Perjalanan | April-Juni 2020

Bertandang ke Tau Lumbis: Desa Terujung Indonesia

Pengalaman berkunjung dan tinggal di desa Dayak Tau Lumbis di perbatasan Malaysia yang menjadi desa terujung Indonesia di utara. Penduduk terbiasa dengan kondangan antar-negara.

Lepi Asmala Dewi

Polisi hutan di Balai Taman Nasional Kayan Mentarang.

AWAL 2020 saya menempuh perjalanan mengesankan ke Tau Lumbis, sebuah desa unik di Kabupaten Nunukan, tepatnya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara. Tau Lumbis adalah bahasa Dayak Tahol, yang berarti akar (tau) dan datar (lumbis). Wilayah ini memang berupa tanah datar yang membentang.

Karena itu Tau Lumbis adalah sebuah wilayah yang menghimpun sepuluh desa: Tau Lumbis, Lipaga, Tetagas, Kalisun, Tuntulibing, Duyan, Bululaun Hulu, Mamasin, Sibalu, dan Kabungalor. Penduknya sebagian besar suku Dayak Tahol, sisanya orang Sulawesi dan Jawa. Mereka yang bukan suku Daya bekerja sebagai pegawai negeri atau guru di SMP.

Tau Lumbis berada di pinggir sungai. Memancing dan berburu pekerjaan utama masyarakat sini. Sungai adalah sumber kehidupan bagi mereka. Secara geografis, Tau Lumbis masuk Kecamatan Lumbis Hulu sejak 2019—sebelumnya Lumbis Ogong—dengan Desa Tau Lumbis sebagai ibu kotanya.

Walaupun ada 10 desa, perkampungan ini bukan tempat yang ramai. Satu desa hanya terdiri dari 15-30 kepala keluarga. Selain data yang masih kacau, banyak penduduk sini yang merantau ke Malaysia. Hanya dengan berjalan kaki selama empat jam penduduk bisa sampai Sabah, kota yang berbatasan dengan Nunukan. Beberapa kampung Malaysia yang sering mereka kunjungi yakni Kabu dan Sliliran.

Masyarakat Tau Lumbis dan Sabah memiliki garis keturunan yang sama karena perjalanan lintas negara itu sudah terjadi selama lama. Orang Dayak Tahol sampai ke Malaysia untuk mencari lokasi bercocok tanam dan bermukim. Di era modern, kekerabatan juga tak putus karena keturunan penduduk kawin-mawin antar dua wilayah. Akibatnya, di sini, kondangan antar-negara bukan sesuatu yang asing.

***

SAYA berangkat ke Tau Lumbis bersama dua teman pada 16 Maret 2020. Saya berangkat dari Malinau dengan bermobil menuju Desa Mansalong selaam 45 menit. Dari sini perjalanan berlanjut dengan kapal 6 meter berkapasitas 15-25 orang dengan ongkos sewa Rp 8-10 juta pulang pergi. Sebetulnya pemerintah menyediakan harga subsidi, tapi kapal yang mendapat potongan harga ini tak tentu jadwalnya.

Jarak Mansalong-Tau Lumbis menyusuri sungai sejauh 121 kilometer. Waktu tempuh tergantung jumlah penumpang. Tapi rata-rata 5-8 jam. Jika muatan berat dan ombak besar, bisa sampai 10 jam. Menurut sopir kapal kami perjalanan itu menghabiskan 280-300 liter sekali jalan.

Hari itu, pada pukul 10 pagi, penumpang hanya kami bertiga, tiga orang kerabat awak kapal yang jumlahnya tiga orang juga. Mereka anak sekolah SMA yang hendak pulang kampung karena libur. Air sungai juga sedang surut. Kapal ini tak dilengkapi atap sehingga panas menusuk hingga ubun-ubun. Sebelum kapal berjalan, sopir mengatur posisi duduk kami agar kapal seimbang dan membekali tiap penumpang dengan jaket pelampung.

Selain kami, kapal juga membawa sembilan bahan pokok pesanan toko di Tau Lumbis. Bahkan mereka membawa ayam hidup. Ketika perahu berjalan dan angin bertiup, bau kotorannya jadi aroma yang menemani perjalanan kami. Demikianlah distribusi pangan berjalan di Tau Lumbis-Masnalong. Karena kesulitan itu, harga-harga di Tau Lumbis lumayan mahal. Harga seliter minyak saja Rp 20 ribu—seperlima harga di Jawa.

Perahu sebagi alat transportasi menuju Tau Lumbis.

Di sepanjang jalan, pohon-pohon tropis berjajar di tepi sungai, juga bukti dan rumah beratap seng, serta pemakaman. Di tiap desa ada gapura bertuliskan “Selamat Datang”. Gerbang desa berada di bibir sungai karena sungai ini menjadi jalan raya mereka. Jarak antar desa lumayan jauh dan rumah penduduk kian sedikit. “Kadang satu desa isinya cuma 10 keluarga,” kata juru mudi kapal.

Sekitar pukul 1 kami tiba di Desa Labang. Tak ada rumah penduduk di sini, hanya ada satu pos jaga tentara yang diapit dua sungai. Sungai di kiri menuju Tau Lumbis dan kanan menuju Malaysia. Sungai menuju Tau Lumbis lumayan jernih, sementara sungai ke Malaysia kotor dan keruh. Di hulu pasti banyak kegiatan yang mengotori sungai ini.

Setelah Pos Labang, sungai menjadi lebih sempit dan berbatu. Tidak hanya batu ukuran kecil, akan tetapi batu-batu besar membentuk jeram sungai. Kapal memasuki sungai dengan melawan arus sehingga kami terguncang beberapa kali dan air sungai muncrat membasahi penumpang kapal. Saya baru paham sekarang kenapa waktu tempuh dipengaruhi kecakapan juru mudi.

Juru batu berteriak kepada juru mudi menunjuk jalur aman kapal. Meski sungai lebih sempit dan berbatu, pemandangannya lebih indah. Ada air terjun yang mengalir cukup deras dari dinding-dinding batu. Pohon-pohon juga semakin rapat, menjulang di tebing dan bukit. Burung air juga semakin ramai.

Sudah empat jam kami duduk di perahu. Kapal berjalan pelan. Juru mudi mengabarkan kami akan istirahat untuk makan. Ada tepi sungai yang longgar dengan pasir dan bebatuan kecil. Kami membuka bekal masing-masing. Meski telur dan sambal tempe, rasanya nikmat sekali.

Tiba-tiba juru mudi loncat ke sungai. Ia berenang di sana sambil tertawa gembira sekali. Aduh, di tengah terik begini mandi di sungai yang jernih rasanya segara sekali. Tapi saya tak bisa berenang. Jadi hanya melihat juru mudi dan juru batu mandi di sana.

Pelabuhan di Desa Masnalong.

Setelah 15 menit kami beristirahat, juru mudi menghidupkan kembali mesin perahu. Kami akan melanjutkan perjalanan. Mungkin dua jam lagi.

Angin sepoi, guncangan kecil, perut kenyang adalah kombinasi sempurna membuat mata mengantuk. Saya menyenderkan kepala ke tas dan terlelap begitu saja. Sesekali bangun karena terciprat air dan melihat penumpang lain juga terlelap di tempat duduknya masing-masing. Bahkan ada tidur rebahan di lantai kapal di sebelah ayam.

Hampir pukul tiga sore saat juru batu berteriak sebentar lagi kami tiba di Tau Lumbis. Di depan kami terlihat perkampungan yang cukup ramai. Perahu bersandar tepat pukul 15.15 WITA.

***

SELAMA di Tau Lumbis, kami bermalam di sebuah “istana” beratap dedaunan berdinding bambu. Istana itu berdiri di tepi sungai. Ukurannya tidak terlalu besar. Hanya sekitar 8 x 5 meter. Hanya ada ruang tamu, satu kamar, dan dapur. Pemiliknya menyulap ruang tamu menjadi sebuah kamar yang memiliki tiga tempat tidur, disesuaikan dengan jumlah kami. Kasurnya tidak terlalu besar, tapi tetap empuk. Bayangkan, mereka membawanya dari Masnalong!

Pemilik rumah ini adalah Panus, Kepala Desa Tau Lumbis. Pauns beristrikan Wasti, orang Madura yang tinggal di Jember, Jawa Timur. Sudah tujuh tahun Wasti tinggal di Tau Lumbis karena ikut suaminya. Ia pandai berbahasa Murud, bahasa Daya Tahol.

Masyarakat Tau Lumbis hampir seluruhnya bergantung pada hasil ladang. Mereka menanam padi, pisang, ubi sebagai bahan makan utama. Sebagian lagi buah-buahan, seperti durian dan rambutan. Lahan yang mereka garap adalah wilayah adat di sekitar desa. Wilayah tersebut sebagian besar berwujud perbukitan dan pegunungan. Jumlah dan luas ladang mereka beragam.

Rumah milik Kepala Desa Tau Lumbis yang dijadikan penginapan.

Menurut Panus, jumlah dan luas ladang sangat tergantung kemampuan dan kekuatan tiap orang. Rata-rata jumlah ladang 3-5 unit. Untuk pasangan yang baru menikah, mereka hanya memiliki satu unit ladang. Untuk keluarga berumur di atas 50 tahun mereka rata-rata 4-5 bahkan ada yang punya 20 jakau—sebutan untuk ladang.

Sistem berladang masyarakat Tau Lumbis adalah “gilir balik”, yakni membiarkan ladang yang sudah dipanen hasilnya pulih secara alami menjadi hutan kembali. Mereka menggarap lahan lain untuk membuat ladang baru di tahun berikutnya. Setelah ladang pertama pulih mereka akan kembali ke sana. Begitu seterusnya. Rotasi tergantung dengan jumlah jakau yang mampu mereka garap.

Cara berladangnya masih sangat tradisional: dimulai dengan menebas, mencacah, menyusun dan membakar ladang. Menebas kayu dan semak adalah langkah pertama untuk menyiapkan lahan. Setelah ditebas, kayu dan semak harus dicacah dan dikumpulkan sebelum dibakar. Proses ini dilakukan mulai bulan Juni-Agustus. Setelah itu masyarakat akan menugal atau memasukkan bibit padi ke dalam lubang tanah yang telah disiapkan.

Inilah perbedaan berladang padi di  gunung dengan sawah. Di sawah bibit padai disemai lebih dulu sebelum ditanam. Di ladang bulir padi langsung di tanam. Rata-rata satu jakau memerlukan 3-5 kaleng gabah kering.

Padi dipanen sekitar Februari-Maret. Gabah 3-5 kaleng itu menghasilkan 30-50 kaleng. Saat panen, suami istri bertukar peran. Jika menanam lebih banyak laki-laki, ketika panen semua perempuan turun ke ladang. Para suami malah di rumah menjaga anak.

Setelah dipanen, gabah dirontokkan secara manual dengan cara diinjak batang dan buahnya. Tak ada mesin perontok padi di desa ini. Setelah itu gabah dijemur dan digiling di mesin bantuan pemerintah kabupaten. Sepuluh kaleng gabah menghasilkan 5 kaleng beras. Jumlah ini cukup untuk makan sekeluarga hingga musim panen berikutnya.

Selain berladang, masyarakat Tau Lumbis juga senang mencari ikan dan berburu. Aktivitas ini banyak dilakukan kaum laki-laki. Mereka mencari ikan dengan cara memancing, menjala, memasang pukat, dan menembak. Jenis ikan yang biasa mereka konsumsi adalah salap, peliyan, dan baung. Hasil tangkapan ikan hanya untuk konsumsi sendiri atau untuk upacara adat. Lembaga adat melarang penduduk memakai racun atau setrum untuk menangkap ikan.

Untuk mendapatkan uang, masyarakat di Tau Lumbis biasanya mencari gaharu jauh ke dalam hutan. Sesepuh-sesepuh di Tau Lumbis mengatakan bahwa dulu mereka mencari gaharu dan cukup mudah menemukannya. Kini gaharu sulit didapat. Meski sudah 1-2 minggu masuk hutan mereka sama sekali tak menemukan gaharu. Rata-rata gaharu yang pernah mereka dapat sekitar 10-30 kilogram dengan harga Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per kilo.

Gaharu menjadi langka setelah ke hutan juga banyak pemburu yang datang dari luar. Mereka berada dalam hutan berbulan-bulan. Mereka membawa cukup bekal untuk tinggal di hutan. Tak hanya bersaing dengan penduduk lokal, pemburu gaharu luar juga menebang gaharu tanpa peduli kelestariannya. Hingga Lembaga Adat Lumbis Hulu menerbitkan surat larangan orang luar mencari gaharu di hutan Tau Lumbis.

Selain gaharu, pohon khas di sini adalah buah kelimbuku. Bentuknya mirip rambutan, hanya ukurannya lebih besar. Rambutnya juga lebih panjang dan rapat. Tangkai buahnya juga besar. Rasa dagingnya lebih manis dan tak bisa dilepas dari bijinya. Tinggi pohon kelimbuku juga hampir sama dengan rambutan. Bedanya pada bentuk daun yang lebih mirip matoa. Menurut beberapa penduduk, kelimbuku hampir langka di Kalimantan Utara.

Di Tau Lumbis juga ada air terjun yang terkenal. Namanya air terjun Simanuk. Dalam bahasa Dayak Tahol, manuk artinya ayam. Nama itu merujuk pada suara saat air terjun penuh, suaranya mirip kokok ayam.

Kelimbuku, buah khas Tau Lumbis yang mirip rambutan.

Jalan menuju ke sana melalui sungai dengan perahu ketinting. Dari tepi sungai kami harus berjalan kaki selama sepuluh menit menyusuri anak sungai. Air terjun mengalir dari tebingnya yang lebar.

Air terjun Simanuk memiliki tiga undakan. Undakan pertama airnya sangat deras tetapi tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar lima meter. Di sekitar undakan ini terdapat batu-batu besar yang rata dan luas. Dari undakan pertama kita bisa terus berjalan di antara bebatuan menuju undakan kedua. Di undakan kedua ini air terjunnya lebih tinggi walaupun aliran airnya lebih kecil dibandingkan undakan pertama. Ukurannya sekitar 15 meter.

Di undakan kedua juga masih dikelilingi batu-batu besar. Karena undakan kedua yang cukup tinggi membuat kami sulit menuju undakan ketiga. Sepertinya harus membutuhkan alat batu untuk memanjat ataupun memilih jalan memutar.

****

TIGA malam sudah kami bercengkerama dengan masyarakat Tau Lumbis termasuk menikmati keindahan alamnya. Air sungai saat kami pulang masih surut, meski hujan seharian. Bahkan sepertinya lebih surut dibandingkan saat kami berangkat tempo hari.

Baru beberapa jam perahu berjalan, juru mudi meminta kami turun karena air terlalu surut. Saya lihat penumpang lain berjalan sangat cepat menyusuri batu-batu sungai yang licin. Anak-anak bahkan dengan ringan meloncat-loncat. Kami tertinggal cukup jauh. Juru batu dan juru mudi menarik dan menuntun perahu melewati jeram. Apa yang mereka lakukan sangat berbahaya, apalagi mereka tidak dilengkapi alat keselamatan diri seperti pelampung. Ketika sungai mulai melebar, kami diminta naik kembali.

Sepanjang perjalanan pulang saya lebih banyak tidur hingga terbangun ketika juru mudi berteriak sambil menunjuk batu di sebelah paruh. Di situ anak buaya satu meter sedang berjemur. Terjawab sudah pertanyaan saya soal penghuni bawah sungai Tau Lumbis ini. Mereka ada dan menikmati habitatnya tanpa terganggu oleh kehadiran manusia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain