Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 18 Maret 2026

Curik Bali, Maskot yang Kembali dari Ambang Kepunahan

Sempat tersisa enam individu, kini populasinya mencapai 600 individu. Bagaimana bisa?

Curik bali, satwa endemik Pulau Bali (foto: pixabay.com/vinsky2002)

PERNAHKAH Anda memperhatikan burung cantik di sisi belakang uang logam 200 rupiah terbitan 2003? Burung itu bukan sekadar hiasan. Ia adalah Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), burung endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Bali.

Masyarakat lokal mengenalnya dengan nama Curik Bali. Penampilannya sangat eksotis; tubuhnya didominasi bulu putih bersih, sedikit corak hitam di ujung sayap dan ekor, serta jambul yang elegan. Namun, fitur yang paling ikonik adalah area kulit berwarna biru cerah di sekitar matanya yang tampak seperti kacamata trendi.

Sayang, kecantikannya membawa petaka, dimana ia diburu habis-habisan. Apalagi, di pertengahan abad ke-20, hobi memelihara burung berkicau meledak di Indonesia. Memiliki burung yang merdu dan langka dianggap sebagai simbol status sosial. Alhasil, curik bali jadi incaran pemburu dan kolektor.

Dahulu, burung ini menghuni sepertiga wilayah barat laut Pulau Bali. Populasinya diperkirakan berkisar 300-900 individu. Namun di 1990-an, perburuan liar yang tak ada habisnya membuat populasinya tersisa 15 ekor saja. Puncaknya di 2001, dimana hanya tersisa 6 ekor curik bali yang ditemukan di alam liar!

Sejatinya, perlindungan resmi telah ada sejak tahun 1958. Namun, lemahnya penegakan hukum memungkinkan perdagangan liar berkembang pesat. Ditambah, dengan perbatasan yang terbuka, akses yang mudah, dan sumber daya terbatas membuat perdagangan curik bali mudah dilakukan. Konversi lahan untuk pertanian, pemukiman, dan pariwisata menambah tekanan terhadap curik bali.

Pada 1980-an, upaya pemantauan lebih ketat dan penangkaran dilakukan. Namun, perburuan liar terus berlanjut. Bahkan, curik bali di penangkaran sempat dicuri dari pusat penangkaran. Sepasang burung bisa mencapai harga 40 juta rupiah pada tahun 1990-an! Membuatnya jadi sumber pendapatan yang menggiurkan.

Konservasi curik bali yang berkelanjutan membutuhkan lahan yang memadai dan dukungan lokal. Dan saat semua cara formal terasa buntu, satu ide muncul, yakni membuat suaka di pulau tersendiri, yakni Pulau Nusa Penida.

Sepasang curik bali di penangkaran (foto: Desa Pejarakan)

Secara historis, Pulau Nusa Penida bukan habitat asli curik bali. Namun, vegetasi di pulau tersebut mampu menunjang hidup curik bali. Ditambah, lokasi yang terpisah menjadikannya benteng pertahanan alami.

Diplomasi dari desa ke desa dilakukan. Tim FNFP (Friends of the National Parks Foundation) mendatangi satu per satu desa di Nusa Penida. Menghadiri pertemuan warga, hingga upacara adat untuk menjelaskan misi pelestarian curik bali.

Walhasil, pelestarian curik bali di Nusa Penida mendapat dukungan dari desa-desa disana. Burung-burung hasil penangkaran dikirim ke Nusa Penida. Pada 2006, curik bali yang dilepasliarkan di Nusa Penida berjumlah 49 ekor. Di tahun 2015, tercatat ada 66 ekor curik bali di Nusa Penida, yang merupakan generasi kedua dan ketiga.

Desa-desa juga mencantumkan perlindungan burung ke dalam aturan adat mereka melalui awig-awig. Sanksinya tidak main-main, siapapun yang berani menyakiti atau mengambil curik bali tak hanya didenda uang, tapi juga harus melakukan upacara permohonan maaf dan memberi makan seluruh warga desa.

Bagi masyarakat, sanksi sosial dan spiritual jauh lebih menakutkan dibanding sanksi hukum. Hasilnya? Kepatuhan dan kesadaran masyarakat meningkat. Warga yang dulunya pemburu menjadi penjaga. Mereka ikut memantau dan menanam pohon yang menjadi sumber pakan bagi curik bali dan burung lainnya.

Tegal Bunder, salah satu penangkaran curik bali di Taman Nasional Bali Barat (foto: begawan.org)

Program di Nusa Penida terbukti berhasil. Dan akhirnya diadopsi juga di habitat aslinya, Taman Nasional Bali Barat. Tren populasinya menjadi positif. Di 2013, terpantau ada 32 ekor. Meningkat menjadi 141 ekor di 2018. Dan terkini, dikabarkan populasinya mencapai 600 ekor di Taman Nasional Bali Barat.

Kisah pelestarian curik bali mengajarkan kita satu hal penting: konservasi bukan hanya fokus soal satwa dan alam. Tapi juga memberikan penghidupan bagi masyarakat dan kebanggaan bagi budaya lokal. Pendekatan yang holistik dan win-win akan membangun dukungan yang berkelanjutan bagi kelestarian suatu spesies.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Bagikan

Komentar



Artikel Lain