Bintang | April-Juni 2019

Malu Citarum

Meriza Febriani mengajak siapa pun yang membaca artikel ini untuk memulai merawat lingkungan sekitar yang paling kecil.

Fitri Andriani

Rimbawan IPB

SEBAGAI orang Bandung, Meriza Febriani Batubara akrab dengan Citarum—sungai terpanjang di pulau Jawa yang berhulu di danau Cisanti di Desa Tarumaja, Kecamatan Kertasari. Sungai yang bermuara di Laut Jawa di Bekasi itu menjadi sumber kehidupan hampir sepertiga orang Jawa Barat. Dan kini dinyatakan sebagai sungai terkotor di kolong langit. “Aduh, super prihatiiiin,” kata Meriza begitu disebut predikat Citarum itu. “Malu sebagai orang Indonesia.” 

Meriza Febriani

Menurut Meriza tercemarnya sungai Citarum otomatis akan mengganggu kesehatan, ekonomi, bahkan pola hidup penduduk di sekitarnya sepanjang 269 kilometer. Apalagi biota sungainya yang berubah dan musnah akibat tercemar segala jenis kimia pabrik dan sampah yang dibuang masyarakat itu. “Sedih, ya,” katanya kepada Fitri Andriani dari Forest Digest pada April lalu.

Karena itu Meriza mengajak siapa pun yang membaca artikel ini untuk memulai merawat lingkungan sekitar yang paling kecil. “Bijak mengurus sampah, memilahya, mengurangi pemakaian plastik dan botol plastik, tidak boros air,” kata ibu satu anak berusia 30 ini. “Itu saja dulu, sebelum bisa menanam dan merawat tanaman apa pun di rumah dan halaman.”

Lingkungan yang bersih, kata Meriza, bukan hal yang muluk-muluk jika dikerjakan dan praktikkan. Sebab, individu yang bersih akan melahirkan lingkungan yang bersih. Lingkungan bersih akan mewujudkan kota yang bersih. Kota bersih adalah penopang negara yang bersih. Jadi, apa yang harus kita lakukan? “Action,” katanya. “Lakukan sekarang juga.”

Kepada para milenial seusianya, Meriza berpesan agar memakai media sosial untuk “meracuini” masyarakat dengan hal-hal positif, seperti action menjaga dan merawat lingkungan itu. “Tunjukkan contoh yang baik. Itulah cara memakai media sosial yang bijak,” kata pemeran Sari, yang meraih pemeran pembantu terbaik dalam film Sang Kiai—tentang hidup pendiri Nahdlatul Ulama, K.H Hasyim Asyhari ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.