Bintang | Oktober-Desember 2018

Syaharani: Tugas Bersama Menjaga Alam

Jika kita bersahabat dengan alam, kita akan terhindar dari bencana.

Kaka Prakasa

Pemulung angka dan penggiat data, F/LOSS Enthusiast

BAGI Syaharani, menjaga lingkungan itu wujud rasa syukur telah diberi hidup dan yang membuatnya hidup. Tiap jalan-jalan pagi di sekitar rumahnya di Jakarta atau Surabaya, penyanyi jazz dengan suara serak yang khas itu selalu kagum pada mereka yang mempraktikkan cara hidup sehat yang berimbas pada lingkungan yang sehat. 

Salah satunya adalah tak terlalu banyak memakai bahan-bahan yang terbuat dari plastik untuk keperluan sehari-hari. Apalagi, mereka yang tak bosan terus-menerus menyuarakan pentingnya menjaga alam. “Jika kita bersahabat dengan alam, kita akan terhindar dari bencana,” kata penyanyi 47 tahun ini. 

Syaharani menyukai jalan ke gunung, meski sering juga ia treking di pantai. Buat dia, naik ke gunung itu nagih. Seperti ketika ia treking ke Coban Pitu di Pujon, kota kelahiran di selatan Malang, Jawa Timur. “Setelah tanjakan curam kita bisa lihat air terjun yang tujuh itu,” katanya. “Ternyata begitu naik masih ada empat lagi.” 

Treking juga cara Syaharani bersyukur hidup di Indonesia dengan alam yang kaya. Sebab dengan tahu alam itu kaya, katanya, kita akan terdorong melestarikannya. “Tugas menjaga alam itu adalah tugas kita semua,” kata dia kepada Kaka Prakasa dari Forest Digest sebelum naik panggung Dramaga Jungle Jazz awal September lalu.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.