Teknologi | Oktober-Desember 2019

Tobarium: Parfum Kemenyan Danau Toba

Kemenyan telah diolah menjadi parfum yang mendapat penghargaan di Jerman. Inovasi pertama di Indonesia.

Aswandi

Peneliti pada Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Sumatera Utara

KEMENYAN merupakan getah atau resin yang dihasilkan oleh pohon Kemenyan melalui proses penyadapan. Di dunia terdapat tujuh jenis kemenyan yang menghasilkan getah, namun hanya tiga jenis yang dibudidayakan di Indonesia dan bernilai ekonomis: kemenyan durame (Styrax benzoin Dryand), kemenyan bulu (S. benzoin var. hiliferum), dan kemenyan toba (S. sumatrana J.J.Sm sinonim S. paralleloneurum). Jenis terakhir lebih disukai petani karena memiliki kualitas getah yang lebih padat serta harga jual yang relatif lebih tinggi.

Kemenyan telah digunakan berbagai bangsa sejak 5.000 tahun lalu, baik untuk ritual keagamaan maupun kesehatan. Bahkan resin ini digunakan untuk bahan pengawet mumi raja di Romawi dan fir’aun di Mesir Kuno. Pada masa itu, hingga beberapa abad kemudian, kemenyan tergolong barang mahal yang nilainya sebanding dengan emas.

Sejak abad pertengahan kemenyan telah digunakan sebagai bahan baku industri, penambah aroma rokok, obat-obatan, bahan kosmetika, farmasi, dan pengawet makanan, dan minuman. Senyawa-senyawa yang terkandung antara lain asam sinamat, asam benzoat, styrol, vanillin, styracin, coniferil benzoate, coniferil sinamate, resin benzoeresinol dan suma resinotannol. Penelitian terkini mengidentifikasi senyawa minor yang terdapat di dalam kemenyan diantaranya incensol yang memiliki efek menenangkan pikiran (antidepressant).

Petani menyadap kemenyan di hutan sekitar Danau Toba (Dok. Aswandi)

Di Kawasan Tapanuli, Sumatera Utara, budidaya kemenyan yang berlangsung sejak abad ke-17 telah memberikan kontribusi yang besar terhadap ekonomi rumah tangga petani, yaitu sebesar 70%-75%. Namun pengelolaan hajat hidup masyarakat Tapanuli ini belum optimal, karena teknik budidaya yang masih tradisional, turun-temurun, dan cenderung tidak meningkatkan sosial-ekonomi rumah tangga secara berarti, bahkan mengalami degradasi.

Saat ini banyak petani menelantarkan kebun kemenyannya atau menggantinya dengan komoditas lain. Hal ini mengakibatkan penurunan luas tegakan dari 24.077 hektare tahun 2007 menjadi 22.005 hektare pada 2012. Produksi getah kemenyan mencapai 6.060 ton pada tahun 2008, menurun hingga 4.620 ton pada tahun 2012 (BPS Sumatera Utara, 2013).

Sebagai salah satu komoditas unggulan, pengelolaan sumber daya kemenyan menghadapi berbagai persoalan, tidak hanya teknologi peningkatan produktivitasnya, namun juga terkait persoalan kelembagaan, kebijakan, dan ekonomi. Tataniaga yang cenderung monopolistik, informasi pasar yang tertutup, fluktuasi harga, grading yang tidak transparan, ketidakseimbangan distribusi margin keuntungan pada sistem tata niaga, ketiadaan regulasi harga dari pemerintah, dan relatif tidak adanya peningkatan nilai tambah produk dari petani sampai dengan eksportir, merupakan beberapa kesenjangan yang harus diatasi segera, jika kita ingin mengembalikan kedigdayaan produk lokal.

Resin pohon kemenyan (Dok. Aswandi)

Ribuan ton resin mentah itu juga diekspor dengan harga murah. Ironisnya, produk jadi kemenyan kembali ke Indonesia dengan nilai impor yang wah. Karena itu kita perlu membuat inovasi agar kemenyan bisa diolah menjadi produk jadi dan diekspor dalam bentuk produk siap pakai sehingga nilai tambahnya besar. Salah satunya bisa diolah menjadi parfum.

Tidak banyak yang mengetahui jika kemenyan sejatinya memiliki aroma yang wangi dan lembut. Berabad masa, wangi kemenyan terasosiasi dengan aroma pembakaran dupa. Formula wangi kemenyan ini tidak tergali sehingga resin pohon tersebut dihargai sangat murah.

Inovasi parfum kemenyan merupakan produk inovasi yang diarahkan untuk mengisi celah riset serta menjawab permasalahan yang dihadapi komoditas multidimensi manfaat baik sebagai sumber penghidupan maupun perkembangan sosial budaya dan peradaban. Peningkatan nilai tambah salah satunya ditempuh dengan mengolah resin menjadi produk parfum bernilai ekonomi tinggi.

Parfum ini merupakan inovasi pertama di Indonesia. Proses pengolahan dimulai dari ekstraksi resin kemenyan padat menjadi minyak kemenyan murni. Dipadukan dengan berbagai minyak atsiri dari flora hutan tropis Indonesia, minyak kemenyan menjadi pengikat (fix agent) yang diformulasikan dengan mempertimbangkan gradasi aroma yang sesuai dengan lepasnya partikel masing-masing minyak atsiri penyusun. Sehingga parfum jadi wangi, tahan lama dengan sensasi aroma yang berbeda sepanjang waktu.

Tobarium, produk parfum resin kemenyan Danau Toba (Dok. Aswandi)

Berbeda dibandingkan pewangi yang banyak beredar di pasar, parfum kemenyan Tobarium tidak mengandung alkohol, memiliki konsentrasi tinggi sehingga aromanya mampu bertahan lama hingga 16-24 jam. Selain wangi dan menyegarkan, parfum juga dapat menenangkan pikiran sebagai aroma terapi dan antidepressant, efek yang tidak dimiliki parfum lainnya.

Saat ini parfum Tobarium (dari kata ‘Toba” yang merujuk lokasi asal kemenyan dan “rium” yang berarti ilmu pengetahuan) telah tersedia dalam tujuh varian aroma yakni Rizla (floral fresh), [email protected] (floral fruit), Jeumpa (cempaka), Azwa (woody), Aphis (green oceanic), Tiara (oriental) dan Sylva (forest) yang juga merepresentasikan personality masing-masing penyuka parfum ini.

Prospek pasar lumayan besar karena ceruk kebutuhan produk parfum yang mencapai US$ 401 juta pada tahun 2008 yang selama ini diisi parfum impor. Produk ini menggali formulasi wangi komoditas yang juga dikenal sebagai dupa yang digunakan oleh hampir semua agama dan kepercayaan di dunia. Dampak kegiatan pengembangan produk antara lain peningkatan nilai tambah produk sehingga ekonomi masyarakat meningkat.

Pembangunan industri pengolahan di dalam negeri dan di sekitar lokasi suplai bahan baku amat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi sehingga daya saing produk nasional semakin tinggi. Produk yang dihasilkan akan membangun kebanggaan bangsa atas produk hasil inovasi putra nasional.

Apresiasi terhadap inovasi ini salah satunya adalah lolos seleksi Hilirisasi Produk Unggulan PUI 2019 yang diselenggarakan Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan diikutkan pada Indonesia Innovation Day (IID) di Jerman pada akhir Juni 2019.

Artikel ini ditulis bersama Cut Rizlani Kholibrina, peneliti pada Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.