Untuk bumi yang lestari

Reportase|Oktober-Desember 2018

Kopi dan Konservasi adalah Sejoli

Di Kampung Cibulao, Puncak, masyarakat menanam kopi untuk merevitalisasi mata air Ciliwung. Ekonomi dan ekologi bisa serasi.

DI ketinggian 1.450 meter dari permukaan laut, aroma kopi menyeruak dari rumah-rumah penduduk di Kampung Cibulao, terbawa angin dan kabut yang merayap lereng-lereng kebun teh Puncak. Hanya satu jam dari Kota Bogor, Jawa Barat, inilah kampung halaman kopi nomor satu Indonesia versi Kontes Kopi Spesialti Indonesia VIII di Takengon Aceh pada 2016. 

Ada sekitar 30 hektare kebun kopi yang ditanam masyarakat Kampung Cibulao, separuh untuk kopi robusta dan separuh untuk arabika. Uap kopi yang saya hirup di bawah suhu 20 derajat Celcius ketika mendaki ke kampung itu salah satunya berasal dari rumah Kiryono. Ia anggota Kelompok Tani Hutan Kampung Cibulao. Ia adalah saksi hidup bagaimana penduduk kampung ini mengubah nasib secara mandiri.

Kampung ini dihuni 120 kepala keluarga. Nenek moyang mereka awalnya buruh pemetik teh milik Perhutani sejak zaman kolonial Belanda. Menurut Kiryono, menjadi buruh membuat hidup orang Kampung Cibulao tak beranjak dari garis kemiskinan. “Sudah bertahun-tahun yang lulus SMA cuma tiga orang,” katanya, dalam percakapan pada September lalu. 

Kiryono dan beberapa keluarga generasi keempat pemetik teh di kampung itu mulai berpikir hal lain. Mereka lihat banyak tanah telantar milik Perhutani di sekitar Telaga Saat, hutan lindung yang menjadi rumah mata air yang menjadi sumber Sungai Ciliwung. Dari danau inilah air bah tiap musim hujan yang menghumbalang Jakarta berasal.

20190104145439.jpg

Dengan inisiatif beberapa kepala keluarga pada 2004, dan seizin Perhutani, mereka mulai menanami kopi. Waktu itu, Yono dan teman-temanya hanya berpikir menghijaukan kembali hutan yang mulai botak di sekitar danau. Kampung mereka acap longsor dan pasokan air dari danau berkurang jika musim kemarau.

Pikiran Yono sederhana saja, jika Telaga Saat lebih hijau, dan danaunya dalam, ia akan lebih banyak menampung air sehingga limpahannya tak turun terlalu banyak menuju Laut Jawa. Sejak 1987, bukit-bukit mulai gersang karena tak lagi berpohon membuat tanah merungkup danau dan tak lagi menahan air hujan. Di Bogor, hujan seperti minum obat resep dokter: sehari bisa tiga kali tanpa jam yang pasti. 

Orang kampung yang hanya mengandalkan penghasilan menjadi buruh kebun teh mulai merambah hutan terutama ketika krisis moneter. Mereka mencari kayu bakar dengan masuk ke hutan-hutan lindung di puncak bukit. Mereka kucing-kucingan dengan polisi hutan yang berpatroli. 

Sejak perambahan meningkat, kualitas air danau juga memburuk. Capung makin sedikit hinggap di airnya. Perambahan itu terutama terjadi sejak krisis moneter, terutama jika ada kenaikan harga bahan bakar minyak. Orang Cibulao yang hidup sulit masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar karena harga minyak meroket.

Longsor pun tak terhindarkan. Hingga kini di Kampung Cibulao masih tampak bekas tanah-tanah longsor. Orang Cibulao tak sadar tanah longsor itu akibat perambahan mata air yang mereka lakukan. Tapi, umumnya mereka tak punya pilihan. Merambah hutan lindung adalah satu-satunya cara ketika tak ada penghasilan lain dari hutan di sekelilingnya. 

Sampai akhirnya, sampai suatu ketika di awal 2000, longsor dari bukit-bukit yang kerontang membuat penduduk Cibulao sadar mereka telah merusak rumah mereka sendiri dengan menebangi kayu di hutan. Orang seperti Yono dan penduduk lain lalu mulai terpikir menanami kembali bukit-bukit itu seraya menanam kopi—komoditas yang mereka kenal dan cocok dengan iklim daerah pegunungan itu. 

Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak, yang terdiri dari LPPM Pusat Studi Wilayah Institut Pertanian Bogor, Forest Watch, dan beberapa komunitas konservasionis juga datang ke Cibulao untuk mengajari cara menanam kopi sekaligus mengkonservasi DAS Ciliwung. Soalnya, di Titik Nol Ciliwung ini, juga bersemayam pohon-pohon dan satwa endemik Jawa Barat, seperti Surili dan Elang Jawa.

Maka selain membudidayakan kopi, masyarakat juga menanam pohon agar resapan air juga kian tinggi. Selain Telaga Saat, di kaki Gunung Pangrango juga terdapat Telaga Warna dan Telaga Gayonggong yang juga menjadi pusat penampungan air Sungai Ciliwung. Orang Cibulao mafhum, jika masih banyak capung berkeliaran di sekitar danau menunjukkan airnya masih bagus. 

Tahun 2004, telaga Saat (bahasa Sunda yang berarti kering) dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta. Penamaan itu merujuk pada pemerintahan Belanda yang mengeringkan danau ini dan mengubahnya menjadi kebun teh. Mereka membutuhkan komoditas untuk diekspor ke negaranya dari daerah jajahan ini.

20190104145503.jpg

Dinas PU Jakarta lalu mengeruk danau ini pada 2004. Kedatangan Dinas PU Jakarta yang datang untuk mengembalikan fungsi danau sebagai pengatur volume air Ciliwung, mendorong kesadaran masyarakat Cibulao akan fungsi telaga ini. “Kami jadi tahu danau yang kering membuat banjir di Jakarta,” kata Dili, penjaga telaga. “Sejak itu kami berharap dengan menghijaukan lahan di sekitar danau tak ada lagi banjir.” 

Yono menambahkan hingga kini 95 persen masyarakat sudah memiliki kesadaran menjaga hutan karena ketika telaga-telaga itu kering, mereka juga jadi kekurangan air. Desa-desa di sekitar telaga itu mengandalkan air untuk hidup mereka dari danau ini dengan mengalirkannya melalui pipa ke rumah-rumah. 

Panen pertama kopi penduduk terjadi pada 2008. Panen kopi tidak terlalu banyak karena baru hanya berasal dari 16 hektare lahan. Kedatangan para pendamping dari IPB dan lembaga swadaya membuat mereka belajar memproduksi biji kopi sendiri sehingga kopi yang dijual sudah dalam bentuk biji kopi siap pakai. 

Setelah paham bagaimana menanam dan memproduksi kopi, jumlah kopi yang dipanen pun pelan-pelan mulai naik. Menurut Jumpono, Ketua Kelompok Tani Cibulao, kini rata-rata satu pohon menghasilkan 7-10 kilogram kopi. Selain dijual di desa, para petani juga mengirimkannya ke Bogor. Kafe Ranin di Bogor adalah salah satu penampung dan penjual kopi Cibulao.

 Agar masyarakat lebih banyak tahu kopi Cibulao, mereka juga mulai mengembangkan ekowisata di daerah ini. Wisata Kebun Teh dan trek bersepeda mereka tawarkan kepada pengunjung yang mampir ke sana. Juga, tentu saja, pertunjukan mengolah kopi secara langsung. Yono dan Jumpono menyebutnya “konsep desa wisata edukasi konservasi”.

Dalam paket itu juga ada paket penginapan. Penduduk menyediakan kamar-kamar di rumah mereka bagi wisatawan yang bermalam. Pada pagi, mereka mengajak tamu-tamu berkeliling bukit dan naik ke lereng dengan sepeda untuk mengamati burung-burung khas yang ada di sana. 

Kebun-kebun kopi terbaik ada di puncak-puncak bukit. Mesti mendaki dengan jalan kaki ke sana menembus kabut dan gigil Puncak untuk menjangkaunya. Di sini, kopi adalah tanaman ketiga. Tanaman utama tetap pohon-pohon hutan seperti Rasamala, Puspa, atau Pasang. Kopi berada di bawah naungan pohon sengon atau dadap.

Menurut Yono, naungan itulah yang membentuk rasa yang khas kopi Cibulao, yang pekat dengan rasa asam yang menggantung. Ia menjual biji kopi yang dikemas lumayan rapi. Ia juga menyediakan kopi giling jika pembeli menginginkannya. Ia menuang kopi tubruk arabika untuk saya ketika kami terlibat percakapan soal sejarah kopi Cibulao ini.

LIHAT: Elang Jawa Kembali ke Sarangnya

Jumpono bercerita awalnya bukan perkara mudah bagi mereka menanam kopi dengan rasa yang khas hingga menjadi kopi terbaik di Indonesia. Ketiadaan pengetahuan, kemiskinan strategi, dan kefakiran menguasai rantai pasokan membuat para petani Cibulao asal-asalan menanam kopi dan menjualnya. Kedatangan para pendamping dari IPB dan LSM membuka wawasan mereka tentang bagaimana cara menghasilkan kopi yang bagus. 

Yono maupun Jumpono bersyukur bisa mengubah nasib mereka secara mandiri. Kini para petani di Cibulao tak lagi hanya mengandalkan penghasilan sebagai buruh pemetik teh. Mereka telah mandiri memiliki penghasilan sendiri dengan menjadi petani kopi. “Anak-anak juga bisa bersekolah lebih tinggi,” kata dia.

Telaga Saat, sementara itu, juga menjadi bersih kembali. Capung-capung kembali berkerumun di airnya yang tenang dan dalam. Jarang ada longsor. Rumah-rumah penduduk cukup mendapat pasokan air.

 Di Cibulao, kopi dan konservasi berjalan dengan serasi.

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain