Bintang | Oktober-Desember 2019

Jeff Smith: Belajar dari Hutan

Sifat asli setiap orang, kata Jeff, akan keluar saat di hutan, dalam kondisi susah sehingga mereka bisa keluar dari zona nyaman. Mereka yang manja, malas, gampang emosional, akan muncul saat berada di rimba.

Fakhri Muhammad Saragih

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

BAGI Jeffrey Mark Smith hutan tak hanya menjadi penyedia air, penghasil oksigen, dan berbagai manfaat lain yang sangat dibutuhkan manusia dan mahluk lain penghuni bumi. Bagi aktor kelahiran Jakarta 20 tahun lalu ini, hutan juga menjadi tempat pembelajaran untuk bekal hidup. “Hutan itu tempat pembelajaran manusia untuk survive,” kata pemeran dalam sinetron Romeo dan Juminten ini.

Di hutan, kata Jeff, manusia bisa teruji menjadi penyintas (survival) karena alam mendorongnya demikian. Ia menyimpulkan nilai-nilai ini setelah acap bertualang ke beberapa hutan. Menurut dia di hutan manusia dapat belajar bagaimana hidup yang jauh dari peradaban dan hanya memanfaatkan sekitar. “Di hutan kita dituntut menurunkan ego, harus bisa bekerja sama, dan saling tolong menolong,” katanya.

Sifat asli setiap orang, kata Jeff, akan keluar saat di hutan, dalam kondisi susah sehingga mereka bisa keluar dari zona nyaman. Mereka yang manja, malas, gampang emosional, akan muncul saat berada di rimba. Di hutan, manusia juga tak bisa menjaga imej karena semua dituntut natural. Mereka yang egois akan mendapatkan pelajaran berharga ketika berada di hutan karena saat itu mereka akan membutuhkan orang lain.

Jeff mengaku dengan sering mengunjungi hutan, ia bisa menarik pelajaran hingga mendorongnya mencapai posisi seperti sekarang: ketenaran, kekayaan. Namun, hutan juga membuatnya tetap rendah hati karena segala pencapaian tak akan bisa tanpa dorong orang lain. Sebagai orang yang hidup di Jakarta, Jeff merasa hidupnya seimbang setelah melawat ke banyak rimba. “So, apa jadinya bumi tanpa hutan?” tanyanya.

Karena itu, Jeff agak menyesali hidupnya yang sibuk dengan merasa belum bisa berbuat banyak dan lebih menjaga kelestarian hutan. Karena itu ia berusaha sebisanya tak melakukan perbuatan yang bisa merusak bumi. “Kalau elo enggak bisa menyiram tanaman setidaknya jangan rusak mereka,” kata dia.

Ia menganjurkan anak-anak muda mengunjungi hutan agar tahu manfaat dan lebih banyak bersyukur. Soalnya, ia cemas hutan terus tergerus akibat generasi sekarang kurang pengetahuan tentang manfaat pohon dan hutan. “Karena bumi kita itu dulunya hutan, bukan gedung,” kata Jeffbulan lalu.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.