Surat | Juli-September 2020

Forest Digest Berusia 4 Tahun

Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

Redaksi

Redaksi

TANGGAL 17 Agustus 2020 majalah ini berusia empat tahun. Masih bayi, tapi kami bersyukur bisa bertahan sejauh ini. Tak mudah mengelola majalah dengan cara voluntari dengan topik yang sangat khusus. Dengan awak redaksi yang bekerja di pelbagai bidang, dengan kesibukan yang beragam, hal paling merepotkan dalam bertahan adalah koordinasi.

Sementara mengelola sebuah majalah, meski tiga bulanan, membutuhkan manajemen orang dan pengelolaan isu. Apalagi, tak semua awak redaksi menggeluti isu hutan dan lingkungan. Meski kami lahir dari fakultas yang sama, Fakultas Kehutanan IPB University, setelah bekerja kami mencar ke banyak profesi. Akibatnya, isu hutan dan lingkungan bukan bidang pekerjaan yang kami dalami setelah lulus dan mewarnai pikiran kami sehari-hari.

Profesi awak redaksi terentang dari konsultan, mahasiswa, wartawan, pengusaha, hingga aktivis lembaga nonpemerintah. Akibat kesibukan masing-masing tidak selalu mereka terlibat aktif seterusnya. Ada yang aktif di satu edisi, meminta izin libur untuk edisi berikutnya, dan seterusnya.

Beruntung ini zaman teknologi informasi. Kesibukan tak menghalangi kami bertemu secara virtual atau bertukar gagasan melalui aplikasi percakapan. Isu-isu dibahas dan ditajamkan dengan banyak perspektif lalu dituangkan melalui perencanaan liputan. Hasilnya adalah apa yang Anda baca di tiap edisi.

Barangkali karena keragaman itu pula kami bisa bertahan. Pelbagai pandangan karena pengalaman di tiap profesi membuat perspektif redaksi terhadap sebuah isu menjadi terbuka. Sehingga tiap-tiap isu memiliki paradigma yang mencoba merangkum pelbagai sudut pandang tersebut. Tentu saja kami tak selalu sepakat dengan satu sudut pandang tertentu. Tapi dengan informasi yang beragam pada akhirnya kami setuju bahwa sebuah isu mesti dipandang dari pelbagai segi.

Barangkali karena sifat voluntari itu pula majalah ini terus bisa terbit, dicetak, dan beredar tiap tiga bulan ke banyak daerah. Awak redaksi tak mendapat bayaran untuk artikel-artikel yang mereka tulis. Namun karena itu tumbuh semangat yang tiap hari menebal bahwa kerja tanpa pamrih itu karena keinginan mereka untuk terlibat dalam isu-isu kehutanan dan lingkungan yang dulu kami pelajari bersama.

Seorang anggota redaksi mengatakan, tanpa terlibat di majalah ini, ilmu yang selama 4-6 tahun kami pelajari di kampus mungkin tak ada bekasnya sama sekali. Jadi, barangkali bisa dikatakan, majalah ini digerakkan karena ada semangat merayakan kenangan sembari belajar hal-hal baru soal hutan dan lingkungan serta mengasahnya dengan banyak perspektif.

Semoga majalah ini bertahan karena isu hutan dan lingkungan terlalu penting diabaikan. Isu lingkungan adalah isu krusial hari ini, di tengah naiknya suhu udara akibat pemanasan global, di tengah pelbagai bencana yang mengancam, di antara riuhnya pelbagai informasi yang kian beragam.

Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang estari.

Redaksi

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain