Reportase | Januari-Maret 2020

Kopi Codot dari Tanggamus

Studi di Hutan Kemasyarakatan Beringin Jaya di Lampung oleh mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB terhadap potensi ekonomi kopi codot dari Tanggamus, Lampung. Tiga tujuan hutan sosial belum tercapai karena lemahnya organisasi petani.

Milka Priskila

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

EKSPEDISI Himpunan Profesi Mahasiswa Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor tahun 2019 ke Kabupaten Tanggamus, Lampung. Karena dua tahun terakhir tema ekspedisi Forest Management Student Club adalah perhutanan sosial, kami mengunjungi sejumlah kelompok tani yang menggarap hutan kemasyarakatan. Ekspedisi tak hanya meneliti keanekaragaman hayati tapi juga keadaan masyarakat sekitar hutan.

Kami berada di Desa Margoyoso di Sumberejo selama sepekan, 29 Juli-8 Agustus 2019, persisnya di Hutan Kemasyarakat Beringin Jaya. Masyarakat desa itu mengelola kawasan hutan lindung di Register 30 Gunung Tanggamus berdasarkan izin Menteri Kehutanan Nomor 886/Menhut-II/2013 dan izin Bupati pada 2014 seluas 871 hektare.

Hutan kemasyarakatan itu dikelola delapan kelompok: Lestari Jaya 1 hingga 8 plus Kelompok Wanita Tani Himawari. Tiap kelompok punya anggota 446 orang kepala keluarga. Mereka berada di bawah bimbingan Kesatuan Pengelola Hutan Lindung Kota Agung Utara dan lembaga swadaya masyarakat Konsorsium Kota Agung Utara (Korut).

KWT Himawari mengembangkan kopi yang mengolahnya menjadi tiga produk: kopi codot, kopi petik merah, dan kopi premium. Kopi codot adalah kopi unik yang hanya ada di Tanggamus. Seperti kopi Luwak yang diambil dari tinja Luwak, kopi codot adalah biji kopi sisa makan Codot—sejenis kelelawar—yang hanya memakan daging dari buah kopi merah. Biji kopi itulah yang dipungut petani perempuan Himawari.

Kopi codot punya aroma dan rasa yang khas. Sebelum petani mendapatkan izin hutan sosial dan mengembangkan produksi kopi, mereka mengonsumsinya sendiri atau menjualnya dengan harga murah. Ketua Himawari Eka Nur Fitriasari mengatakan ketika pertama menjualnya, reaksi pasar langsung bagus. Harga kopi Codot mentah laku Rp 40 ribu per kilogram.

Karena masih tradisional, pengelolaan kopi oleh Himawari masih tergolong merugi, bahkan tidak layak jika memakai perhitungan-perhitungan modern memakai perhutangan Net Present Valu (NPV) atau nilai barang pada masa mendatang yang diukur hari ini, Internatl Rate Return (IRR) atau discount rate yang menyamakan nilai sekarang (present value) dari arus kas masuk dan nilai investasi usaha, serta Benefit Cost Rasio (BCR) atau rasio penghasilan dengan biaya produksi.

Nilai ekonomi kopi codot Tanggamus, Lampung.

Dari analisis kami, capaian dari angka-angka yang rendah itu karena produksi kopi tidak dilakukan secara optimal. Jika optimal akan mampu mencapai hingga 7.200 kilogram dan memenuhi model optimal yang sesuai dengan syarat kelayakan usaha. Hal lain, Himawari tidak mengolah produk kopi secara rutin karena ketiadaan pasar yang menampung produk mereka. Mereka baru produksi kopi begitu ada permintaan. Padahal, kapasitas alat giling 5 kilogram per proses roaster sehingga pemanfaatan mesin tersebut belum maksimal.

Apabila model optimal bisa dilakukan, Himawari akan mendapatkan keuntungan jauh lebih besar. Selain itu, akan muncul multiplier effect berupa penyerapan tenaga kerja yang lebih besar dan penyerapan bahan baku biji kopi basah dari HKm Beringin Jaya.

Problem lain pengelolaan hutan sosial di Beringin Raya adalah rendahnya pengetahuan petani akan program ini. Dari wawancara dengan 37 petani, terlihat bahwa umumnya para petani merasa tak meningkat penghasilan mereka sebelum dan sesudah mendapatkan izin mengelola hutan lindung. Sebelum 2013, mereka dikategorikan perambah hutan. Hingga 2019, mereka tetap saja menjual hasil hutan kepada tengkulak sehingga harga kopi tidak pernah stabil.

Untuk membebaskan petani dari tengkulak, pada 2015, Beringin Jaya membentuk koperasi. Menjual ke tengkulak membuat petani selalu berada dalam posisi rendah dan tertekan. Mereka tak bisa menentukan harga kopi dan produk hutan mereka bahkan dipaksa berutang dengan bunga tinggi untuk keperluan di luar mengurus ladang, seperti sekolah anak-anak. Pengurus koperasi berusaha meneruskan produk petani langsung kepada pembeli besarnya.

Koperasi kian berdaya setelah mereka mendapatkan pinjaman modal bunga rendah dari program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi dari BRI, sebesar Rp 1,76 miliar. Pembayaran pinjaman mereka bayar secara tanggung renteng sehingga hukuman sosial berlaku jika ada anggota yang telat membayar.

Meski begitu, pengelolaan hutan sosial Beringin Jaya masih terengah-engah. Meski begitu, petani umumnya paham mereka mengelola hutan lindung sehingga mereka mengerti sistem zonasi yang menjadi syarat pengelolaan hutan sosial. Karena itu, kelestarian hutan meningkat karena tak ada lagi kerusakan hutan seperti penebangan ilegal. Izin hutan sosial juga membuat mereka tenang menggarap lahan tanpa harus kucing-kucingan dengan polisi hutan.

Karena kopi merupakan tanaman yang butuh naungan, petani menanam pohon berkayu sebelum menaburkan benih kopi. Mereka memilih pohon naungan pancang. Akibatnya, hutan lindung dan hutan produksi kembali hijau karena pohon-pohon terawat. Meski begitu, biodiversitas dan regenerasi tanaman kehutanan tergolong rendah karena dominannya jenis kopi.

Dominasi kopi dibanding pohon berkayu terpengaruh oleh stereotip yang berkembang di masyarakat Tanggamus bahwa penanaman pohon selain kopi menyebabkan luas lahan garapan berkurang sehingga menurunkan hasil panen kopi. Padahal, di banyak tempat, kopi justru subur jika makin banyak pohon penaungnya.

Terlepas dari itu, beberapa petani mulai menanam pohon-pohon multiguna seperti pala, alpukat, dan cengkeh. Beberapa pohon kehutanan juga ditemukan di sana seperti jenis mahoni, sonokeling, dan surian.

Dari segi fauna, spesies yang dijadikan objek adalah serangga terbang dengan jalur berjumlah 20 berukuran 20 x 100 meter. Jumlah famili yang mendominasi adalah dari ordo Lepidoptera dengan berbagai jenis yang dapat dilihat pada tabel. Namun, kekayaan jenis dan keanekaragamannya rendah karena jenis tumbuhan yang ada juga tidak beragam sehingga tidak menunjukkan habitat hutan yang lebih stabil.

Spesies dominan di HKm Beringin Jaya adalah famili Libellulidae. Kami menemukan sebanyak 273 individu yang salah satunya adalah capung. Jumlah capung yang tergolong banyak menunjukkan bahwa kualitas air di HKm Beringin Jaya bisa dikategorikan tidak tercemar. Capung merupakan bioindikator untuk mengetahui kondisi lingkungan, khususnya air, yang masih seimbang.

Dari hasil penelitian tersebut, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan sehingga bisa mendekatkan pengelolaan hutan sosial dengan tujuannya, yakni memberikan nilai ekonomi, meredam konflik sosial, dan mencapai keseimbangan ekologis hutan. Manajemen organisasi perlu dibenahi agar anggota merasa terlibat sehingga arus informasi dan program terkirim secara merata.

Setelah itu, ada kerja sama dengan industri untuk menampung produk hasil hutan mereka. Karena itu mereka perlu mendapat pelatihan produksi hasil hutan agar suplainya bisa mengimbangi permintaan jika sudah masuk skala industri. Para pendamping dan KPH bisa memberikan pelatihan-pelatihan rutin kepada anggota kelompok.

Kontributor: Diki Setiadi Permana

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain