NARASI perdagangan satwa liar ilegal hampir selalu didominasi oleh spesies karismatik, seperti gajah atau orangutan. Nyatanya, semut juga menjadi target perdagangan satwa ilegal.
Baru-baru ini, otoritas di Kenya membongkar dua kasus penyelundupan satwa yang saling berkaitan. Tidak tanggung-tanggung, petugas menyita sekitar 5.300 ekor semut. Jika diuangkan, makhluk mungil ini ditaksir mencapai Rp 146 juta.
Semut-semut yang disita termasuk spesies semut pemanen raksasa (Messor cephalotes) yang akan dikirim ke pasar Asia dan Eropa. Fenomena ini membuktikan bahwa tren pasar hewan peliharaan eksotis telah bergeser ke arah “hewan mikro". Ternyata ada kolektor semut eksotis.
Dalam insiden pertama, petugas menangkap dua warga negara Belgia berusia 19 tahun. Dari tangan mereka, petugas menyita sekitar 5.000 ratu semut hidup yang dikemas secara rapi dan teliti dalam lebih 2.000 tabung reaksi. Jaksa memperkirakan nilai sitaan dari satu kelompok ini saja mencapai Rp 121 juta.
Tak berselang lama, insiden kedua terungkap. Seorang warga negara Vietnam bersama seorang warga Kenya, diringkus dengan barang bukti 300 semut dalam 140 tabung senilai Rp 24 juta. Keempat tersangka tersebut telah mengaku bersalah atas dakwaan kepemilikan dan perdagangan satwa liar ilegal.
Foto-foto yang dirilis oleh otoritas Kenya mengungkap kecanggihan modus operandi mereka. Ratu-ratu semut tersebut disekap dalam tabung reaksi dan alat suntik yang disumbat kapas basah agar bisa bertahan hidup selama dua bulan perjalanan.
Wadahnya juga dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengelabui pemindai keamanan bandara. Hal tersebut menunjukkan bahwa ini adalah operasi profesional yang terencana dan matang.
Mengapa semut begitu dicari?
Semut pemanen raksasa adalah spesies asli Afrika Timur dan mereka dikenal sebagai arsitek ekosistem yang luar biasa. Di alam liar, mereka hidup dalam koloni besar dan berperan vital sebagai pemencar benih serta insinyur tanah.
Kemampuan mereka membangun koloni yang kompleks dan kasta sosial yang unik justru menjadi magnet bagi para kolektor. Kolektor menyimpan mereka dalam wadah buatan canggih yang disebut formicarium. Di pasar gelap, spesies ini dijuluki sebagai spesies impian.
Spesies semut yang berpindah secara ilegal berpotensi menjadi hama invasif di tempat baru. Di Pulau Christmas, Australia, semut gila kuning (Anoplolepis gracilipes) dari Asia memusnahkan populasi kepiting merah asli (Gecarcoidea natalis). Di Hawaii, invasi semut api (Wasmannia auropunctata) dari Amerika menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp 2,6 triliun setiap tahun.
Penyelundupan semut hanyalah puncak gunung es dari perdagangan serangga global. Dalam beberapa tahun terakhir, petugas di berbagai negara juga telah menyita kumbang badak yang masuk ke Jepang, telur belalang sembah ke Amerika Serikat, hingga kupu-kupu langka dari Sri Lanka. Serangga-serangga tersebut menjadi trofi bagi kolektor yang menghiraukan keseimbangan alam.
Saat perdagangan ilegal serangga marak, populasi serangga dunia berada di titik yang meresahkan. Perdagangan ilegal menambah beban dan tekanan terhadap berbagai spesies serangga yang sudah rentan.
Hingga saat ini, belum ada satupun spesies semut yang masuk dalam daftar perlindungan CITES. Artinya, secara internasional, perdagangan mereka belum terpantau dengan ketat. Kurangnya data mengenai jumlah dan rute perdagangan membuat para penyelundup bisa bergerak bebas di bawah bayang-bayang hukum.
Para ahli menyarankan agar semut segera dimasukkan ke dalam Appendix II CITES untuk memungkinkan pemantauan izin perdagangan yang lebih ketat. Tanpa regulasi yang jelas, perdagangan semut akan tetap menjadi aktivitas bebas yang bergerak melalui forum daring informal dengan label pengiriman yang menipu.
Sebagai langkah darurat, negara-negara dapat mendaftarkan spesies asli mereka ke dalam Appendix III CITES. Langkah ini tidak memerlukan pemungutan suara internasional dan bisa segera memberikan mekanisme hukum untuk mencegah ekspor ilegal. Mengamankan masa depan serangga berarti mengamankan fondasi ekosistem kita, karena bagaimanapun juga, dunia tanpa mahluk kecil ini adalah dunia yang tidak akan bisa bertahan.
BERSAMA MELESTARIKAN BUMI
Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.
Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.
Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.
Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB
Topik :