Bintang | Juli-September 2019

Medina Kamil: Hutan Sebagai Supermarket

Bagiku hutan seperti supermarket, akar kehidupan. Jika hutan rusak, kehidupan juga rusak.

Dewi Rahayu Purwa Ningrum

Alumni Fakultas Kehutanan IPB

MENJADI pembawa acara petualangan di televisi membuat Medina Kamil kian paham arti hutan buat kehidupan manusia. Ia menyimpulkan hutan seperti supermarket yang menyediakan segala kebutuhan mahluk hidup. “Hutan itu akar kehidupan,” kata perempuan 37 tahun ini. “Jika hutan rusak kehidupan juga rusak.”

Karena itu ia bersedih tiap kali pulang kampung ke tanah kelahirannya di Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan ia lihat hutan yang diakrabinya sewaktu kecil itu telah berubah menjadi kebun yang monokultur. “Hutan yang dulu rimbun dan menyenangkan itu sekarang makin tergerus,” kata Sarjana Hukum dari Universitas Pancasila ini.

Simak penuturannya kepada Forest Digest di sela acara Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 13 Juli 2019.

Kapan pertama kali mengakrabi hutan?

Sebagai orang Sumatera Barat, bagiku hutan sudah menjadi keseharian. Aku pertama kali menginjakkan kaki di hutan tahun 1990-an. Saat itu, anggapanku tentang hutan adalah seram dan menakutkan. Pandanganku berubah saat aku ke Badui sewaktu kuliah. Di sana aku lihat hutan itu indah dan anugerah Tuhan.

Bagaimana pandanganmu sekarang?

Sangat memprihatinkan. Tahun 2010 aku menjelajah ke Sumatera. Kami naik mobil menuju lokasi yang sama saat aku masih sekolah dulu. Di sana hutan yang lebat dan rimbun itu berubah menjadi perkebunan. Sedih. Hutan yang rimbun dan menyenangkan itu semakin tergerus.

So, apa arti hutan buatmu?

Buat aku hutan seperti supermarket: semua yang manusia butuhkan ada di hutan. Bagiku hutan seperti akar kehidupan. Jika hutan rusak, kehidupan juga rusak.

Apa yang kamu lakukan untuk menjaganya?

Mengubah gaya hidup yang merugikan lingkungan dan alam, minimal mengurangi sampah. Kita harus malu dengan sampah sendiri. Sampah itu aib kita. Lalu mengajak orang lain dengan memberi contoh dan menyebarkan hal positif buat lingkungan.

Apa pesanmu untuk pembaca Forest Digest?

Untuk teman-teman pendaki gunung dan pengunjung pantai, kita harus menjaga keindahan alam dengan tidak membuang sampah. Ketika aku mendaki kemarin, sampah madu dan sampah permen itu bikin kesel banget. Susah diambilnya karena terlalu kecil jumlahnya, juga banyak.

Untuk pemerintah, sekolah-sekolah, dan semua pembaca kita sebaiknya memperbanyak lagi edukasi atau penyuluhan tentang lingkungan. Lalu tegakkan hukum lingkungan. Kalau orang buang sampah sembarangan bisa dihukum.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.