Bintang | Januari-Maret 2020

Rahmania Astrini: Timbal Balik Alam

Cara sederhana menjaga dan menyelamatkan lingkungan, menurut Rahmania Astrini, adalah dengan tertib membuang sampah ke tempatnya, untuk diangkut dan diolah menjadi produk lain yang bisa dimanfaatkan kembali.

Rifky Fauzan

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

BANJIR, longsor, dan bencana alam lain yang kian sering terjadi hari-hari ini, menurut Rahmania Astrini, akibat perubahan iklim yang membuat bumi memanas sehingga mengubah arah musim. Semua kejadian itu, menurut Penyanyi Solo R&B Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2019 ini, adalah respons alam terhadap cara manusia berhubungan dengan alam. “Salah satu akibat kita sembarangan buang sampah dan konsumtif memakai plastik,” kata dara kelahiran Amerika Serikat 18 tahun lalu itu.

Karena itu, menurut Astri, cara sederhana menjaga dan menyelamatkan lingkungan adalah dengan tertib membuang sampah ke tempatnya, untuk diangkut dan diolah menjadi produk lain yang bisa dimanfaatkan kembali. Ia ingin cara ini ditiru oleh para penggemarnya di mana pun sehingga lingkungan menjadi terjaga dan manusia terhindar dari bencana. “Sebaiknya kita lebih peduli kepada lingkungan,” katanya. “Ketahui dampak- dampak apa saja yang terjadi ketika kita tidak merawat lingkungan dan hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan mencegahnya di lingkungan sendiri.”

Astri mengingatkan bahwa lingkungan adalah tempat tinggal manusia sehingga jika ia rusak karena ulah kita, manusia pula yang terkena imbasnya. Untuk lebih mendorong keterlibatan anak muda peduli terhadap alam, Astri berencana membuat album dengan tema semesta. “Bahkan terjun langsung sebagai volunteer memperbaiki lingkungan,” kata dia.

Rahmania Astrini (IG: @rahmaniaastrini)

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.