Kabar Baru | 11 Juli 2019

Udara Kotor Menurunkan Produktivitas Kita

Penelitian terhadap para pekerja pabrik dan kantoran di Cina. Udara buruk membuat produktivitas mereka turun.

Redaksi

Redaksi

UDARA Jakarta tengah menjadi sorotan. Menurut catatan Indeks Kualitas Udara Jakarta, hawa di Ibu Kota sudah masuk kategori tidak sehat. Angkanya tembus 280 dan PM 2,5 atau partikel yang lebih kecil dari 2,5 mikrometer sebanyak sebesar 57,88 mikrogram per meter kubik, lebih tinggi dibanding 2018 sebesar 42,42 mikrogram. 

Tak hanya berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, udara kotor juga menurunkan produktivitas para pekerja. Studi terbaru Universitas Nasional Singapura yang diterbitkan American Economic Journal: Applied Economics pada 3 Januari 2019 mengungkap bahwa PM 2,5 telah mereduksi para pekerja pabrik di Tiongkok.

“Kami menemukan data tiap kenaikan 10 mikrogram kubik per meter PM 2,5 menurunkan produktivitas pekerja dan perusahaan sebanyak 1 persen per hari selama 25 hari,” kata Profesor Liu Haoming, anggota tim peneliti seperti dikutip web National University of Singapore.

Lokasi penelitian di beberapa pabrik tekstil di Henan dan Jiangsu. Para peneliti menemukan bahwa PM 2,5 di udara Jiansu sebesar 85 mikrogram per meter kubik. Para peneliti membandingkan para pekerja yang terpapar PM 2,5 dengan kadar yang berbeda-beda. Mereka menyimpulkan bahwa pekerja yang terpapar secara langsung udara yang mengandung PM 2,5 lebih besar cenderung berkurang produktivitasnya.

Angka penurunan produktivitas di Tiongkok ini jauh lebih kecil dibanding temuan produktivitas yang sama memakai ukuran sama di California. Di Amerika, udara buruk yang ditunjukkan dengan kenaikan mikropartikel di udara bebas membuat produktivitas turun 6 persen per hari.

Pengaruh polusi udara tak hanya melanda pekerja pabrik, tapi juga pekerja kantoran. Studi yang diterbitkan National Bereau of Economic Research terhadap para petugas penerima panggilan telepon di Cina menunjukkan produktivitas mereka turun 5-6 persen jika kualitas udara di luar ruangan memburuk.

Polusi udara bisa datang dari banyak sumber. Di Jakarta, sumber polusi berasal dari pembakaran bahan bakar transportasi dan pabrik yang memakai energi tak terbarukan seperti batu bara. Dengan angka yang tergolong tak sehat itu, tak ada waktu terbaik untuk joging di Ibu Kota. Udara paling bersih justru terjadi pada pukul 13-15 ketika kendaraan yang dipakai para pekerja berkurang karena sudah terparkir di tiap kantor.

Polusi semakin bertambah karena pembangunan fisik tengah digenjot. Debu yang memenuhi udara Jakarta mengotori atmosfer dan menghadang emisi karbon yang dilepaskan oleh aktivitas manusia. Proses yang disebut efek gas rumah kaca ini yang membuat udara Jakarta gerah dan suhunya naik.

Debu dan partikel bebas itu mengambang di udara akibat tak terserap oleh tanaman. Luas ruang terbuka hijau di Jakarta masih sekitar 14 persen dibanding luas wilayah Jakarta 66 ribu hektare. Menurut aturan, ruang terbuka hijau suatu wilayah adalah 30 persen dari luas totalnya.

Studi NUS menambah daftar bukti empiris udara kotor menjadi mesin pembunuh paling efektif, selain mendorong kejahatan dan penyebab kanker. Cara menangkal polusi udara, selain beralih ke teknologi dan energi ramah lingkungan—seperti air, panas matahari, nabati—juga menaikkan jumlah taman kota.

Penelitian Endes N. Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan IPB, pada 2008 menemukan bahwa trembesi (Albizia saman) punya daya serap terhadap karbon paling tinggi dibanding 43 jenis tanaman lain. Trembesi dengan diameter tajuk 10-15 meter mampu menyerap karbon dioksida 28,5 ton per tahun, meski pun peneliti lain menyatakan evaporasi pohon asal Brasil ini cukup tinggi sehingga menyedot cadangan air di bawahnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.