Kolom | April-Juni 2018

Agrosilvofishery: Pola Budidaya Terpadu Ramah Gambut

Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa gambut secara radikal dan tetap mempertahankan sumber daya awal, efisiensi pemanfaatan lahan, serta diversifikasi komoditas dan pendapatan.

Bastoni

Peneliti Madya Bidang Silvikultur pada Balai Litbang LHK Palembang

PERLINDUNGAN dan pengelolaan ekosistem gambut telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 71/2014 yang direvisi menjadi PP 57/2016. PP tersebut menandai babak baru pengelolaan ekosistem gambut berbasis Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) untuk melindungi ekosistem gambut yang rapuh dan mudah rusak. Pengelolaan berbasis KHG sebenarnya bukan hal baru karena gagasan pengelolaan gambut yang menempatkan  kubah (dome) gambut dan gambut sangat dalam (>3 m) sebagai fungsi lindung telah muncul pada era 1990-an. Konsep KHG lahir berdasarkan pengalaman panjang konversi gambut untuk lahan pertanian di Sumatera yang terbukti bahwa konversi yang diikuti oleh drainase masif tidak dapat menyelamatkan gambut dari kepunahan. Kerawanan kebakaran juga meningkat pada gambut yang telah dikonversi dan didrainase seperti yang terjadi pada bencana kebakaran tahun 2015.

Banyak pengalaman dan pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut yang dapat dipetik dari masa lalu. Tantangan saat ini adalah bagaimana agar aktivitas budidaya pada lahan gambut dapat memberikan dua manfaat sekaligus, ekologi dan ekonomi. Budidaya skala besar seperti hutan tanaman dan perkebunan perlu menyeting ulang (resetting) aktivitas pengelolaannya mengikuti regulasi yang baru untuk mencegah dan meminimalkan bencana lingkungan di masa mendatang, sekaligus untuk menjamin kelestarian usaha dalam jangka panjang. Budidaya skala kecil yang dilakukan oleh masyarakat juga perlu mengadopsi pola-pola budidaya yang lebih ramah gambut untuk menggantikan pola pemanfaatan yang ekstraktif dari sumber daya alami gambut.

Pola budidaya terpadu yang ramah gambut dapat disintesis melalui pendekatan integrasi beragam sumber daya. Sumber daya yang dijumpai pada ekosistem gambut dapat dibagi dalam 3 kelompok utama, yaitu sumber daya lahan, sumber daya hutan dan sumber daya perairan. Apabila ketiga sumber daya tersebut diintegrasikan maka akan dapat diperoleh pola pemanfaatan lahan terpadu untuk budidaya pertanian, kehutanan dan perikanan (Agrosilvofishery = Wana-Mina-Tani).

Agrosilvofishery adalah sistem usaha tani atau penggunaan lahan yang mengintegrasikan potensi sumber daya dan budidaya pertanian, kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa gambut secara radikal dan tetap mempertahankan sumber daya awal, efisiensi pemanfaatan lahan, serta diversifikasi komoditas dan pendapatan. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa gambut menetap yang efisien, intensif dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pola agrosilvofishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi, luas lahan dan tujuan pengembangannya. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar atau pusat pelayanan dan pemukiman, luas lahan 0,25 sampai 0,5 hektar per kepala keluarga (KK). Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang belum berkembang (desa-desa hutan), luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. Pemilihan jenis komoditas pertanian, kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar.

Budidaya terpadu ramah gambut berbasis agrosilvofishery sangat sejalan dengan pendekatan 3R (Rewetting, Revegetasi dan Revitalisasi) restorasi gambut yang dilaksanakan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). Integrasi ketiga pendekatan tersebut dalam satu hamparan lahan gambut merupakan kebutuhan sekaligus tantangan dalam merestorasi lahan gambut terdegradasi. 

Kegiatan restorasi gambut dapat ditempuh melalui beragam integrasi pendekatan. Minimal dalam satu hamparan lahan dapat dilakukan satu pendekatan (1R), yaitu rewetting, revegetasi atau revitalisasi saja. Restorasi gambut dapat juga mengintegrasikan pendekatan 2R, yaitu rewetting dan revegetasi, rewetting dan revitalisasi, atau revegetasi dan revitalisasi. Restorasi gambut yang paling lengkap adalah jika dalam satu hamparan lahan dapat diintegrasikan 3 pendekatan sekaligus, yaitu rewetting, revegetasi dan revitalisasi (3R). Setiap integrasi pendekatan baik 1R, 2R maupun 3R dapat diterapkan pada satu hamparan lahan sesuai fungsinya, di zona lindung atau zona budidaya pada satu KHG (Kesatuan Hidrologis Gambut).

Integrasi pendekatan restorasi 3R dan budidaya terpadu berbasis agrosilvofishery merupakan model yang lengkap dan ideal untuk restorasi gambut terintegrasi. Pola agrosilvofishery sangat sesuai untuk program revitalisasi restorasi gambut. Dalam banyak lokasi, model tersebut lebih sesuai dan dibutuhkan untuk pemanfaatan lahan gambut skala rumah tangga oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut. Luas lahan yang dibutuhkan juga relatif tidak perlu luas berkisar antara 1 – 2 hektar per KK sehingga akan mendukung pola pemanfaatan lahan yang lebih efektif dan efisien untuk peningkatan pendapatan dan pencegahan kebakaran.

Pada pola agrosilvofishery terdapat tiga komponen utama, yaitu: pematang, kolam/parit dan lahan usaha. Ketiga komponen ini harus dipenuhi sebagai syarat untuk integrasi budidaya pertanian, kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan dengan desain umum sebagai berikut:

Budidaya terpadu berbasis agrosilvofishery telah dikembangkan oleh Balai Litbang LHK Palembang sejak tahun 2002. Pengembangannya dilakukan dalam bentuk demonstrasi plot pada lahan rawa gambut yang tidak produktif dan terlantar di beberapa wilayah di Sumatera Selatan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.