Kolom | Juli-September 2019

Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.

Alfred Antoh

Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Cenderawasih

PEGUNUNGAN Cycloop di Papua sangat penting bagi masyarakat di kota dan Kabupaten Jayapura. Menurut surat keputusan Menteri Kehutanan 365/1987, luas pegunungan Cycloop 31.479,89 hektare. Sebanyak 80 persen luasnya berada di  Kabupaten Jayapura.

Cycloop menjadi penyedia sumber air bersih, penyimpan flora dan fauna endemik, lumbung makanan dan rekreasi bagi masyarakat lokal di kawasan penyangga. Namun, status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.

Selain kerusakan oleh pembukaan lahan, tingginya pengambilan batu di sungai juga turut berpengaruh. Batu dari sungai gunung Cycloop diambil masyarakat untuk membangun kota Jayapura dan Sentani, Ibu Kota Kabupaten Jayapura.

Kkerusakan hutan dan lahan didorong lebih besar oleh faktor ekonomi. Tingginya pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian (buka-buka kebun = istilah Papua) menjadi pemicu utama perladangan berpindah. Kegiatan ini dominan dilakukan oleh kelompok etnik migran lokal, bukan orang asli (indigenous people). Pengawasan dan pelarangan kepada masyarakat di kawasan cagar alam Cycloop amat sangat tidak efektif.

Akibatnya, kawasan penyangga Cycloop menjadi rusak dan naiknya jumlah lahan kritis. Lahan banyak ditumbuhi alang-alang bahkan tanah terbuka. Akibatnya, banjir bandang. Curah hujan yang cukup tinggi tak bisa diserap tanah yang miring dan terbuka. Tak hanya kerugian ekonomi, banjir Sentani bahkan merenggut korban jiwa.

Secara alami, lahan bisa pulih melalui proses suksesi, tetapi membutuhkan waktu yang lama. Cycloop perlu restorasi. Usaha saat ini adalah re-vegatasi jenis tanaman bernilai ekonomi di kawasan penyangga. Selain pemilihan jenis, restorasi mesti melibatkan masyarakat melalui diskusi dan dialog yang panjang serta melibatkan mereka melalui kegiatan pembinaan petani perladangan berpindah, konseling budaya dan pemahaman “jejaring politik” di Papua.

Aspek penting lainnya dalam studi antropologi yang dikembangkan salah satunya untuk merelokasi pemukiman masyarakat di kawasan penyangga. Relokasi masyarakat mesti mempertimbangkan aspek sosial budaya yang mengikat serta mempertimbangkan karakter ekologi yang membentuk mereka secara turun-temurun sebelumnya dari daerah asal mereka.

Hal lain adalah transaksi antara pemilik tempat (pemegang hak ulayat) dengan masyarakat migran lokal dalam hal penggunaan dan pemanfaatan lahan di kawasan penyangga. Pemilik lahan (para Ondoafi) memiliki hubungan dalam hal memberikan kewenangan kepada masyarakat migran lokal untuk memanfaatkan lahan di kawasan penyangga bagi kegiatan berusaha tani.

Restorasi kawasan penyangga Cycloop bisa dilakukan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek dengan menanami kawasan penyangga dengan tanaman lokal bernilai ekonomi sebagai alternatif dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Pelibatan masyarakat melalui mitra polisi hutan dan kegiatan-kegiatan sosialisasi perlindungan kawasan dapat dilakukan melalui lembaga keagamaan (gereja). Sosialisasi melalui lembaga keagamaan untuk membangun presepsi dan menyatukan pandangan masyarakat bagaimana semestinya mereka memperlakukan alam melalui pendekatan eco-sophy.

Untuk jangka panjang, kajian-kajian budaya, ekologi, dan kajian ekonomi secara terencana untuk menemukan solusi bagi penanganan masyarakat yang telah telanjur bermukim di kawasan penyangga Cycloop. Ketika terjadi transformasi nilai budaya melalui pendekatan partisipatif maka proses perubahan pola pikir bisa terjadi untuk menyelamatkan cagar alam Cycloop.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pasar Karbon Perhutanan Sosial

    Perhutanan sosial memiliki peran strategis bagi keberlanjutan penghidupan masyarakat, pengelolaan hutan lestari, dan pencapaian target pengurangan emisi nasional.