Kabar Baru | 27 Juli 2019

Efektifkah Lidah Mertua Menyerap Polusi Jakarta?

Jakarta membutuhkan 10 juta tanaman lidah mertua jika diandalkan menyerap polusi. Mesti dibagikan ke satu rumah satu tanaman.

Redaksi

Redaksi

PEMERINTAH Jakarta hendak membagikan secara gratis tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata lorentii) untuk menyerap polusi. Menurut Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Suharini Eliawati, tanaman hias ini mampu menyerap 107 jenis polutan dalam udara.

Udara Jakarta tengah disorot karena sudah memasuki kategori tidak sehat. Menurut pantauan Air Visual, indeks udara Jakarta lebih dari 200, sangat tidak layak dihirup oleh manusia. Orang Jakarta bahkan tak punya waktu terbaik untuk joging. Selain pembangkit-pembangkit listrik yang masih memakai energi fosil, asap kendaraan bermotor menjadi penyumbang utama polusi Ibu Kota.

Dengan 18 juta kendaraan bermotor setiap hari, yang membakar 33.821 kiloliter, polusi Jakarta sebanyak 8.713 ton setara karbon dioksida (CO2) per hari. Angka ini dihitung Badan Pelaksana Transportasi Jabodetabek setelah pemberlakuan aturan nomor kendaraan ganjil-genap di jalan protokol setelah Asian Games pada September tahun lalu. Sebelum aturan ini diterapkan jumlah emisi Jakarta 10.752 ton CO2/hari.

BACA: Pengusaha Paling Banyak Memproduksi Emisi

Jika menghalau polusi udara memakai lidah mertua, pemerintah Jakarta harus menyediakan setidaknya 10 juta tanaman ini. Sebab, menurut penelitian mahasiswa Universitas Andalas (2011) yang dikutip Dini Imaniar dari Universitas Gadjah Mada (2016), kemampuan lidah mertua menyerap polusi sebanyak 871,8 gram CO2/hari. Dengan merujuk pada harga tanaman ini di Shopee senilai Rp 10.000 per tanaman, pemerintah Jakarta harus menyediakan anggaran setidaknya Rp 100 miliar.

Gubernur Anies Baswedan mengatakan, lidah mertua hanya satu solusi dari banyak solusi lain menyerap polusi udara. Lidah mertua tak akan diandalkan sepenuhnya menyerap polusi udara Jakarta tiap hari, meski tak disebut solusi lain selain membagikan lidah mertua.

Selain lidah mertua, ada tanaman lain yang lebih kuat sebagai penyerap polusi, yakni trembesi. Menurut penelitian Endes N. Dahlan, dosen di Fakultas Kehutanan IPB, satu pohon trembesi (Samanea saman) atau Ki Hujan mampu menyerap emisi setara CO2 sebanyak 78.000.000 gram/hari—90 ribu kali kemampuan lidah mertua.

Produksi emisi penduduk Jakarta

Dengan jumlah emisi yang melayang di udara Jakarta sebanyak 8.713 ton setara CO2, kota ini membutuhkan setidaknya 108.000 pohon trembesi. Jika diameter tajuk satu pohon trembesi sekitar 15 meter, maka 1 hektare bisa diisi oleh 40 pohon trembesi, sehingga Jakarta membutuhkan lahan 2.700 hektare untuk menampung pohon ini.

Jika menggabungkan luas ruang terbuka hijau milik perusahaan dan pemerintah sebanyak 14% dari 66.000 hektare luas Ibu Kota, kebutuhan lahan trembesi itu kurang dari sepertiga ruang terbuka hijau Jakarta. Ruang terbuka hijau di Jakarta masih jauh dari kewajiban undang-undang yakni 30% dari total areal wilayah Ibu Kota.

Perbandingan daya serap lidah mertua dan trembesi setara CO2

BACA: Bercinta Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Online

Dengan hitung-hitungan sederhana ini, agaknya diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif dari pemerintah Jakarta. Pembagian lidah mertua bisa efektif jika pemerintah Jakarta membagikan tanaman ini ke tiap rumah dan perkantoran. Merujuk data 2014, di Jakarta ada 10,8 juta bangunan. Selain itu, kebijakan lain perlu digenjot agar kualitas udara Jakarta membaik.

Energi fosil yang tak terbarukan harus diganti dengan ramah lingkungan, ada kampanye hemat energi di rumah dan semua perkantoran, memperbaiki transportasi publik, hingga meluaskan ruang terbuka hijau dan menanaminya dengan tanaman penyerap polusi. Doktor Endes meneliti 40 pohon yang paling kuat menyerap emisi dibanding pohon lain, selain trembesi.

Pohon paling kuat menyerap emisi

Sebab, polusi tak hanya mempengaruhi kualitas udara. Banyak penelitian yang menghubungkan tingkat polusi yang tinggi dengan naiknya kejahatan, tingkat stres, dan produktivitas penduduk sebuah kota. Universitas Nasional Singapura menemukan bahwa kenaikan tiap 10 mikrogram kubik per meter persegi polutan 2,5 mikrogam (PM 2,5) dalam udara menurunkan 1 persen produktivitas kerja penduduk di Tiongkok per hari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.