Surat | Juli-September 2019

Bagaimana Mendapat Majalah Forest Digest?

Surat-surat yang masuk ke redaksi: dari pengiriman majalah hingga minat bergabung menjadi redaksi.

Redaksi

Redaksi

Pengiriman Majalah (1)

Melalui surat ini saya menyampaikan permohonan berlangganan untuk edisi cetak majalah Forest Digest untuk koleksi pada perpustakaan Pustaka Bumi, perpustakaan yang digagas oleh mahasiswa Pendidikan Geografi, Universitas Bale Bandung.,Bandung, Jawa Barat. Semoga permohonan ini dapat dikabulkan oleh pihak majalah. Adapun alamat untuk pengiriman majalah adalah: Rendy Rizky Binawanto Jl. Puradinata II.A, Rt/Rw 08/12, Kel. Baleendah, Kec. Baleendah, Kab. Bandung Jawa Barat 40375.

Rendy Rizky Binawanto
Ketua Pembina Perpustakaan

Permohonan berlangganan, untuk awal sudah dikirim sesuai alamat beberapa eksemplar setiap edisi (kecuali edisi 1 tentang Ekowisata yang sudah tidak ada arsip). Semoga kiriman majalah sudah diterima dengan baik dan bermanfaat bagi pengunjung perpustakaan Anda.

Pengiriman Majalah (2)

Saya Mila Nabilah dari TBM Sukabuku Taman Literasi, yang berlokasi di Jalan Raya Siliwangi 2 Kecamatan Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat. Kami, saya beserta komunitas di Sukabuku,  mengirimkan surat ini dengan maksud mengajukan permohonan distribusi majalah cetak Forest Digest. Saya berkeinginan turut membagi informasi terkait dunia kehutanan baiknitu secara umum atau khusus kepada para pembaca di taman baca kami. Sekiranya surat ini akan menjadi pertimbangan, info selanjutnya sangat kami nantikan. Sekian dan terima kasih.

Mila Nabilah
TBM Sukabuku Taman Literasi

Terima kasih untuk surat Anda. Kami akan mengirim majalah Forest Digest mulai edisi 12. Semoga majalah ini bermanfaat untuk semua pengunjung perpustakaan Anda. Salam literasi!

Mengirim Naskah

Saya seorang mahasiswa. Izin menanyakan cara dan waktu pengiriman naskah untuk Forest Digest ini. Terima kasih atas perhatiannya, untuk menjadi bahan lebih lanjut.

Nanang Z
[email protected].

Waktu pengiriman naskah bisa kapan saja, menyesuaikan tema yang akan diangkat setiap edisi atau tulisan tentang tema apa saja. Silakan cek halaman susunan anggota redaksi. Di sana disebutkan tema laporan utama edisi mendatang. Untuk edisi 13, misalnya, akan diangkat soal "Perhutanan Sosial Sampai di Mana". Ketentuan penulisan:

  • panjang tulisan maksimum 9.000 karakter dengan spasi;
  • foto penunjang atau infografik data;
  • foto penulis; dan biografi singkat penulis.
  • Naskah dikirim melalui alamat email redaksi, yaitu: [email protected]

Menjadi Anggota Redaksi

Jika dimungkinkan, saya berminat untuk menjadi anggota redaksi dari majalah luar biasa ini. Jika ada persyaratan-persyaratan yang perlu dipenuhi, dengan senang hati saya akan memenuhinya. Salam dari manta wartawan Gema Almamater IPB di tahun 1980-an.

Asep Sugih Suntana, PhD
National Project Manager Forest Investment Program 2
Jl. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Terima kasih. Tulisan Kang Asep Suntana tentang “Belajar Hutan Sosial dari Thailand” bisa dinikmati dalam edisi ini.

Menjadi Redaksi FDTV

Saya melihat tayangan FDTV di YouTube setelah membacanya dari web Forest Digest. Apakah FD dan FDTV membuka lowongan pekerjaan? Saya berminat mendaftar karena tertarik dengan isu-isu lingkungan. Menurut saya majalah FD maupun FDTV media yang bagus menyebarkan informasi seputar lingkungan. Selain melihat dari sisi positif, penyajiannya pun enak dibaca dan informatif.

Lala M
Depok

Terima kasih, Lala. Kami senang Anda menonton FDTV dan membaca majalah ini. Benar, kami punya misi mengenalkan pengelolaan lingkungan yang lestari. Sayangnya kami tak membuka lowongan untuk menjadi anggota redaksi. Jika Anda ingin bergabung silakan datang ke rapat-rapat Forest Digest atau menulis sesuai tema yang Anda minati. Dan satu hal penting: anggota redaksi tak mendapat honor karena majalah ini dikelola secara sukarela.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.