Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|24 November 2020

Budidaya Jambu Mete di Rawa Gambut

Jambu mete termasuk pohon bandel yang cocok dibudidayakan di lahan rawa gambut. Ia bisa tumbuh di lahan gambut yang telah rusak dan tak perlu dirawat.

USAHA restorasi ekosistem tak akan berjalan tanpa melibatkan masyarakat. Apalagi di areal konsesi gambut yang rawan terbakar di musim kemarau. Permukiman dan perkebunan masyarakat yang berbatasan dengan konsesi adalah areal krusial yang acap kali menjadi sumber api dari sistem bakar dalam berladang. 

Setelah mempraktikkan pola tanam tanpa bakar tanpa kimia, Katingan-Mentaya Project juga menerapkan pola tanam pohon yang sesuai dengan rawa gambut. Tanam tanpa bakar dan kimia akan berakhir sia-sia jika masyarakat keliru menanam jenis pohon sehingga tak menghasilkan secara ekonomi.

Manajer Pengembangan Bisnis Katingan-Mentaya Project Hirason Hiroudono mengingat-ingat kapan ia memulai coba-dan-gagal jenis tanaman yang cocok untuk lahan gambut, terutama gambut yang sudah terdegradasi akibat pembakaran dalam pola berladang.

Waktu itu tahun 2016, ia baru bergabung dengan KMP. Di desa-desa sekitar konsesi KMP di Kalimantan Tengah banyak lahan telantar. Setelah dibakar dan ditanami lalu tak menghasilkan, penduduk meninggalkannya begitu saja.

Bagi Hirason, keadaan ini bisa berbahaya karena areal menjadi terbuka, bisa tumbuh tanaman bawah, dan konsesi terbakar sewaktu-waktu. “Dari penduduk saya tahu mereka telah berusaha menanam apa saja tapi gagal,” katanya.

Pada 2017, Kepala Desa Kampung Melayu meminjamkan lahan seluas 5 hektare. Hirason menjadikannya demplot. Di situ ia bereksperimen menanam pelbagai jenis tanaman yang cocok di tanah gambut yang rusak. Dari sekian banyak jenis tanaman yang ia coba, ada dua yang bertahan: petai dan jambu monyet.

Setelah ditimang-timang, Hirason memilih jambu mete. Petai, meski bernilai ekonomi cukup baik, Hirason melihat pemasarannya lebih sulit, apalagi jika hasilnya nanti melimpah.

Hirason mulai mengumpulkan biji-biji jambu monyet yang jatuh atau pun masih menempel di pohonnya. Anak-anak yang mengumpulkannya dan Hirason membelinya Rp 8.000 per kilogram.

Orang-orang tua terkejut bahwa jambu mete ada harganya. Selama ini mereka menyangka jambu mete hanya tumbuhan liar yang tak menghasilkan secara ekonomi. Mereka pun ikut mengumpulkan biji jambu mete kering dan menjualnya kepada KMP.

Dari interaksi itu, Hirason pun mulai sosialisasi rencana KMP mengembangkan dan membudidayakan jambu monyet. Ia meminta penduduk menanam jambu monyet di lahan-lahan yang telantar yang hasilnya akan diserap KMP.

Jambu mete juga sudah ada pasarnya. Hirason juga tinggal meniru model bisnisnya pada East Bali Cashew, merk kacang mete yang sudah mendunia dari Bali Timur yang digagas Rezal Kusumaatmadja, pendiri KMP.

Setelah konsultasi dengan Rezal, Hirason mendirikan rumah produksi di Desa Bantiang.

Ia juga mulai sosialisasi kepada masyarakat. Ia sampaikan rencana dan tujuannya agar penduduk memiliki pemahaman yang sama dan paham apa yang mereka lakukan.

Selain pembibitan, rumah produksi akan menampung hasil panen biji jambu monyet lalu mengolahnya di Sampit. Hirason dan timnya mengumpulkan biji-biji mete dan membelinya secara gelondongan dari penduduk.

Selain diolah menjadi cemilan, Hirason menjadikan sebagian bijinya untuk jadi bibit di demplot. “Kami terima biji-biji mete dari mana saja selama masih dari Kotawaringin Timur,” ujar Hirason.

Lambat tapi pasti, penduduk di beberapa desa mulai tertarik ikut menanam pohon jambu “Jambu monyet ini rupanya tanaman bandel,” kata Hirason. “Selain bisa tumbuh di lahan kritis, perawatannya tidak merepotkan. Tanam begitu saja, ia akan tumbuh.”

Jambu mete adalah investasi jangka panjang karena baru bisa pane pada usia 3-4 tahun. Sambil menunggu waktu panen, KMP juga mendorong masyarakat menanam jenis lain sebagai tumpang sari sehingga mereka tidak menganggur memanfaatkan lahan. “Dengan terus mengolah, penduduk akan menjaganya agar tak terbakar,” kata Hirason.

Untuk mendukung industri kacang mete, Hirason dan Tim Pengembangan Bisnis PT Rimba Makmur Utama—perusahaan yang menaungi KMP—berencana membangun pabrik berskala produksi lebih besar untuk menampung dan mengolah masa panen pada tiga tahun mendatang.

Artikel ini terbit atas kerja sama Forest Digest dan Katingan-Mentaya Project.

Intisiatif restorasi ekosistem seluas 157.000 hektare di Kalimantan Tengah yang dikelola PT Rimba Makmur Utama sejak 2013

Bagikan

Komentar

Artikel Lain