Bintang | Januari-Maret 2019

Rieka Roslan: Kampanye Menanam

Sudah seharusnya figur publik dilibatkan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan seperti, misalnya, menjadi Duta Lingkungan Hidup. “Tapi durasinya jangan terlalu lama, biar lebih banyak publik figur lagi yang bisa terlibat, misalnya 3 bulanan diganti,” katanya

Rina Kristanti

Penjelajah bentang alam dan voluntir pelestarian lingkungan.

IA sangat bersyukur pernah tinggal di Gili Meno, satu dari tiga Kepulauan Gili di barat laut Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Rieka tinggal di sana dari tahun 2002 hingga 2007 selepas keluar dari band jazz kenamaan, The Groove. “Saat saya tinggal di sana belum masuk listrik, jadi masih bisa lihat bintang jatuh kalau malam,” kata dia kepada Rina Kristanti dari Forest Digest. Kondisi yang masih alami tersebut banyak menginspirasi album ketiganya yang berjudul Mata Ketiga.

Selama di Gili Meno, selain menulis lagu, Rieka juga aktif mengajak masyarakat sekitar yang mayoritas turis asing untuk menanami lingkungan tempat tinggalnya dengan tanaman-tanaman yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Penyanyi 49 tahun ini selalu memilah sampah rumah tangganya, memisahkan sampah plastik dengan sampah lain.

Menurut penyanyi ini memang sudah seharusnya figur publik dilibatkan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan seperti misalnya menjadi Duta Lingkungan Hidup. “Tapi seharusnya durasinya jangan terlalu lama, biar lebih banyak publik figur lagi yang bisa terlibat, misalnya 3 bulanan diganti,” katanya. Boleh juga. Layak dicoba!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.