Kolom | April-Juni 2020

Kota Sebagai Teater Semesta

Kota adalah sebuah rendezvous. Membangunnya dengan sistem tertutup hanya akan menciptakan sekat yang membelah manusia ke dalam segregasi kebudayaan sehingga tak menciptakan sebuah ruang yang hidup, sebuah teater.

Robertus Robet

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta

KOTA adalah sebuah sistem ruang kehidupan yang terbuka. Namun kini oleh kekuasaan ekonomi dan birokrasi, kota sering dipandang dan diperlakukan sebagai sistem yang tertutup. Pandangan dan perlakuan ini melupakan hakikat kota sebagai kota manusia: city-citizen-civility.

Dengan cara pandang seperti itu, kota pun dibangun dengan istilah yang kaku semacam “perencanaan kota”. Kekakuan dalam membayangkan kota ini, menghasilkan perlakuan dengan sistem tertutup, meminjam istilah Richard Sennett. Seluruh ritme kehidupan di dalam kota dideterminasi oleh satu rezim perencanaan. Akibatnya, kota-kota tumbuh dalam ketertataan tapi homogen.

Sistem yang tertutup juga membuat kota membentuk boundary (batasan-batasan yang kaku, pongah), segregatif. Ini tampak dalam sistem zonasi kota yang sering kali mengabaikan kemungkinan perubahan, variasi dan kreativitas dalam pertumbuhan kota. Dalam bentuk permukiman, gejala over-determinasi kehidupan kota juga muncul dalam pelbagai bentuk gated community, komunitas yang secara paradoksal membangun tembok satu sama lain.

Kota yang demikian adalah kota yang mati, padat namun tidak memberikan potensi bagi kejutan-kejutan, pertemuan-pertemuan baru dalam kehidupan. Padahal kota, kata urbanis Jane Jacobs, harus padat tapi sekaligus ragam (dense and diverse). Apa maksudnya dan apa ukuran kondisi yang padat tapi diverse itu?

Pertama, fisikalitasnya harus memungkinkan dan harus bisa mendorong terjadinya pertemuan-pertemuan tak terduga antar manusia. Kota mensponsori kesempatan untuk discovery: penjelajahan dan penemuan baru dalam hidup warganya. Sehat, higienis, dan rapi, adalah kondisi-kondisi yang mudah dibuat untuk sebuah kota. Bangun saja pemukiman kelas atas, otomatis Anda akan mendapatkan kondisi rapi dan higienis. Tapi kota tidak bisa dibangun dengan kondisi-fisik yang demikian terbatas, bias dan terdeterminasi dengan ketat.

Kedua, kota, kata Jane Jacobs, harus bisa menghidupkan previledges spontaneous combustion: kerumunan-kerumunan yang bersama secara informal, di mana mereka saling bersaing, bergosip, berinovasi, bercengkerama. Kepadatan fisik dan material kota justru merupakan sumber stimulus untuk pertemuan-pertemuan dan keintiman sosial.

Richard Sennet memformulasikan tiga jalan untuk mencapai kota yang terbuka yakni: design yang melibatkan penciptaan batasan-batasan yang ambigu antar tiap bagian dari kota (tidak kaku). Ide tentang kota harus selalu menyisakan skema yang tak total dalam bentuk bangunan, perencanaan, dan ‘unresolved narratives’ dari pembangunan kota. Dengan itu peluang agar kota bisa tumbuh selalu tersedia.

Kota Sebagai Teater Dunia

Belakangan ini muncul istilah tekno-urbanisme sebagai upaya untuk melihat pertautan kota, teknologi, dan seni/budaya. Istilah ini sebenarnya redundant. Secara generik, teknologi dan seni sebenarnya secara inheren sudah ada di dalam konsep kota. Kota atau city, memiliki akar kata yang sama dengan Citizen, Culture dan Civility, yakni colere (mencocok tanamkan). Dengan demikian kota sebenarnya tumbuh, dihidupi dalam kesatuan pengalaman bersama manusianya atau warganya, kebudayaannya (seni dan teknologi termasuk di dalamnya) dan peradaban.

Jadi, sedari awal, kota adalah kesatuan pelbagai ruang kehidupan (lived space). Di dalam kota tumbuh livelyhood berupa kebutuhan human settlement, air, udara, lingkungan, tapi di dalamnya juga tumbuh praktik penunjang kehidupan seperti ekonomi, industri politik, dan kebudayaan yang bermacam-macam. Rezim ruang yang dimotivasi oleh pelbagai kekuatan (modal dan politik) yang kemudian mendeterminasi kota sebagai sistem ruang kehidupan dan peradaban itu ke dalam partikel-partikel zonasi yang kaku dan tertutup.

Kota tertutup vs kota terbuka.

Rezim ruang dan determinasi berujung zonasi inilah yang kemudian membelah dan memisahkan teknologi, kebudayaan, seni, peradaban dan estetika dari kota, termasuk membelah manusianya ke dalam kantung-kantung dan atom-atom yang terpisah.

Ini yang mengakibatkan hilangnya “shared code of civility”, hilangnya kode-kode keadaban yang dibagi bersama di hadapan individualisme. Hilangnya kemampuan untuk mengenali dan keberanian untuk terlibat dengan yang asing, engaged with strangers. Kota kehilangan kemampuan menyediakan dirinya sebagai sarana di mana orang becomes whole through open encounter with difference. Orang dapat menemukan dirinya melalui perjumpaan dengan yang lain.

Menyangkut kebersatuan kota dengan peradaban, Sennet merujuk apa yang disebut dengan kota sebagai Theatrum Mundi.  Istilah ini merujuk pada konsep Renaissance, yang dipelopori  seorang arsitek bernama Sebastiono Serlio. Ia menyerukan agar setiap kota menghapus batasan dan menarik garis paralel antara panggung dan jalan-jalan, antara keseharian dengan performa artistik dan artifisial.

Pandangan artistik Renaissance ini mirip dengan prinsip artistik Jacques Ranciere yang menekankan bahwa seni justru terekspresikan dalam kemampuan untuk menjebol partisi-partisi sosial. Di sinilah dibangun suatu upaya dengan memanfaatkan enersi dan vitalitas urban dari pelbagai aktivitas, nilai-nilai untuk membangun praktik-praktik artistik. Kehidupan kota dan kehidupan artistik ada dalam satu kesatuan. Menikmati kota adalah menikmati pengalaman artistik sekaligus. Inilah yang hilang dari kota-kota kita saat ini, atau bahkan tidak pernah tumbuh dalam kota-kota di Indonesia.

Dari Oikos Menjadi Polis

Untuk memahami kesatuan inheren kota, teknologi, adab dan seni, kita juga perlu memahami sejarah bagaimana kota itu muncul. Kota diawali dengan evolusi manusia untuk bisa mengadaptasikan diri dengan lingkungan secara lebih tetap. Sebab kota ada karena manusia menetap.

Kemampuan manusia untuk menetap ini diprovokasi oleh sifat-sifat alamiah dari tanaman (sementara hewan memprovokasi manusia untuk terus berpindah), yakni ketika manusia menemukan pola tanaman pangan yang bisa dibudidayakan (dicocoktanamkan, colere), dipanen, dan disimpan sebagai cadangan. Inilah sistem pendukung kehidupan utama yang diperoleh manusia.

Seni dan teknologi ditemukan secara efektif di sini. Misalnya tembikar, dan alat-alat untuk menyimpan, mewadahi kelebihan makanan. Di sini seni dan teknologi awal berfungsi untuk menyediakan dukungan sistemik agar manusia menetap dan bertahan. Tanpa alat-alat itu manusia tidak memiliki sarana apa pun untuk menyimpan cadangan kebutuhan hidup. Tanpa alat-alat itu manusia sulit menetap di satu tempat. Dengan demikian tanpa teknologi dan budaya tidak mungkin manusia membentuk kota.

Dari sinilah kemudian tumbuh unsur utama pembentuk kota yakni “oikos”. Jo Santoso menekankan bahwa oikos sebagai kesatuan teritoral tempat produksi dan reproduksi sebuah kelompok masyarakat yang berlangsung dengan baik dan berkelanjutan. Oikos memiliki empat aspek yang disebut 4H, yakni:

  1. Humus, tempat produksi atau tempat bumi membagi kesuburan pada manusia.
  2. Home, tempat bernaung, membesarkan anak dan berlindung.
  3. Homo, mengembangkan diri sebagai mahluk berakal.
  4. Habitat, tempat untuk menjalankan proses produksi dan reproduksi tanpa gangguan dari luar.

Karena itu oikos adalah dasar sebuah kota tumbuh. Dengan demikian, melalui basis ini, kota pada dasarnya adalah:

  1. Kesatuan dari oikos yang memiliki peradaban yang makin maju.
  2. Tempat konsentrasi pelbagai keahlian
  3. Memiliki jaringan-jaringan sendiri .
  4. Sentra kehidupan kultural dan religius.

Jadi, basis dari kota adalah peradaban. Karena itu tidak heran apabila istilah kota  sekaligus juga berarti keadaban dan kewargaan.

Tradisi filsafat Yunani menjadikan oikos sebagai dasar logic of survivor, logika manusia untuk bertahan hidup. Itu sebabnya oikos juga kemudian menjadi dasar dari cara rumah tangga manusia mempertahankan diri dalam ekonomi (oikos + nomos = oikonomia).

Maka istilah “negara kota” menyisakan suatu pertautan yang rumit antara oikos dan polis. Di sinilah kita kemudian menemukan pembelahan yang lebih kompleks antara kota sebagai kesatuan ruang kehidupan yang beragam, dengan kota sebagai “pengalaman wargawi”. 

Jakarta suatu sore (Foto: Asep Ayat).

Polis (yang kemudian lebih dikenal untuk menyebut kota) pada dasarnya adalah suatu praktik mental, kapasitas warga untuk terlibat dalam merumuskan hidupnya dalam mengatur oikos dalam membentuk hidup bersama. Polis pada dasarnya adalah praktik-praktik utama untuk merumuskan apa yang baik bagi warga sebuah kota. Di sinilah segala hal menjadi tumpang tindih, persis dengan isi kota itu sendiri: di mana segala modus kehidupan yang padu maupun yang tak padu tumbuh bersama.

Dengan kata lain kota itu selamanya adalah harapan sekaligus nostalgia, ekonomi sekaligus politik, masa lalu sekaligus masa depan, keteraturan sekaligus chaos, kota adalah hidup itu sendiri.

Menghapus Sekat Kota

Rezim ruang dan perencanaan menempatkan seni (termasuk arsitektur) sebagai instrumen untuk mengolonisasikan kehidupan di bawahnya. Sebagai ruang kehidupan, kota telah dicacah berdasarkan zonasi, fungsi, dan dislokasi. Pencacahan sosial-ekonomi dan politik ini menghancurkan roh kota sebagai kesatuan city-citizen-civility.

Kini saatnya mengembalikan kota sebagai theatrum mundi, sebagai teater dunia, dengan memprovokasi aktivitas di dalam polis, mendorong warga menggunakan dan memanfaatkan seluruh vitalitas urbannya untuk menerobos partisi-partisi sosial ekonomi dan politik agar menjadikan kota sekaligus sebagai seni.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain