Kabar Rimbawan | Oktober-Desember 2019

Bioremediasi Sebagai Solusi Menangani Pencemaran

Lebih murah dan aplikatif. Bioremediasi juga ramah lingkungan karena memakai mikroba.

Redaksi

Redaksi

SEBAGIAN besar kerusakan alam diakibatkan oleh ulah manusia. Hanya 25 persen akibat alam, seperti erupsi gunung atau gempa. Bencana lain selalu terkait dengan aktivitas manusia bertahan hidup hingga keserakahan menggali sumber daya alam. Akibatnya, lingkungan jadi membahayakan bagi penghuni planet ini karena jadi tercemar.

Tumpahan minyak yang mencemari laut, pembuangan limbah sisa produksi pabrik dan rumah tangga ke sungai, atau sisa-sisa produksi teknologi modern yang mencemari lingkungan adalah serentet bencana akibat ulah manusia. Sejak Revolusi Industri dua abad lalu, suhu bumi naik 0,80 Celsius karena pemakaian energi tak terbarukan dan sampah yang mencemari lingkungan.

Para peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi coba mencari cara untuk mengatasinya. Lahirlah buku ini, Telaah Mendalam tentang Bioremediasi, Teori dan Aplikasinya dalam upaya Konservasi Tanah dan Air. Pada 30 Agustus 2019 di Kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI) ada pembahasannya yang menghadirkan dua penulis dan penelaah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Bioremediasi, menurut penulis buku ini, Asep Hidayat, memakai peran mikroba untuk mengurai limbah senyawa organik. “Bioremediasi adalah metode yang ramah lingkungan, murah, sederhana,” kata Asep. Biaya remediasi pada tumpahan minyak mentah hanya US$ 95 per meter kubik atau sepersepuluh lebih kecil dibanding metode pencucian. Meski sederhana, bioremediasi, kata Asep, menuntut ilmu multidisplin yang mencakup mikrobiologi, ilmu lingkungan, ilmu tanah, kimia analisis, geologis, dan arsitektur.

Dede Heri Yuli Yanto, peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, menilai buku ini berbeda dengan buku bioremediasi yang sudah ada. “Pembahasan yang cukup lengkap dengan menguraikan perspektif teori bioremediasi hingga aplikasinya di Indonesia,” kata dia. Hal yang perlu ditambahkan dalam buku ini atau menjadi buku lanjuta, kata dia, pengembangan teknologinya.

Profesor (Ris) Chairil Anwar Siregar, penulis lain, mengatakan bahwa bioremediasi sangat aplikatif diterapkan. Tapi, sebelum itu, kata dia yang memberi pengantar dalam buku ini, manusia perlu sadar bahwa tindakannya bisa melukai lingkungan yang pemulihannya membutuhkan waktu, tenaga, biaya, ilmu, komitmen, yang tak sedikit.

@ForestDigest

Dede Heri menambahkan dengan satu cerita di Pekalongan, Jawa Tengah. Industri batik rumahan di sana membuang limbah ke selokan. Bagi penduduk di sana, sungai yang menghitam menunjukkan ekonomi sedang membaik karena pesanan batik melimpah. Tapi ketika mereka diminta memulihkannya, atau tak membuangnya ke sungai, ajakan itu ditolak. “Berbeda, misalnya, jika mereka diminta sumbangan untuk masjid,” kata dia.

Chairil menganjurkan para ustad dan penceramah agama memakai himbauan lingkungan dalam ceramah-ceramah mereka agar masyarakat lebih peduli terhadap aktivitas mereka yang berimbas pada derita lingkungan. Kesadaran tiap orang terhadap lingkungan mereka, kata dia, jauh lebih penting ketimbang memperbaikinya setelah rusak.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain