Laporan Utama | April-Juni 2018

Simalakama Api dalam Semak

Kebakaran menjadi momok hutan gambut. Mengendalikannya tak cukup dengan mengatur ketinggian air.

Siti Sadida Hafsyah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

KEBAKARAN besar tahun 2015 menyentak semua orang akan kerentanan lahan gambut terhadap api. Meski bukan hal baru di kalangan para rimbawan karena gambut adalah serasah yang tertimbun ribuan tahun yang mudah terbakar, toh kejadian itu mendorong pemerintah membuat kebijakan menunda izin pembukaan baru kebun sawit di lahan ini.

Sawit dan gambut seolah kombinasi maut menghasilkan jilatan api yang memproduksi asap pekat hingga sampai ke penciuman negara tetangga. Api identik dengan kekeringan, kekeringan identik dengan kurangnya air. Di gambut, kekurangan air itu terjadi karena volumenya tak diatur. “Air akan membuat kelapa sawit membusuk,” kata I Nyoman Suryadiputra, Direktur Eksekutif Wetlands International.

Pemilik konsesi kebun kepala sawit yang lahannya ada di hutan gambut kemudian menguras air di lahan itu. Akibatnya, serasah menjadi kering dan mudah terbakar bahkan jika pemicunya panas matahari yang bersinar terus menerus. Gambut umumnya ada di daerah cekungan dengan suhu lembap: Sumatera, Kalimantan, Riau, Papua.

Selain faktor alam, guru besar kebakaran hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Bambang Hero Saharjo menemukan bahwa penyebab kebakaran adalah by design, artinya sengaja dibakar untuk keperluan land clearing sebelum ditanami. “Penelitian kami tak hanya kebakaran 2015 tapi kejadian sebelumnya,” kata Bambang.

Center for International Forestry Research (CIFOR) menemukan data lebih mencengangkan. Peneliti CIFOR mengamati titik-titik api di hutan-hutan Indonesia melalui satelit, menemukan kecenderungan yang mengejutkan: kebakaran terjadi tiap menjelang pemilihan umum. Kepala daerah yang maju kembali dalam pemilihan memberi izin kepada masyarakat membakar lahan, terutama gambut, sebelum mereka menanaminya kembali. “Ada banyak politik di lapangan,” kata Herry Poernomo, peneliti CIFOR, saat peluncuran hasil penelitian itu, seperti dikutip web lembaga penelitian di Bogor ini.

Menurut Herry, ada hubungan positif antara meningkatnya kebakaran di lahan gambut dengan pemilihan kepala daerah. CIFOR memakai data The National Aeronautics and Space Administration (NASA) selama 15 tahun sebelum sampai pada kesimpulan gambut dibakar untuk kepentingan politik pemilihan.

Penelitian itu juga menemukan bahwa sepertiga luas lahan yang terbakar, totalnya 2,6 juta hektare, terjadi di lahan tidur atau rusak. “Tapi 35 persen titik api ada di lahan produktif,” kata Herry. “Termasuk sawit dan akasia.”

Artinya, lahan tidur itu akan kembali “tidur” setelah apinya padam. Masyarakat atau industri akan kembali tergoda mengelola dan mengolahnya kembali ketika memasuki musim tanam dan paceklik. Mereka akan membersihkannya dengan cara cepat, murah, dan berbahaya: dibakar. Sebuah siklus pengelolaan hutan yang liar dan mengkhawatirkan.

Sementara untuk lahan produktif, kebakaran ditujukan untuk alih fungsi menjadi bentuk peruntukan lain, seperti pertanian dan perkebunan. “Di banyak wilayah Indonesia, perencanaan tata ruang tak dijalankan dengan semestinya,” kata Herry.

Sebagai perusahaan pemegang konsesi hutan tanaman industri, Asia Resources Pacific International Holdings Ltd (APRIL) mengklaim tak ada lagi kebijakan perusahaannya membakar lahan. “Upaya kami lebih ke arah pencegahan, karena pencegahan lebih efektif daripada pemadaman kebakaran hutan,” kata Dian Novariana, Deputy Director of Corporate Affairs APRIL.

Menurut Dian, tidak ada alasan meyakinkan bagi perusahaan membakar lahannya sendiri. “Karena aset utama kami itu HTI,” kata dia. Jika dibakar, kata Dian, justru merusak aset utama perusahaan.

Di wilayah konsesi APRIL, titik api berasal dari kegiatan masyarakat saat mengklaim lahan dan membersihkannya. Sehingga, kata Dian, upaya perusahaan lebih pada mencegah masyarakat agar tak membakar kawasan hutan yang bisa merembet ke wilayah konsesi mereka. “Kami memberikan penyuluhan untuk memberi pemahaman terkait bahaya kebakaran hutan,” kata Dian.

Untuk lahan gambut, Dian mengklaim perusahaannya telah membuat pengelolaan air melalui kanal untuk mendukung budidaya di lahan gambut. Ketinggian air disesuaikan zona dengan mendasarkannya pada peta kontur sehingga kanal tak menyilang topografi.

Sejauh ini, menurut Nyoman Suryadiputra, cara terbaik mengendalikan api di lahan gambut adalah dengan mengatur tinggi muka air agar semak dan serasah itu tetap basah sehingga api tak menyulutnya dengan cepat. Menyetop air di kanal dengan menutupnya adalah cara ampuh agar air meresap ke seluruh pedalaman lahan gambut. Peraturan Pemerintah Nomor 71/2014 mewajibkan tinggi muka air adalah 40 sentimeter.

Peraturan itu juga membagi lahan gambut menjadi dua: untuk budidaya dan fungsi lindung. Budidaya jika ketebalan gambutnya di bawah 3 meter dan lindung jika di atas 3 meter. Badan Restorasi Gambut mencatat hampir 2 juta lahan gambut yang rusak dan harus segera direstorasi.

Moratorium izin baru kebun sawit turut membantu teknik ini berjalan di lapangan karena airnya tak dikuras dan dikeluarkan melalui kanal agar sawit tumbuh dan tak membusuk karena terlalu basah. “Maka jangan tunda moratorium,” kata Nyoman.

Selama moratorium itu, Nyoman menyarankan agar pemerintah bekerja sama dengan semua stakeholder yang terlibat dalam gambut mendata lahan gambut yang mencapai 15 juta hektare di Indonesia, separuh dari luas total lahan gambut di seluruh dunia. Data ini akan menjadi acuan, mana saja lahan gambut yang sudah rusak dan harus direstorasi, mana lahan untuk budidaya, dan mana lahan yang harus ditukar guling.

Land swap menjadi solusi sementara untuk mengganti lahan milik perusahaan yang ada di daerah gambut rusak. Lokasinya ada di pelbagai wilayah. Masalahnya, nilai ekonomi dan sosial, serta ekologinya tentu lain. Pengusaha pasti akan menimbang tiga aspek ini sebelum setuju wilayah konsesinya ditukar dengan jumlah yang sama di wilayah lain yang memerlukan biaya baru untuk mengolahnya.

Gambut pun menjadi simalakama sejak dari teknis pengelolaannya. Jika airnya dikuras lahan menjadi kering yang akan memudahkan percikan api, dibiarkan atau dibendung akan membuat tanaman di atasnya mati. Bagi pengusaha, punya konsesi yang tak bisa dimanfaatkan bisa digolongkan kerugian ekonomi.

Menurut Bambang Hero, batas tinggi muka air gambut 40 sentimeter dari permukaan gambut sudah melalui kajian ilmiah. “Ini batas yang bisa mencegah kebakaran dan tanaman tidak akan mati,” kata Bambang. Ia menyarankan agar pengusaha tak perlu cemas dengan batas muka air ini.

Tingkat produktivitas tanaman karena pengaruh tinggi muka air ini menjadi alasan pengusaha keberatan dengan batas tersebut. Menurut Bambang, menurunnya produktivitas tanaman karena muka air 40 cm belum terbukti secara ilmiah. Kesediaan pengusaha menjalankan aturan ini menjadi krusial karena 1,5 juta hektare lahan gambut yang akan direstorasi BRG berada di lahan konsesi.

Fitri Andriani dan Mustofa Fato berkontribusi dalam laporan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.