Surat | Januari-Maret 2019

Bagaimana Mengirim Naskah untuk Forest Digest?

Tata cara pengiriman naskah.

Redaksi

Redaksi

 Apresiasi Kementerian Pemuda dan Olah Raga

Kami menerima kiriman majalah Forest Digest. Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan sebesar-besarnya.

Gatot S. Dewa Broto
Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olah Raga

-

Kami Menunggu Forest Digest

Terima kasih untuk kiriman majalah Forest Digest edisi 09. Kami menunggu kiriman berikutnya agar bisa dimanfaatkan oleh pemustaka (mahasiswa) kami.

Ardoni
Kepala Perpusatakaan Universitas Negeri Padang

-

Terima Kasih, Forest Digest

Kami mengucapkan terima kasih atas kiriman majalah Forest Digest. Bahan pustaka tersebut sangat bermanfaat bagi kami untuk menambah koleksi dan referensi.

Djoko Saryono
Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang

-

Bagaimana berlangganan?

Saya mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung tahun 2016. Saya menemukan majalah Forest Digest di Gedung Kehutanan Labtek V ITB. Setelah membaca majalah edisi 9 saya sangat tertarik dengan konten yang diusung oleh Forest Digest. Saya ingin bertanya bagaimana cara saya berlangganan majalah ini? dan apakah saya bisa mendapatkan majalah Forest Digest edisi sebelumnya?

Vebrianika
Bandung, Jawa Barat

Terima kasih tekah membaca Forest Digest. Anda bisa mengaksesnya melalui web ForestDigest.com. Di sana ada versi web dan pdf untuk semua edisi. Jika ingin mendapatkan edisi cetak, silakan kirim alamat pengiriman ke email [email protected]. 

RALAT 

Dalam Forest Digest edisi 09, Oktober-Desember 2018, ada kesalahan di artikel rubrik Teknologi Identifikasi Kayu Melalui Aplikasi. Keterangan gambar tertulis seharusnya “AIKO Generasi Pertama. Pada halaman 55 tertulis penggunaanmakaiannya, seharusnya “penggunaannya”. Tertulis di halaman 57 19385.858647, seharusnya 193.858. Di halaman sama tertulis 195775, seharusnya 1957. Mohon maaf atas kesalahan teknis penulis tersebut.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.