Reportase | Oktober-Desember 2018

Pengalaman Membangun Perhutanan Sosial

Reportase partisipatif mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB dalam Environomic Social Mapping yang menjadi bagian National Environment & Social Talk (NEST) 2018 oleh Forest Management Students’ Club (FMSC) dari Kerinci, Jambi. Kegiatan ini didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pusat Informasi Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB, Departemen Manajemen Hutan IPB, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB.

Nugraha Akbar Nurrohmat

Mahasiswa Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB

SEBANYAK 30 mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB anggota Forest Management Students’ Club tiba di Kabupaten Kerinci, Jambi, pada 21 Agustus 2018. Mereka akan tinggal di beberapa desa di kabupaten itu selama 10 hari untuk mengamati praktik perhutanan sosial. Perhutanan sosial adalah pendekatan baru, meski pun praktiknya sudah lama ada, dalam pengelolaan hutan yang lestari.

Ada enam desa yang menjadi lokasi perhutanan sosial yang diampu Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Kerinci Unit I. Perhutanan sosial merupakan upaya pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi melalui tiga pilar, yaitu lahan, kesempatan uaha dan sumberdaya manusia. Untuk memetakan pola perhutanan sosial di Kerinci kami membagi diri dalam enam kelompok, agar tiap kelompok bisa meneliti satu desa.

Enam desa itu adalah Desa Pungut Mudik, Desa Pengasi Lama, Desa Pasar Minggu, Desa Sungai Renah, Desa Sungai Dalam dan Desa Danau Tinggi. Penelitian di tiap desa didampingi oleh seorang penyuluh.

Pengumpulan data primer meliputi observasi lapangan dan wawancara terhadap kepala desa, kepala adat, juga masyarakat desa. Data sekunder berasal dari instansi terkait. Analisisnya memakai analisis deskriptif untuk menjelaskan karakteristik enam desa lokasi pembangunan perhutanan sosial melalui kajian PRA (Participatory Rural Appraisal) menggunakan teknik penelusuran desa dengan lintasan garis lurus.

Kabupaten Kerinci umumnya memiliki kawasan hutan yang rimbun dilengkapi dengan ladang-ladang masyarakat yang ditanam beraneka tanaman, seperti kopi, kayu manis , teh, yang menjadi komoditas utama masyarakat kerinci. Selain tanaman yang beragam dan tumbuh subur, kerinci masih memiliki satwa dilindungi. Dalam perjalanan ground check kami melihat beberapa monyet ekor panjang dan siamang yang sedang bergelantungan di pohon. Juga jejak-jejak harimau dan bekas cakaran beruang.

Desa Pungut Mudik merupakan sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Kerinci. Secara administratif desa ini terletak di Kecamatan Air Hangat Timur, dua jam perjalanan memakai mobil dari Kota Sungai Penuh. Desa ini belum terjangkau jaringan telepon dan internet. Kami harus meyakinkan masyarakat di sana agar menerima kami untuk tujuan penelitian.

Dalam ground check dan analisis potensi wilayah tim peneliti harus menempuh perjalanan 10 kilometer dari desa menuju ladang. Kami harus menginap tiga malam di rumah ladang milik penduduk.

Hari pertama di lapangan dimulai dengan kegiatan ground check pada pukul 14.00 WIB. Kegiatan tersebut melewati ladang-ladang, semak belukar, dan hutan dengan bantuan penunjuk arah dari GPS dan aplikasi Avenza Map. Karena bertepatan dengan hari raya Idul Adha, banyak pemilik dan penggarap ladang yang pulang ke kampung. Hal ini membuat tim gagal wawancara pada hari pertama.

20190104142258.png

Karena itu wawancara dilakukan di desa, sekaligus sosialisasi perhutanan social serta pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH). Kegiatan ini makan waktu empat hari. Sosialisasi dilakukan dengan metode purposive sampling dengan cara mendatangi setiap rumah  (door to door). Selain wawancara, tim beserta pemandu lapang juga mensosialisasikan perhutanan sosial sekaligus mengundang masyarakat untuk ikut diskusi pembentukan KTH.

Pekerjaan utama masyarakat desa adalah petani ladang dengan menanam kayu manis, kopi dan sayuran. Kayu manis merupakan investasi masyarakat desa Pungut Mudik, karena pohon ini baru bisa dipanen setelah usia 15-20 tahun. Sekali panen penduduk mendapatkan ratusan bahkan miliar rupiah. Sambil menunggu waktu panen kayu manis, masyarakat menanami lahan mereka dengan tumbuhan kopi dan sayuran seperti kentang, terong, cabai, memakai sistem agroforestri atau tumpangsari.

Perladangan dengan sistem agroforestry ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat karena menghasilkan lebih dari satu pendapatan di lahan yang sama. Sistem ini juga menjadikan nilai perkapita masyarakat desa Pungut Mudik menjadi tinggi. Hasil berladang kayu manis, kopi dan sayuran digunakan juga untuk meningkatkan pendidikan anak-anak sampai jenjang pekuliahan sehingga banyak masyarakat yang memiliki gelar sarjana.

Masyarakat desa ini memiliki kearifan yang sangat tinggi, khususnya dalam berkomunikasi satu sama lain. Karena belum ada telepon, komunikasi antar penduduk dilakukan secara tatap muka. Ini yang membuat masyarakat Pungut Mudik menjadi guyub.

Desa Pengasi Lama adalah desa yang memiliki jarak tempuh yang paling dekat dari dari Kota Sungai Penuh. Melewati Danau Kerinci, hanya perlu 30 menit berkendara untuk mencapainya. Hidup masyarakat desa ini bergantung kepada hasil hutan. Tanah yang subur membuat berbagai tanaman dapat tumbuh dengan baik. Berbagai komoditas tanaman hutan dan non hutan menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Kopi, arabika maupun robusta, merupakan salah satu komoditas dominan yang ditanam di lahan milik masyarakat yang tinggal di ketinggian 800-1500 meter dari permukaan laut.

Desa ini masih kental dengan adat. Hukum adat masih kuat dan dijaga serta dipatuhi oleh masyarakat. Salah satu kegiatan adat adalah kenduri. Kenduri pusaka adalah mengumpulkan semua pusaka untuk disucikan atau dibersihkan oleh para suku atau kepala adat  yang disaksikan oleh seluruh masyarakat desa. Acara dilakukan pada malam hari dimulai pukul 21.00 sampai dengan pukul 23.00.

Rumah masyarakat Desa Pengasi Lama sangat unik, masih sangat tradisional yang terbuat dari kayu, berbentuk seperti rumah panggung yang tangga menuju rumah di lantai ke duanya berada di luar rumah tepatnya disamping atau di depan rumah. Lantai satu rumahnya biasanya digunakan untuk menyimpan berbagai hasil panen seperti padi.

Desa Pengasi Lama yang awalnya merupakan bagian dari Desa Pengasi yang kemudian memekarkan diri menjadi Desa Pengasi Lama dan Desa Pengasi Baru. Topografi Desa Pengasi lama didominasi perbukitan. Hutan yang semulanya akan diajukan dalam skema Hutan Desa mengalami perubahan skema dengan berbagai pertimbangan dari pihak masyarakat Desa Pengasi  Lama. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah masyarakat Desa Pengasi Lama melihat Desa Pengasi Baru yang wilayah hutannya dialokasikan menjadi Hutan Adat sebagai percontohan yang baik.

Melalui musyawarah tokoh masyarakat Desa Pengasi Lama, mereka bersepakat membentuk Hutan Adat, setelah mendapatkan penjelasan manfaatnya. Mereka tak sabar mengelolanya.

Desa Pasar Minggu merupakan salah satu desa di Kabupaten Kerinci yang dihuni oleh 1.031 jiwa dengan luas 120 hektare. Penduduknya banyak keturunan Jawa. Alamnya sejuk dengan hamparan kebun teh Kayu Aro dan kebun kopi, kentang, kulit manis, dan sayur-sayuran menambah kesan yang menyenangkan.

Berdasarkan kesepakatan dengan warga Desa Pasar Minggu, mereka akan menerapkan skema hutan kemasyarakatan. Berdasarkan hasil pemetaan area, HKm akan dibuka pada areal seluas 112 hektare.

Masyarakat Desa Pasar Minggu umumnya baru mendengar istilah perhutanan sosial. Saat diskusi mereka antusias bertanya soal pemanfaatannya. Mereka cemas perhutanan sosial merupakan program pemerintah untuk mengambil alih ladang mereka. Setelah mendapat penjelasan mereka beramai-ramai mengajukan ladangnya masuk skema HKm.

20190104142324.png

Sementara di Desa Sungai Renah rata rata bermata pencarian penduduknya sebagai pekebun di tanah milik sendiri. Infrastruktur desa terbilang cukup baik dan sangat layak. Di Desa Sungai Renah pernah diprogramkan skema yang serupa dengan perhutanan sosial tetapi tidak berkelanjutan, sehingga antusiasme masyarakat menurun untuk program yang serupa. Karena itu mereka kurang antusias ketika kami akan menggelar sosialisasi perhutanan sosial.       

Di Desa Sungai Dalam yang berada di Kecamatan Kayu Aro, topografinya agak sulit ketika ground check karena lahannya didominasi rawa. Rawa belum dimanfaatkan oleh warga desa karena belum mereka tak pernah mengukur kedalamannya. Masyarakat belum sepenuhnya mengerti tentang perhutanan sosial dan pentingnya hutan bagi mereka. Butuh pendekatan ekstra kepada mereka agar mau menerima sosialisasi perhutanan sosial.

Skema hutan kemasyarakatan juga diajukan untuk perhutanan sosial di Desa Danau Tinggi, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Masyarakat desa ini antusias terhadap program perhutanan social. Masalahnya sebagian besar ladang mereka berada di taman nasional sehingga hanya sedikit ladang yang diterima untuk skema ini.

Tiara Fajar Cahyani, Nafa Nurkhalifa

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.