Bintang | Juli-September 2019

Dul Jaelani: Inspirasi Hujan

Dul mengimbau agar remaja seusianya mulai peduli lingkungan. Salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan, alih-alih mempraktikkan gaya hidup tak merusak lingkungan.

Rifki Fauzan

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

POHON, rintik hujan, sampai suara angin adalah inspirasi Dul Jaelani ketika menulis lirik lagu. Sayangnya, hujan kini sulit diprediksi. Jakarta bisa panas seharian tapi tetiba hujan pada sore hari. Padahal Juni adalah musim kemarau. “Perubahan iklim sangat terasa,” kata pemain musik 18 tahun bernama lengkap Abdul Qodir Jaelani ini.

Dari ayahnya, musisi Ahmad Dhani—pemain piano band Dewa 19—maupun ibunya, penyanyi Maia Estianty, serta dari kakek dan neneknya, Dul mendengar cerita bahwa tahun 1990-an hujan dan kemarau masih sesuai dan teratur sesuai musim. Indonesia mengalami dua musim: kemarau pada April-Agustus, dan hujan sepanjang September-Maret. Kini Juni atau Juli masih hujan lebat bahkan Jakarta banjir pada bulan-bulan itu.

Karena itu Dul mengimbau agar remaja seusianya mulai peduli lingkungan. Salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan, alih-alih mempraktikkan gaya hidup tak merusak lingkungan. “Saya tak pernah buang puntung rokok sembarangan ketika tak ada tempat sampah,” katanya.

Menurut Dul, kampanye serasi dengan alam dan lingkungan bisa dimulai melalui media sosial atau media massa yang punya pengaruh signifikan. YouTube, Instagram, dan Facebook kini menjadi media sosial yang digandrungi anak muda. Dul bersaran agar pemerintah memakai semua kanal itu untuk sosialisasi hidup ramah lingkungan. “Saya akan menuliskan lagu bertema alam sebagai rasa syukur,” kata pelantun Mama Tolonglah dan Taklukkan Dunia ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.