Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 17 Maret 2026

Tujuh Cara Ramadan dan Lebaran Hijau

Ramadan dan Lebaran menaikkan produksi sampah. Ada tujuh cara memitigasinya.

Pemulung sampah TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat (Foto: R. Eko Tjahjono/FD)

RAMADAN messtinya menjadi momen untuk menata ulang relasi manusia dengan lingkungan. Apalagi selama satu bulan itu, aktivitas masyarakat mengalami peningkatan signifikan dan mendulang dampak (negatif) terhadap lingkungan, baik itu aktivitas peribadatan, aktivitas ekonomi maupun aktivitas sosialnya. Apalagi berbagai aktivitas masyarakat selama Ramadan tersebut, akan mengalami klimaks pada saat perayaan Idul Fitri, yang fenomenal dengan mudik Lebarannya.

Secara empiris, aspek terpenting untuk membangun relasi dengan lingkungan saat Ramadan adalah upaya mengusung pola konsumsi yang berkelanjutan (sustainable consumption). Terkait dengan peningkatan aktivitas masyarakat selama Ramadan, setidaknya ada tujuh isu besar yang harus dimitigasi : peningkatan konsumsi/penggunaan energi, peningkatan penggunaan air bersih, meningkatnya sampah makanan (food waste) dan sampah plastik, aktivitas merokok, belanja fashion, dan prosesi mudik Lebaran.

Pertama, penggunaan air bersih. Kebutuhan air bersih dipastikan meningkat tajam, mengingat beberapa aktivitas utama juga mengalami peningkatan, yakni salat berjamaah di masjid dan musala. Di sinilah pentingnya pengelola masjid memberikan edukasi agar jemaah bisa berhemat air bersih, baik menggunakan keran air otomatis, atau via narasi imbauan. Sebuah hadis menandaskan bahwa hematlah air sekalipun kita berwudu di tepi sungai.

Ancaman krisis air bersih di Indonesia, seharusnya menjadi dorongan untuk semua pihak concern dengan pengendalian penggunaan air bersih, setiap saat, tanpa mengenal momen. Puasa Ramadan seharusnya menjadi momen spiritualitas untuk pengendalian konsumsi air bersih.

Kedua, penggunaan energi, baik itu listrik, gas elpiji, dan bahkan BBM. Sama seperti pengunaan air, penggunaan energi juga meningkat tajam, khususnya untuk energi listrik, dan gas elpiji 3 kilogram. Setelah Ramadan masyarakat biasanya terkaget-kaget manakala tagihan listriknya naik. Saat Ramadan, kenaikan pembayaran listrik antara 30-50 persen. Seiring dengan itu, pemakain gas elpiji juga meningkat tajam. Bahkan untuk mengantisipasi lonjakan selama Ramadan, PT Pertamina Patra Niaga telah menambah pasokan gas elpiji 3 kilogram sebanyak 7,8 juta tabung.

Untuk memitigasinya, konsumen harus cerdas dan kreatif dalam menggunakan listrik, misalnya mengganti bola lampu dengan jenis LED, dan atau menurunkan suhu pendingin udara (AC). Atau bahkan dalam jangka panjang bisa menginstalasi panel surya di rumahnya.

Ketiga, makanan/minuman tinggi gula, garam dan lemak (GGL). Persoalan krusial yang mesti kita sorot serius adalah terkait pola konsumsi masyarakat, baik itu untuk kebutuhan makanan, minuman, dan bahkan sandang menjelang Idul Fitri. Terdapat fenomena paradoks terkait pola konsumsi makanan/minuman saat puasa Ramadan, yakni tren konsumsi minuman manis, baik yang dibuat sendiri maupun mengonsumsi produk MBDK (Minuman Manis Dalam Kemasan).

Sedangkan untuk makanan, tren peningkatan konsumsi makanan yang tinggi lemak dan tinggi garam. Makanan yang paling laris untuk buka puasa adalah “gorengan” (serba digoreng), alias makanan tinggi lemak dan tinggi garam. Padahal makanan jenis ini, sangat tidak ramah bagi pencernaan/metabolisme tubuh yang seharian berpuasa (perut kosong). Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin gorengan itu kasta paling rendah menu untuk buka puasa.

Bahkan termasuk minuman manis sekalipun, adalah tidak cocok untuk sarana buka puasa. Narasi “berbukalah dengan yang manis” seperti yang sering kita dengar selama ini, ternyata narasi yang tak absah (hadis lemah, bahkan palsu). Puasa Ramadan idealnya menjadi momen untuk mewujudkan pola hidup yang sehat, seperti narasi spiritualitas Ramadan.

Buntut meningkatnya konsumsi makanan/minuman yang tinggi GGL (Gula, Garam, dan Lemak) tersebut, diikuti dengan meningkatnya produksi sampah, baik itu sampah organik dan atau sampah non organik. Bekas kemasan sampah plastik, tas kresek, maupun kertas minyak, menjadi keniscayaan. Sebab produk makanan dan minuman itu mayoritas dikemas/dibungkus dengan kemasan plastik, yang notabene bukan jenis plastik yang biodegradable. Sekalipun produk makanan/minumannya dikemas dengan daun pisang/daun jati, toh ujungnya tetap memerlukan kemasan plastik untuk membawa makanan/minuman tersebut.

Keempat, melambungnya food waste. Klimaks dari perilaku paradoks saat puasa Ramadan, adalah meningkatnya produksi sampah makanan (food waste). Selama Ramadan produksi sampah makanan naik lebih dari 40 persen.

Fenomena food waste saat puasa Ramadan adalah perilaku berkonsumsi yang paradoksal, bahkan ironis. Pertama, gagal dalam mengakomodasi makna spiritualitas berpuasa, sebab inti sari puasa adalah pengendalian diri, dalam hal ini pengendalian berkonsumsi makanan/minuman. Kedua, paradoks sebab masih banyak warga yang membutuhkan bahkan kekurangan makanan saat puasa Ramadan, khususnya di rumah tangga menengah bawah (miskin), yang saat ini jumlahnya masih mencapai 24 juta jiwa (data BPS). Paradoks yang ketiga adalah sampah makanan menimbulkan dampak lingkungan serius, karena meninggalkan jejak karbon (gas metana) bagi lingkungan. Menurut data UNEP, Indonesia menduduki rating kelima dua negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, yakni sebesar 14,7 juta ton per tahun.

Kelima, aktivitas merokok. Saat puasa Ramadan perokok bisa stop merokok, selama lebih dari 12 jam. Namun ironisnya, para perokok menjadikan rumah mereka sebagai area merokok, dan berdampak terhadap anggota keluarganya yang terpapar asap rokok (sebagai perokok pasif). Padahal dalam momen reguler, tidak merokok selama 12 jam lebih sangat sulit dilakukan bagi seorang perokok. Seharusnya puasa Ramadan menjadi momen untuk seorang perokok berhenti merokok, bukan malah sebaliknya, selepas buka puasa menjadi “ahli hisap” nyaris tanpa jeda.

Keenam, memborong produk fashion untuk merayakan Idul Fitri, menjadi kelaziman sosiologis. Lebaran identik dengan fashion baru. Dari sisi ekonomi ini fenomena positif, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya industri garmen nasional. Membeli perlengkapan fashion seolah menjadi ikon saat merayakan Idul Fitri, apalagi untuk anak anak dan remaja, akan ngambek jika tak ada baju baru untuk berlebaran. Namun aksi pembelian itu sebaiknya jangan jor-joran, membeli seperlunya saja. Jangan termakan gimmick marketing produsen fashion menewarkan berbagai jurus diskon, seperti: diskon 70 persen, beli 2 gratis 1, dll.

Ketujuh, prosesi mudik Lebaran. Puncak perayaan Idul Fitri adalah mudik Lebaran ke kampung halaman. Kementerian Perhubungan memprediksi total perjalanan selama mudik Lebaran pada 2026 mencapai 144 juta perjalanan, di seluruh Indonesia. Sedangkan dari area Jabodetabek menuju ke arah timur, yang menggunakan kendaraan pribadi mencapai 3,6 juta kendaraan bernotor via jalan tol.

Mudik Lebaran menghasilkan jejak karbon, baik untuk keperluan BBM yang digunakan, sampah yang dihasilkan, plus pola konsumsi yang cenderung konsumtif. Pada tataran ini masyarakat bisa memitigasi, misalnya dengan menggunakan angkutan umum masal untuk melakukan perjalanan ke kampung halaman, dan atau menggunakan jenis BBM yang lebih berkualitas (ramah lingkungan) bagi pengguna kendaraan pribadi. Atau setidaknya menggunakan mobil listrik (EV), yang memang minimalis menghasilkan emisi, walau hanya di sisi hilir.

Pada akhirnya, mewujudkan perilaku hijau (green consumer) saat puasa Ramadan adalah sangat positif dan berpotensi mengantongi berbagai kebermanfaatan. Pertama, kebermanfaatan dari sisi kesehatan. Spiritualitas berpuasa Ramadan adalah untuk mewujudkan pola hidup yang sehat, baik kesehatan fisik, sosial, ekonomi bahkan lingkungan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Pegiat perlindungan konsumen dan lingkungan hidup, anggota Asosiasi Pengamat Energi Indonesia (APEI), pendiri dan pengurus Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, dan Ketua Pengurus Harian YLKI, 2015-2025

Topik :

Bagikan

Komentar



Artikel Lain