Kolom | Juli-September 2018

Masih Solidkah Korps Rimbawan Dramaga?

Dalam perjalanan selanjutnya kekompakan Korps Rimbawan Fahutan IPB, terasa mulai terkikis, mulai renggang.

Suwarno Sutarahardja

Pensiunan pengajar Divisi Perencanaan Hutan di Fakultas Kehutanan IPB

KETIKA saya memulai kehidupan sebagai mahasiswa, khususnya sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB pada 1965 sampai beberapa tahun kemudian, saya dapat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Fahutan bersama teman-taman dengan penuh saling pengertian, saling memperhatikan satu dengan yang lainnya dan saling tolong menolong dalam suka dan duka. Rasanya hidup itu demikian indahnya.

Kami menyadari hal tersebut merupakan hasil tempaan dari para senior saat kami menjalani masa perkenalan mahasiswa atau masa pra mahasiswa (Mapram), yang kami jalani selama dua mingguan dan ditambah tempaan yang lebih spesifik lagi dalam keluarga rimbawan, yaitu masa Kamping (Camping) yang berjalan selama sepekan. Kegiatan itu membuat kami makin akrab. Bukan itu saja, keeratan dan keakraban hubungan kami dengan para senior, hubungan kami dengan para dosen, bahkan hubungan kami dengan para pegawai Fahutan juga demikian harmonisnya, seolah tanpa batas. Saya merasakan, hal itu terjadi karena baik dalam kegiatan Mapram maupun dalam kegiatan Kemping, semua pihak, baik para mahasiswa senior, para dosen dan juga para pegawai secara umum terlibat dan bergabung menyatu dengan kami mahasiswa baru dalam acara-acara kegiatan tersebut.

Pada September 1970, atas prakarsa Dekan Bapak Rudy Tarumingkeng dan Pak Sadan Widarmana, diselenggarakan Home Coming Day (HCD) yang diketuai oleh Kang Darwis S. Gani (almarhum), dan didukung oleh semua civitas akademika, yaitu dosen, mahasiswa dan pegawai serta Alumni Fahutan IPB di luar Kampus.

HCD dipusatkan di Kampus Fahutan IPB Dramaga, dengan acara yang cukup padat, menggugah nostalgia, dan kebersamaan alumni. Acara berupa acara dari kita untuk kita, yang dikemas dengan suasana kehidupan para rimbawan. Selain itu ada acara kesenian band Rimbawan Fahutan IPB, reog dengan para pelawak dari Rimbawan juga, antara lain kang Endang A. Husaeni (almarhum), Kang Tjetjep Ukman (almarhum), Kang Sasa Abdurahim, dan Kang Dudung Djumaedi serta Kang Oman (almarhum). Seksi Acara pada saat itu ditangani oleh Kang Domon Soewardjo (almarhum) dan Kang Wardiman Prawiranegara, yang lebih dikenal sebagai Kang Bastol (almarhum).

Pada HCD berikutnya, para alumni yang sudah jadi bapak-bapak membawa keluarga, istri, dan anak-anak mereka. Sehingga dalam HCD berikutnya, untuk menjalin kebersamaan antar keluarga alumni, panitia HCD mengadakan acara khusus untuk keluarga, yaitu Ladies and Children Program, antara lain berupa acara peragaan busana, kunjungan ke tempat-tempat tertentu yang menarik bagi ibu-ibu, antara lain ke Kampung Toga, ke Istana Bogor, ke Istana Batutulis. Acara Ladies Program ini, pernah ditangani adalah Teh Oemijati Rahmatsjah. Kemudian juga ada acara permainan untuk anak-anak, yang ditangani oleh mahasiswa-mahasiswa Fahutan IPB.

Panitia HCD sepenuhnya dari Fahutan IPB dengan sumber pendanaan mendapat dukungan penuh dari para alumni yang berada di luar Kampus Fahutan IPB. Himpunan Alumni Fahutan IPB berdiri, kepanitiaan HCD bergeser ke himpunan. Namanya juga berubah menjadi HAPKA (Hari Alumni Pulang Kampus), kalau tidak salah itu terjadi pada HCD yang ke IV.

HCD atau HAPKA mencerminkan kuatnya Korps Rimbawan Alumni Fahutan IPB. Yang terasakan masa itu adalah seorang alumni atau rimbawan pergi ke mana pun di negeri tercinta ini, tidak akan takut kesulitan dan kelaparan, selama di tempat yang dituju tersebut ada rimbawan atau alumni kita. Alumni Fahutan demikian kuatnya, demikian guyubnya, demikian kompaknya, di mana terjalin kebersamaan yang tinggi antara alumni. Demikian juga kebersamaan antara alumni dengan civitas akademika dalam almamater, membuat disegani oleh para alumni fakultas lain di lingkungan IPB.

Dalam perjalanan selanjutnya kekompakan Korps Rimbawan Fahutan IPB, terasa mulai terkikis, mulai renggang. Hai ini dirasakan oleh sebagian alumni di luar kampus, juga dirasakan oleh sebagian dosen serta sebagian pegawai Fahutan IPB. Kepedulian terhadap kegiatan oleh alumni maupun Fahutan kurang mendapat dukungan. Sepertinya rasa saling memiliki, menghargai, saling mendukung sudah memudar di lingkungan alumni kita.

Saat ini yang semakin tampak ke permukaan, adalah terbentuknya kelompok-kelompok yang didasarkan kepada kepentingan tertentu. Mengapa hal ini terjadi? Ada yang mengatakan karena warga Fahutan IPB dan alumninya sudah demikian besar. Mungkin benar. Tapi apakah dengan besarnya jumlah itu membuat kita tidak bisa membangun rasa kebersamaan, rasa guyub? Dengan kata lain apakah tidak mungkin soliditas kita, para rimbawan dari Fakultas Kehutanan IPB, ini tetap kita jaga, kita pelihara, kita pupuk?

Beberapa dugaan yang belum dapat dibuktikan, tetapi bisa dirasakan, karena kurangnya komunikasi antar alumni. Komunikasi yang intens bisa dibangun dan dibina sejak masih mahasiswa dengan mengadakan kegiatan bersama yang cukup sering dan kegiatan dibuat sedemikian rupa, agar terciptanya rasa kebersamaan. Kegiatan-kegiatan itu bisa dilaksanakan pada tingkat departemen di Fahutan dan satu atau dua kali kegiatan dilaksanakan secara bersama dalam lingkup fakultas, dengan melibatkan HAE.

Juga pembinaan Korps Rimbawan di luar almamater. Misalnya dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan bersama di komisariat di daerah, lalu ada kegiatan secara regional antar Komda. Program “Care and Respect” dari HAE adalah salah satu tolok ukur melihat sejauh mana kesolidan alumni Fahutan IPB, baik secara umum, yaitu antar angkatan, antar alumni dalam Komda, maupun antar warga dalam angkatan.

Tampaknya masalah kurikulum Fakultas juga mempengaruhi terganggunya komunikasi yang menyebabkan lemahnya kebersamaan antar mahasiswa di Fahutan IPB, sehingga sikap kebersamaan antar mahasiswa juga menurun. Minimnya interaksi dan komunikasi antar mahasiswa satu dengan lainya mengakibatkan tidak ada kepedulian di antara mereka. Dengan kurikulum yang sekarang ini, mahasiswa Fahutan IPB terkotak-kotak atas departemen dan sangat minim interaksi satu dengan lainya di tingkat fakultas, bahkan berkomunikasi dengan teman satu departemen pun kurang berjalan dengan baik.

Dari sisi etika dan kemajuan teknologi berkomunikasi melalui gadget yang mungkin sudah terbangun sejak masih dalam pendidikan dasar, juga menunjang kurangnya mahasiswa berinteraksi dengan intens secara fisik antara satu dengan lainya. Belakangan ini terasa tidak ada kepedulian mereka, baik dengan dosen-dosennya maupun kepedulian dengan pegawai fakultas dan juga dengan sesama mahasiswa sendiri. Mereka berinteraksi dengan dosen ataupun pegawai hanya sekedar jika mereka membutuhkan sesuatu, tidak dalam kebutuhan untuk saling mendekatkan diri secara emosional.

Bahkan sempat terjadi mahasiswa berkomunikasi dengan dosen pembimbing, untuk berkonsultasi masalah tugas-tugasnya, hanya melalui media sosial, sepert SMS, WhatsApp dan lainnya. Memang tidak salah, tapi hal tersebut tidak membangun hubungan emosional dalam kedekatan kedua belah pihak. Oleh karena itu, jika hal ini tidak kita atasi, tidak kita cari solusinya, mungkinkah korps Rimbawan akan tetap Solid dan harmonis sebagaimana yang pernah kita rasakan? Apalagi ada rencana kuliah secara online. Dengan cara seperti itu, bisa diprediksi hubungan sosial antara kita makin menjauh dari adat ketimuran yang selama ini menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia.

Dalam kurikulum yang sudah berjalan saat ini, saya juga prihatin. Satu di antara banyak hal adalah tentang Praktik Umum. Dulu saat Program Pendidikan Sarjana Kehutanan 5-6 tahun, PU dilaksanakan selama enam bulan, meliputi Praktik Pengelolaan Hutan selama empat bulan, Praktik Perencanaan satu bulan dan Praktik Problema Khusus satu bulan. Setelah program pendidikan menjadi empat tahun, kurikulum berubah dan PU hanya tiga bulan, kemudian berubah lagi menjadi satu bulan hingga sekarang.

Praktik di hutan ini juga salah satu sarana membina komunikasi antar mahasiswa, membina kebersamaan, membina untuk saling bekerja sama, saling tolong menolong, yang pada akhirnya akan terbina korps yang solid. Di samping itu, semakin lama kita hidup di hutan, kita akan kian hutan dengan baik, sehingga mencintainya, dan memahaminya dengan baik fungsi dan manfaat bagi kehidupan manusia. Jika kita hanya satu bulan hidup di hutan, tentu belum mengenalnya dengan baik. Jika kita tidak mengenal hutan dengan baik, apakah kita akan mencintai hutan?

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain