Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|31 Oktober 2020

Ketika Jambu Monyet Menggantikan Sawit

Masyarakat di Bangka Belitung merehabilitasi bekas galian tambang illegal dengan agroforestri. Menyelamatkan lingkungan sekaligus menguntungkan.

SETAHUN lalu, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung Batu Rusa Cerucuk di Bangka Belitung membentuk Kelompok Tani Hutan Jaya Bersama. Ada puluhan keluarga yang tergabung dalam organisasi baru ini. Mereka adalah nelayan dan petani di Desa Belo Laut, Bangka Barat. 

Bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Rambat Menduyung, BPDASHL mengajak masyarakat untuk memformulakan rehabilitasi bekas galian tambang ilegal yang menganga dan membahayakan. Penduduk sudah lama menanami bekas-bekas galian tambang timah itu namun tak terstruktur dan sporadis.

Sejak pembentukan KTH, BPDASHL mengajari mereka cara menanam pohon yang benar dan mempraktikkan agroforestri—menggabungkan pohon berkayu dengan tanaman buah-buahan dan sayuran bahkan padi—sekaligus menyediakan bibitnya. Rehabilitasi itu dimulai pada tujuh bulan lalu.

Selain itu, "kolong"—sebutan penduduk lokal untuk bekas galian tambang—juga diubah menjadi balong atau kolam ikan. Mereka membudidayakan beberapa jenis ikan seperti nila, gabus, dan betok.

Sebelum BPDASHL datang ke sana, masyarakat menanami bekas galian tambang timah itu dengan aneka tanaman sendiri-sendiri di lahan seluas 10 hektare. Amin, misalnya, lima tahun lalu menanam 70 batang sawit yang kini tingginya sudah 1,6 meter.

Ketika BPDASHL dan KPH Rambat Menduyung membentuk KTH, Amin setuju mengganti tanamannya dengan pohon yang lebih lestari, yakni pohon berkayu. Ini merupakan keputusan kelompok karena diputuskan bersama dalam musyawarah. Mereka lalu merembukkan tanaman yang cocok dengan bekas galian tambang yang berpasir itu.

Akhirnya, mereka setuju menanam jambu mete, yang dipadukan dengan tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, terong dan kolam ikan. Tanpa ragu, Amin menebang sawitnya sendiri, lalu menggantikannya dengan tanaman yang disepakati kelompok.

Menurut Tekstiyanto, Kepala BPDASHL Baturasa Cerucuk, tak semua tanaman atau pohon cocok ditanam di bekas galian tambang berpasir. “Jambu mete itu cocok,” katanya 

Andre, Ketua KTH, mengatakan jambu mete relatif bersahabat dengan wilayah berpasir. Karena itu, mereka hendak meluaskan rehabilitasi hingga 20 hektare.

Menurut Andre, masyarakat berencana segera mengajukan permohonan Hutan Kemasyarakatan (HKm) kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Provinsi (Pokja PPS) Bangka Belitung akan memfasilitasinya.

Penduduk Desa Belo Laut membuktikan galian tambang bisa diberdayakan dengan rehabilitasi untuk mencegah degradasi sekaligus menghasilkan secara ekonomi.

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain