Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|10 November 2020

Teknik Baru Mengolah Kebun di Lahan Gambut

Teknik tanam tanpa bakar tanpa kimia cocok untuk lahan gambut yang sudah subur secara alamiah. Dua petani Kalimantan ini membuktikannya.

HAMPIR seumur hidupnya yang 50 tahun, Rampet tinggal di Desa Bapinang Hilir Laut, sebuah desa yang ada di dalam kawasan konsesi Katingan-Mentaya Project (KMP) di Kalimantan Tengah. Ia kini menghabiskan waktunya dengan berladang organik.

Sebetulnya, berladang organik tak ia akrabi karena sejak muda, laki-laki ini membuka ladang memakai api dan merangsang pertumbuhan tanaman dengan pupuk kimia. Ia menyadari cara lama ini keliru ketika ikut pelatihan pola tanam Tanpa Bakar Tanpa Kimia (TBTK) pada 2019 dan bertemu dengan Gandi Ali Mardana, penggerak kelompok tani di Sleman, Yogyakarta, yang jadi mentornya.

“Alam kok mau dilawan,” kata Rampet, menirukan omelan Gandi. Pulang ke Kalimantan Tengah, ia mempraktikkan pelajaran berladang organik di kebunnya.

Mengenang masa sebelum mengenal cara baru dalam berladang, Rampet bercerita bahwa ia dan penduduk desa terbiasa membakar lahan ketika membuka lahan dengan asumsi tanahnya akan subur. “Siklusnya tebas, bakar, tanam, tebas, bakar, tanam. Begitu terus selama puluhan tahun,” kata dia.

Pada 2015, Rampet berkenalan dengan pupuk kimia sintetik yang membuatnya tidak lagi menjadi peladangberpindah. Kesuburan lahan yang sudah dibuka dengan membakarnya bisa dipertahankan dengan menyebarkan pupuk kimia sintetik, sementara herbisida ia pakai untuk mengontrol gulma. Namun, pemakaian pupuk kimia ini justru mempercepat kerusakan tanah. Indikatornya, produktivitas kebun yang menurun dari panen ke panen. “Setelah panen, cabai layu tiga hari kemudian,” katanya.

Secara ekonomi pun, memakai pupuk kimia sintetik menyedot biaya tak sedikit. Uangnya habis untuk membeli pupuk. Soalnya, agar tanah tetap subur, Rampet harus menambah dosis pupuk tiap kali musim tanam dibanding musim tanam sebelumnya. Belum lagi biaya membasmi hama yang kian hari kian beragam.

Maka ketika ada tawaran mencoba pola tanam baru, Rampet dan sejumlah petani di desanya menyambut dengan antusias. Rampet terpilih bersama enam petani lain di desanya mengikuti pelatihan di Yogyakarta.

Pelatihan pola tanam TBTK adalah kerja sama Katingan-Mentaya Project dengan tim Subur Plus. Pelatihan ini, antara lain, bertujuan mengurangi potensi kerusakan hutan akibat pembukaan maupun penyuburan lahan dengan api dan pupuk kimia.

Kerja sama Subur Plus dan KMP dimulai pada 2016. Untuk menemukan solusi atas problem petani di Katingan-Mentaya, tim Subur Plus mengamati perilaku pangkas dan bakar oleh para petani dalam membuka lahan. Menurut Nico Wanandy, anggota tim Subur, pola bakar itu sudah berjalan turun temurun, sewaktu generasi peladang awal masih menempati areal lahan mineral.

Para petani membuka lahan untuk membersihkan rumput dan semak liar sebelum menanam. “Pangkas dan bakar di tanah mineral tak terlalu menjadi masalah karena karakter tanah mineral tidak menyimpan banyak gas,” kata Nico.

Masalahnya, ketika mereka berpindah mengolah lahan gambut, api menjadi masalah. Tanah gambut terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk selama bertahun-tahun di lahan yang basah. Ketika lahan mengering, terutama di musim kemarau, karakteristik gambut menjadi serupa dengan kayu kering atau batu bara yang mudah terbakar. Maka membakar untuk membuka lahan akan mendorong risiko degradasi ekosistem.

“Jika terbakar, gas-gas itu terlepas ke udara dan dalam level tertentu bisa mempercepat kerusakan ozon yang mempengaruhi perubahan iklim global,” kata Nico. “Selain itu api di tanah gambut sulit sekali dipadamkan karena tidak hanya menjalar di permukaan, juga di bawah permukaan tanah dengan arah dan durasi yang tidak bisa diperkirakan.”

Di sisi lain, tanah gambut memiliki tingkat kesuburan tinggi karena berbentuk lapisan pupuk organik alamiah. Karena itu, pemakaian pupuk kimia sintetis akan mengurangi kesuburan tanah dengan mengikis unsur hara yang terkandung di dalamnya. Pupuk kimia sintetik cenderung mendorong stok karbon keluar dari permukaan tanah. Jika stok karbon di tanah berkurang, asam humus tanah juga berkurang dan dalam jangka waktu tertentu tanah akan mengeras dan kesuburannya pun terganggu.

Dengan memahami pola tanam yang berlaku di masyarakat, Tim Katingan Mentaya Project mulai menyusun pola tanam tanpa bakar tanpa kimia (TBTK) dengan prinsip slash and mulch (pangkas dan mulsa). Dengan teknik ini, rerumputan dan semak yang sudah ditebas tak lagi dibakar melainkan dicacah sebagai bahan baku media pelapis tanah. Untuk menggantikan pupuk kimia sintetis, tanah diimbuhi ‘air subur’ yang terdiri dari campuran air dan mikroba bakteri penyubur tanah.

Tim Subur Plus mengenalkan pola ini kepada tujuh peladang jangkar ketika mereka mengikuti pelatihan di Yogyakarta. Mereka dilatih membuat campuran air subur dan pupuk dari limbah organik, diajari memperlakukan lahan sebelum ditanami, sampai cara menanam dan kombinasi jenis tanamannya.

Sayedi, seorang peserta, mengatakan pelatihan ini membuat cara pandang mereka terhadap teknik bertanam di lahan gambut berubah total. Satu hal yang membekas di benak mereka ialah pemahaman bahwa tanah bukanlah alat produksi layaknya perkakas atau mesin yang bisa dipaksa berproduksi semaunya.

Tanah adalah bagian vital dari ekosistem yang memiliki polanya sendiri. “Karena itu tanah: kata Sayedi. Maka setelah dipanen, sebelum diolah lagi sedemikian rupa, ada masa petani menenangkan tanah dan memberi waktu mereka memulihkan diri.

***

HAMPIR setahun berlalu sejak Rampet dan Sayedi mempraktikkan pola tanam bakar tanpa kimia yang mereka pelajari di Yogyakarta. Hasil panen pun sudah mereka petik, dari cabai, terong, hingga beras. Hampir semuanya melebihi harapan mereka.

Cabai itu sewaktu masih memakai cara lama hanya menghasilkan sekitar 20 kilogram per panen. Kini mereka menghasilkan 40 kilogram sekali panen. “Setelah panen pun tanaman masih berbuah,” kata Rampet.

Kualitas cabai juga bagus, dalam arti buahnya segar lebih dari sepekan setelah dipetik. Rampet sampai bingung menghabiskan cabai karena panen melimpah, setelah dijual, konsumsi sendiri, dan dibagi ke tetangga, cabainya masih melimpah. Akhirnya ia berikan cabai sisa kepada staf KMP dan diolah menjadi cabai bubuk kering.

Sementara Sayedi panen terong. Ia bercerita mengenai panen terongnya yang tembus 150 kilogram. “Besar-besar pula terongnya,” kata dia.

Lebih dari itu, Rampet maupun Sayedi mengatakan bahwa pola TBTK ini membuat mereka lebih tenang dalam mengolah lahan. Mereka tak lagi terbebani dengan pengeluaran untuk biaya pembelian pupuk kimia sintetik yang dulu sering kali menyamai pendapatan panen. Selain itu, pola tanam TBTK memberikan rutinitas bagi Rampet dan Sayedi dengan tahapan-tahapan yang perlu dijalankan setiap hari. Tak ada lagi masa-masa vakum, semua waktu terpakai untuk mengurus lahan. 

“Sekarang sebelum masuk musim tanam padi, kami sedang coba menanam jahe,” kata Sayedi.

Artikel ini terbit atas kerja sama Forest Digest dan Katingan-Mentaya Project.

Intisiatif restorasi ekosistem seluas 157.000 hektare di Kalimantan Tengah yang dikelola PT Rimba Makmur Utama sejak 2013

Bagikan

Komentar

Artikel Lain