Surat | Oktober-Desember 2019

Berlangganan Majalah Forest Digest

Bagaimana caranya? Kirim permohonan berlangganan dengan menyertakan alamat ke surat-e [email protected]

Redaksi

Redaksi

Terima kasih, Forest Digest

Saya mengucapkan terima kasih atas hadiah atau sumbangan bahan pustaka untuk Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) dan selanjutnya akan kami proses untuk disajikan kepada pengunjung perpustakaan UM. Bahan pustaka tersebut sangat bermanfaat bagi penambahan koleksi dan referensi di perpustakaan kami.

Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd
Kepala UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang

Saya Menyampaikan ucapan terima kasih atas kontribusi Majalah Forest Digest Edisi 12 dengan tema “Restorasi Ekosistem” sebanyak 3 (tiga) eksemplar dan majalah telah diterima dalam keadaan baik.

Mardilan, S.Pd
UPT Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta

Terima kasih atas inspirasinya bagi kami dalam pengelolaan hutan. 

[email protected]

Salam Lestari!

Saya menyampaikan permohonan untuk dapat berlangganan majalah Forest Digest. Maksud dan tujuan saya mengajukan permohonan ini yaitu saya berkeinginan untuk turut terlibat aktif menyediakan bahan bacaan yang kritis dan informatif terkait isu dunia kehutanan saat ini, baik itu secara umum atau khusus kepada para pembaca. Adapun sasaran pembaca yang saya tujukan yaitu para tamu dari komunitas, NGO, mahasiswa, dan pelajar yang berkunjung di kantor kami.

Demikian permohonan ini kami ajukan dan sebagai bahan pertimbangan oleh pihak majalah atau redaksi. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. 

Farabby Asslam Pareke
Kantor Wildlife Protection Unit, Bogor

Majalah telah tersedia di seluruh cabang Gramedia atau mengajukan permohonan melalui email [email protected] 

Tanam Pohon

Pada hari Minggu, 25 Agustus 2019, 110 Warga Sangasanga, relawan LidungiHutan.com dan pasukan pramuka dari SMK Muhamadiyah Sangasanga, tidak ketinggalan pula pada program penanaman Hutan Merdeka ini dihadiri oleh Camat Sangasanga, Lurah Sarijaya, kepolisian dan pejabat Koramil setempat turut  melakukan gerakan penanaman 1.000 pohon ini demi memulihkan alamnya yang telah porak poranda akibat pertambangan batu bara yang berada di kawasan mereka, khususnya di wilayah Sarijaya.

Sebuah upaya yang dilakukan masyarakat Kelurahan Sarijaya berkolaborasi dengan yayasan Lindungihutan.com untuk memulihkan kembali lahan mangkrak bekas pertambangan. Sebuah kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan pertambangan ataupun pemerintah untuk mereklamasi lahan pasca kegiatan pertambangan sesuai jaminan reklamasi dan izin lingkungannya, namun sudah hampir 10 tahun lahan ini dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Kawasan ini juga menjadi zona merah atau wilayah kerja migas yang mana saat ini dipegang oleh Pertamina. Namun pihak-pihak terkait belum juga melakukan reklamasi, sudah 2 tahun ini reklamasi malah dilakukan oleh masyarakat setempat untuk mengantisipasi bencana alam yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan ini. Di wilayah bekas tambang batu bara garapan milik Primkoveri ini terhampar tanah bekas pertambangan yang kritis serta lubang galian yang sangat luas, sekitar 100 hektare total dari lahan konsesi pertambangan milik Primkoveri ini, yang masuk zona Merah sektor MiGas.

Masyarakat telah sadar betapa bahayanya kawasan ini jika dibiarkan begitu saja. Pada tahun 2016 lalu kawasan Sarijaya telah diterjang banjir besar yang disebabkan oleh jebolnya danau bekas galian tambang tersebut, hingga menyebabkan rumah-rumah terendam banjir dan jalan antara kelurahan tidak dapat dilalui.

Semoga apa yang dilakukan oleh masyarakat Sangasanga sejauh ini mendapat perhatian dari pihak luas  Khususnya pemerintah untuk turut serta dalam perjuangan masyarakat Sangasanga memulihkan alam dan perekonomian kerakyatannya.

Nugraha Pradana
Sanga-sanga, Kalimantan Timur

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.