ini. Gua ini menjadi sarang ratusan kelalawar dan burung walet.

Gua kedua adalah sua Simon di zona inti taman nasional. Gua Simon memiliki mulut gua yang cukup besar dengan lebar 7 meter dan tinggi atap 7 meter. Gua ini merupakan gua berair disepanjang lorong dengan debit 0,004 m³/detik, bahkan terdapat samp, genangan air yang menutupi lorong gua. Ada beberapa biota khas gua seperti laba-laba dan serangga air. Ornamen gua Simon masih sangat alami, dengan keindihan stalaktit dan stalakmit yang mengandung lapisan kristal. Kilauan cahaya keemasan dan perak dari stalaktit dan stalakmit itu terbentuk oleh bakteri dan fosfor.

Tim Ekspedisi Rimpala di depan Gua Mamara (Dok. Rimpala)

Di hari kedua kami menemukan gua Pikoy, gua ini dengan lorong yang besar namun pendek. Sayang sekali kami tak sempat memetakan gua ini karena sudah sore dan kami harus melanjutkan perjalanan. Keterbatasan waktu membuat tim hanya bisa mendokumentasikan gua dan menandai kordinatnya.

Tidak jauh dari gua Simon kami menemukan dua gua yang letaknya berdekatan, gua Maruku dan gua Yamul. Menurut bahasa lokal di Maluku Utara, marukur berarti “merunduk”. Nama ini sesuai dengan kondisi lorong gua yang pendek dan sempit. Lebar gua Maruku hanya 3,2 meter dan tinggi atap 2 meter. Masuk sedikit ke dalamnya akan ada dua lorong, satu menuju ke atas dan satu lorong utama. Dengan dua lorong ini membuat lorong dalam gua seperti bertingkat.

Gua maruku tidak memiliki aliran air. Namun, agaknya jika hujan air menggenang dan membanjiri lorong-lorongnya karena terlihat banyak serasah yang menempel di dinding dan atapnya.

Gua Mamara. Gua yang ditemukan pertama Tim Rimpala dalam ekspedisi ini (Dok. Rimpala)

Sementara nama Yamul diambil dari nama sebe, laki-laki yang mengantar kami dalam kawasan hutan ini. Yamul singkatan dari “Yakub-Maluku”. Gua Yamul memiliki dua mulut tembusan dengan lebar 6,5 meter dan tinggi atap 4,8 meter. Mulut gua tembusan pertama letaknya berhadapan langsung dengan mulut gua utama yaitu sejauh 14,65 meter. Mulut tembusan kedua terletak di ujung lorong utama gua yang panjangnya 24,95 meter dan tembus ke arah sungai.

Gua Wabulen adalah gua keenam kami temukan. Terletak di sebuah lembah di bawah tebing batu. Mulut gua langsung terhubung dengan chamber atau ruang gua, dan menjadi chamber terluas dengan ukuran diagonal 24,8 meter dan tinggi atap 15 meter. Setelah chamber ada  lorong kecil vertikal sedalam 2,9 meter yang tersambung ke lorong berlumpur setinggi lutut.

Gua ketujuh yang kami datangi adalah gua Pece. Pece berarti lumpur karena hampir seluruh lorong hingga dinding gua dipenuhi lumpur. Keunikan gua ini terdapat pada mulut gua yang berbentuk segitiga dengan lebar 6,5 meter dan tinggi atap 11 meter. Panjang gua Pece 109,17 meter.

Petualangan tim ekspedisi dari Rimpala tidak hanya berhenti di resor Akejira. Kami melanjutkan perjalanan pada hari keempat menuju resor Binagara. Kami mendapatkan informasi ada sebuah gua yang belum terpetakan dan tereksplorasi. Kami tertarik mendatanginya karena penasaran mengapa dari sekian banyak gua di sana ia belum punya nama?

Gua itu berada di pos terakhir di Desa Binagara, Halmahera Timur. Lokasinya berada dalam zona rimba kawasan taman nasional. Begitu memasukinya kami langsung disambut oleh suara khas penghuni gua: kelelawar, walet. Lorong gua ini vertikal pada mulut gua dengan kedalaman 9,5 meter dan total panjang gua 647,40 meter. Karena berdiri, air masuk ke dalamnya dengan debit 0,29 m³/detik. Kedalaman air di mulut gua mencapai lebih dari tiga meter. Kami harus memakai pelampung untuk memasukinya sebelum menyelam memasuki lorong-lorongnya.

Benar saja, gua itu belum punya nama dan tak ada dalam peta gua di taman nasional ini. Yakub dan staf taman nasional mengatakan tak ada nama untuk gua ini karena jarang ditemukan. Mereka menyilakan kami memberinya nama. Setelah berembuk, kami sepakat menamainya “gua Rimpala”—nama organisasi kami. Mereka setuju.

Secara filosofis, nama Rimpala juga sama dengan karakter gua ini: panjang, lorongnya berliku, vertikal. Rimpala adalah organisasi pencinta alam di Fahutan yang anggotanya kini tersebar di seluruh Indonesia dengan sejarah panjang ekspedisi sejak 1992. Karakter anggotanya juga beragam-ragam, para rimbawan dan pecinta alam yang gigih.

Dari gua Rimpala ini kami kembali. Rasa penasaran telah terobati dengan kegembiraan yang membuncah. Akhirnya kami bisa membuat jejak dalam dunia petualangan lewat penamaan sebuah gua cantik di Halmahera. Kami pulang kembali ke kantor taman nasional dengan perasaan yang sulit dilukiskan: bangga, gembira, kagum menjadi satu.

Gua Rimpala (Dok. Rimpala)

Di Halmahera kami juga sempat mengunjungi benteng Belanda zaman VOC, Benteng Fort Oranje. Benteng gagah yang masih berdiri tegak di Kota Ternate. Masjid Tarnate yang dibangun di tengah laut juga membius kagum mata kami, selain keindahan alam Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama dengan airnya yang hijau. Konon, apabila ada orang yang melempar sesuatu ke danau, bagaimanapun kuat lemparannya benda tersebut tidak akan menyentuh permukaan air danau.

Kotanya semakin cantik karena masih banyak dijumpai rumah-rumah khas Ternate. Banyak orang lalu lalang dengan membawa jala, juga ikan hasil tangkapan, yang meramaikan jual beli di pasar-pasar yang hangat dengan keramahan orang Ternate.

Ternate dan Sofifi adalah kota indah yang dikelilingi lautan. Penduduknya sebagian besar menjadi nelayan atau pembuat kapal memancing. Masyarakat di sana sangat pandai memancing ikan dan berburu, bahkan menangkap kelalawar pun cukup memakai tangan kosong tanpa jerat. Maka ikan dan kelelawar adalah menu makanan yang disajikan penduduk di sana.

Masyarakat di sini paham bagaimana berhubungan dengan alam. Mereka menentang segala bentuk perusakan terhadap lingkungan. Kedatangan Rimpala untuk melakukan ekspedisi disambut dengan baik oleh masyarakat. Mereka menyambut kami karena membantu pengetahuan tentang gua-gua di sana. “Saya bersyukur adik-adik dari Bogor datang ke sini untuk melindungi gua-gua yang ada di Halmahera,” kata Yakub.

-- seperti dituturkan tim Rimpala kepada Razi Aulia Rahman dari Forest Digest

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.