Reportase | Mei-Juli 2017

Hutan Desa Sebagai Benteng Ekonomi di Perbatasan

Hutan desa menjadi andalan ekonomi masyarakat di perbatasan-perbatasan Indonesia. Mereka merawat hutan sekaligus agar bertahan di tengah perubahan iklim dan pemanasan global.

M. Khulfi Khalwani

Perencana di Biro Perencanaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

IA begitu saja bercerita. Tanpa berhenti. Laki-laki ini dipanggil Pak Aden.

"Dulu banyak hutan di kampung ini," katanya. "Awal tahun 2000-an, disini ramai-ramai orang menebang pohon. Kampung lain pun juga. Ribuan gelondong kayu dibawa menyeberang ke Malaysia lewat Badau pakai truk-truk besar. Pak Aden juga ikutan. Jalan di desa Mensiau ini, Pak Aden dulu ikut membuat."

"Wah berarti pak Aden ikut terlibat illegal logging juga?" kataku.

"Iya, tapi itu dulu. Sekarang Pak Aden bergabung dengan program Forclime. Tahun lalu bukit sebelah sudah pak Aden tanami karet, tekam dan gaharu. Sekarang yang ini baru pak aden tanami gaharu, karet, tekam, gamal, klengkeng, sahang atau lada, jagung, sayur-sayuran dan bumbu dapur lainnya. Di bawahnya mengalir sungai kecil. Pak Aden bendung sedikit, untuk kolam tempat pelihara ikan. Seperti yang diajarkan pak Tedja, Pak Aden ingin jadikan tempat ini sebagai demplot agar masyarakat bisa belajar agroforestri dan silvofisheri," ujar pak Aden sambil menunjuk hamparan lahan di depan kami.

“Sebelum masyarakat diajarkan cara menanam dan memupuk, sebagai fasilitator desa, Pak Aden harus menanam lebih dulu dan memberi contoh. Tahun lalu, untuk desa Mensiau ini, ada 29 ribu bibit tekam dan karet sudah kita bagikan. Semua kita tanam” lanjutnya sambil mengenakan kembali raga’ di punggungnya, tas keranjang rotan yang biasa ia pakai untuk mengangkut bibit.

"Super sekali."

Namanya Mardianus Aden, salah seorang fasilitator desa dalam proyek Demonstration Activity (DA) pengurangan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) Forclime FC di desa Mensiau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Tutur katanya yang lugas cukup memberikan gambaran orang desa yang memiliki tekad besar untuk maju dan berkembang.

Bukan suatu kebetulan jika semalam saya bisa menginap di Rumah Betang Suku Dayak Iban, di dusun Kelawik. Pak Aden dan isterinya, beserta 20-an kepala keluarga lain, tinggal bersama dan bersandingan. Pagi ini saya bisa ikut ke lahan kritis di desanya, yang mereka coba untuk bangun kembali.

Berawal dari acara pameran International Forest Day pada bulan Maret di Jakarta, saya berkenalan dengan teman-teman yang tergabung dalam National Programme Management Unit, Forclime FC. Sederet poster, brosur, buku serta video tentang upaya membangun hutan dan masyarakatnya di tiga kabupaten yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia di jantung Kalimantan menarik minat saya untuk menyambangi salah satunya. Maka sampailah saya di Putussibau. Sebuah kota kecil ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dua kali penerbangan untuk mencapainya dari Jakarta.

Di Putussibau, saya bertemu dengan Pak Sutedja selaku program advisor di wilayah Kapuas Hulu, dia menjelaskan tujuan dari proyekt Forclime FC adalah untuk melaksanakan strategi konservasi dan pengelolaan hutan lestari yang menghasilkan pengurangan emisi karbon (CO2) dari deforestasi dan degradasi hutan sebesar 400 ribu ton CO2. Namun demikian, sebenarnya tujuan utamanya tidak hanya itu, melainkan bagaimana agar hutan yang dulunya dirambah oleh pembalakan liar dan terbakar kini bisa dibangun kembali melalui mekanisme pembiayaan, dan sejalan dengan itu ekonomi masyarakat di desa juga tumbuh dan angka kesenjangan dapat berkurang, melalui peningkatan kapasitas masyarakat desa hutan, reboisasi dan penghijauan, agroforestri, pembinaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) serta penguatan kelembagaan.

"Ada dua lokasi DA di Kapuas Hulu, putaran yang pertama berada di sebelah utara. Untuk mencapainya kita bisa menggunakan mobil. Lokasinya meliputi 16 desa di 3 kecamatan, Embaloh Hilir, Embaloh Hulu dan Batang Lupar, dengan luas 170 Ribu ha. Lokasi ini merupakan daerah penyangga kawasan taman nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Lalu DA REDD+ putaran kedua berada di sebelah selatan di wilayah Siawan Belidak, yang mencakup 12 desa di 7 kecamatan mencakup area seluas 48 Ribu ha. Untuk mencapainya kita bisa menggunakan speed boat melintasi sungai Kapuas,” Pak Sutedja menerangkan.

Malam itu pun kami berlima, termasuk juru mudi, sepakat langsung menuju ke utara, lalu dua hari kemudian ke selatan. Maka sampailah kami di rumah Betang dusun Kelawik, desa Mensiau tempat pak Aden tinggal.

Setelah melihat lokasi pembibitan, areal penanaman dan demplot agroforestri di Desa Mensiau, lalu mandi di sungai Mensiau yang menjadi bagian dari mata air sungai Kapuas, kemudian makan pagi dengan menu organik khas kuliner dayak, akhirnya silaturahmi saya di dusun Kelawik ditutup dengan acara beruai (bahasa Iban) atau berkumpul bersama di aula rumah Betang yang memanjang. Tampak anak-anak sekolah dasar sudah bersiap dengan parang untuk kerja bakti di sekolahnya, di hari sabtu yang cerah ini.

Tatap muka dan diskusi dengan warga dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan di aula rumah Betang menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Bukan untuk mengajar, melainkan mendengar. Begitulah saya utarakan niat pada mereka. Cerita pun mengalir. Bagaimana semua merasa bersyukur akan manfaat program Forclime. Dengan bangga mereka bercerita bahwa sebentar lagi hutan desa Mensiau akan mendapatkan surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mereka telah melakukan penataan batas desa secara partisipatif. Mereka juga telah menyusun rencana pengelolaan yang akan dilakukan. Mulai dari inventarisasi, reboisasi, pemanenan HHBK, sampai strategi pemasaran dan bahkan patroli bersama. Mereka merancang peraturan desa, pelatihan administrasi dan keuangan. Semua difasilitasi oleh program Forclime. Sebuah jalan panjang untuk memantapkan akses kelola hutan oleh masyarakat.

Tak terasa siang menjelang. Sebuah kain selendang kas dayak dengan pewarna alam, yang biasa dijual seharga 50 Ringgit kepada turis dari Malaysia, menjadi oleh-oleh yang saya beli dari sini.

Dari rumah Betang di dusun Kelawik kami berpindah kemudi melewati jalan berbatu menuju rumah betang di dusun Entebuluh. Lokasinya lebih jauh ke dalam dari jalan lintas utama. Aktivitas warga yang sedang menjemur bulir padi hasil panen dari ladang terhenti sejenak, berganti senyum ramah menyambut kami. Bahasa lokal iban, asap tembakau, aroma kopi dan gaharu, tumpukan hasil panen, pria tua bertato, seakan memberi kesan keakraban yang magis bagi saya, saat beruai di rumah betang di bawah bukit berhutan desa Mensiau. Cerita pengalaman dan harapan, mereka tautkan terhadap program ini.

“Belum lama ini Presiden Jokowi juga ke sini meresmikan Pos Lintas Batas Negara di Badau. Dia tidak mau naik helikopter. Tapi naik mobil seperti kita," cerita Feri, juru mudi kami, saat meninggalkan dusun Entebuluh menuju titik berikutnya, hutan desa Tamao dan hutan desa Banua Ujung.
"Kalau Pak Jokowi saja sudah ke sana, berarti kita juga singgah kesana," kataku.

Benar saja, tidak sampai satu jam melewati jalan yang relatif sudah lebih baik, kami sampai di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau yang baru diresmikan oleh Presiden. Kemegahan bangunan fisik pos ini seakan menjadi simbol penguatan ekonomi masyarakat di perbatasan.

Hanya saya dan Feri yang membawa paspor. Setelah melewati pemeriksaan yang tidak begitu ketat, kami sempatkan melintas ke Lubok Antu, Serawak, sekedar untuk melihat-lihat rumput tetangga.

Sama halnya dengan Pak Aden di masa mudanya, rata-rata hampir sepertiga masyarakat angkatan kerja di desa melakukan migrasi ke negara tetangga untuk mencari kerja. Banyak dari mereka yang menjadi tenaga kerja konstruksi, kebun sawit, hutan produksi, berdagang, atau tenaga kerja informal lainnya. Saat gawai atau pesta panen dan hari-hari libur besar agama mereka pulang.

Melalui program hutan sosial, termasuk hutan desa yang didampingi Forclime, tentunya besar harapan untuk bisa meningkatkan daya saing masyarakat desa dan menyerap tenaga kerja di Kapuas Hulu, yang sudah dicanangkan sebagai kabupaten konservasi. Sehingga simbol penguatan ekonomi di perbatasan tidak hanya sebatas fisik saja, melainkan juga pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar hutan.

Dari Badau kami menuju ke hutan desa Banua Ujung, desa Tamao, desa Labian, desa Labian Ira’ang dan desa Lanjak Deras. Sambutan ramah selalu kami terima dari masyarakat yang ikut menerima program ini, termasuk Kepala Desa, LMDH, fasilitator desa. Disini masyarakat menanam jenis tekam Shorea collina, keladan Dipterocarpus gracillis, puri Mitragyna speciosa, kopi Coffea sp, kakao Theobroma cacao, karet Hevea brasiliensis, gamal Gliricidia sepium dan gaharu Aquilaria sp.

Meski begitu, tidak berarti tidak ada kendala dalam program hutan dan perubahan iklim ini. Berdasarkan informasi dari masyarakat sendiri, tidak jarang dari mereka yang masih kurang semangat untuk menanam hutan kembali. Hal ini karena mereka sudah terbiasa memungut semua dari alam. Alam sudah menyediakan semuanya. Untuk itu pendampingan dan sosialisasi harus terus dilakukan, karena zaman telah berubah.

Jika dulu mereka bergantung pada hutan, saat ini hutan bergantung pada mereka. Lahan yang produktif harus terus dibangun tanpa mengabaikan kearifan tradisional. Maka akses kelola hutan desa dan akses pasar adalah jawabannya.

Cerita dari masyarakat Desa Tamao saat obrolan malam kami, proyek pemerintah yang bersifat top down kadang sulit diterima oleh mereka. Sebagai contoh pencetakan sawah baru, lahan yang dipakai kurang berkenan oleh lembaga adat. Irigasinya masih kurang mendukung. Lapisan tanah bagian atas untuk lahan sawah di garuk ke sisi samping dengan alat berat. Padahal menurut masyarakat lapisan inilah yang subur. Akhirnya masyarakat enggan menanam dan bantuan pupuk dari pemerintah pusat pun menumpuk di depan kantor kepala desa yang sempat saya singgahi. Benar atau tidaknya cerita tersebut, setidaknya bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah yang berniat membantu masyarakat.

Hanya dua malam kami kembali ke Putusibau. Selanjutnya kami mulai perjalanan naik speedboat ke lokasi DA REDD+ putaran kedua di wilayah Siawan Belidak, dari dermaga di sungai Kapuas, tepat di seberang depan rumah dinas Bupati Kapuas Hulu.

Perlu waktu 2 setengah jam untuk mencapai desa Bunut Hulu dan desa Bunut Tengah, kecamatan Bunut Hilir. Secara umum kondisi fisik topografi areal DA REDD+ Siawan Belidak adalah dataran rendah berupa 30 % rawa gambut, 60 % area pasang surut dan 10 % perairan. Rumah-rumah penduduk dibangun menggunakan tiang-tiang kayu di tas sungai atau di atas area pasang surut. Mayoritas masyarakat mengandalakan sektor perikanan dan hasil hutan di Siawan Belidak.

Memancing ikan di perairan danau Pontu, Siawan Belidak, lalu membakarnya dan menyantapnya dengan sambal kecap di atas pondok nelayan di dusun Perdak, adalah paket makan siang kelas atas yang mungkin jarang bisa saya alami di Ibukota.

Selain untuk konsumsi dan dijual segar pada pengepul, masyarakat nelayan menangkap ikan di danau dan sungai lalu mengolahnya menjadi ikan salai dengan cara pengasapan. Ikan salai dijual seharga Rp 120 ribu per kilogram untuk jenis ikan lais dan Rp 80 ribu per kilogram untuk jenis ikan pati. Untuk mengasapi 1 kilogram ikan salai sehari semalam perlu sekitar 10 potong kayu bakar. Kayu bakar berasal dari hutan di sekitar danau dan sungai baik dari jenis kayu kamsia, resak atau kawi.

Di sisi lain, jenis-jenis pohon untuk kayu bakar biasa tumbuh dengan Pohon belanti Croton laevifolius dan Putat Planchonia valida dalam kesatuan ekosistem. Pohon-pohon tersebut merupakan tempat bilah kayu medang Litsea sp biasa dipasang, sebagai dudukan ratu lebah dan pasukannya membuat sarang. Dengan cara ini masyarakat menunggu lebah bersarang untuk kemudian dipanen sebagian sarang untuk diambil madunya. Kelestarian hutan Siawan Belidak adalah kelestarian madu, kelestarian air sungai dan danau, kelestarian ikan-ikan, kelestarian kayu bakar dan kelestarian kehidupan masyarakatnya.

Investasi yang dilakukan oleh Forclime di desa ini ialah dengan memberikan bantuan alat pengolah ikan salai/oven pengasapan yang efisien kayu bakar, alat pengolahan madu tikung, pelatihan-pelatihan dan membangun pembibitan untuk terus menghijaukan kembali hutan di sekitar siawan belidak.

Desa-desa yang saya datangi memiliki keunikan dan cerita tersendiri. Sehingga bentuk investasi yang dilakukan Forclime FC tampaknya juga memperhatikan kekhasan tersebut. Di Desa Kapuas Raya saya menjumpai ibu-ibu yang sedang menganyam rotan yang ia ambil dari hutan desa di belakang kampungnya.

Di desa ini potensi rotan dan panganan olahan dari ikan seperti kerupuk basah sangat strategis dikembangkan sebagai investasi pada masyarakat agar tekanan terhadap sumber daya hutan berbasis kayu berkurang. Sama halnya dengan desa Pala Pintas, kecamatan Embaloh Hilir yang juga saya kunjungi, selain potensi rotan dan ikan, masyarakat juga mengandalkan pohon Karet dan pohon Puri untuk meningkatkan pendapatan. Teknik silvikultur terhadap jenis-jenis ini dikembangkan sebagai strategi membangun hutan dan pengendalian perubahan iklim.

Tidak terasa empat malam di Kapuas Hulu memberikan segudang pelajaran yang saya sendiri bingung untuk merangkumnya. Karena hubungan hutan dan masyarakatnya begitu kompleks untuk diceritakan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain