Kabar Baru | 15 Juli 2019

Pengaruh Aturan Ganjil-Genap Terhadap Udara Jakarta

Ada usul aturan ganjil-genap nomor kendaraan di Jakarta diperpanjang sehari penuh. Menurunkan emisi karbon.

Redaksi

Redaksi

KEPALA Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Bambang Prihartono menyurati Gubernur Jakarta Anies Baswedan agar menerapkan aturan nomor kendaraan ganjil-genap di sejumlah ruas jalan Ibu Kota selama sehari penuh, antara pukul 6 hingga 10 malam. Menurut Bambang, aturan ganjil-genap efektif mengurai kemacetan.

Dengan 18 juta kendaraan bermotor sehari yang memenuhi jalan, Jakarta macet sepanjang hari. Soalnya, dengan total panjang jalan 7.000 kilometer, ruas jalan di ibu kota tak cukup menampung jumlah kendaraan. Jika rata-rata panjang kendaraan 2 meter, maka Jakarta butuh jalan sepanjang 36.000 kilometer.

Populasi jumlah kendaraan yang tak terkontrol adalah pemicu kemacetan di Jakarta. Sejak 2016, jumlah kendaraan bermotor rata-rata tumbuh 5 persen. Sementara panjang jalan hanya beringsut 0,1 persen setahun. Tak imbangnya pertumbuhan jumlah kendaraan dan panjang jalan membuat Jakarta menjadi kota nomor 7 termacet di dunia tahun 2018.

Bahan bakar yang dibutuhkan untuk semua jenis kendaraan yang melintas di Jakarta mencapai 33.821 kilo liter per hari. Bahan bakar ini terbuang menjadi emisi karbon sebanyak 10.752 ton sehari—butuh 137.846 pohon trembesi untuk menyerapnya. Data BPTJ menyebutkan bahwa angka emisi ini berkurang ketika diberlakukan ganjil-genap pada saat ASEAN Games 2018 menjadi tinggal 8.713 ton sehari.

Artinya, emisi berkurang karena jumlah kendaraan berkurang akibat aturan ganjil-genap selama 12 jam. Emisi karbon naik kembali ketika aturan ganjil-genap diberlakukan hanya pada pukul 6-9 pagi dan 16-21. Atas pertimbangan tersebut, BPTJ meminta Gubernur Anies merevisi aturan ini menjadi sepanjang hari.

Tanpa rekayasa lalu lintas, Jakarta akan terperangkap pada karbon yang semakin meningkat. Pertumbuhan emisi karbon di Indonesia setidaknya 1,9% per tahun. Jika tak dimulai dari sekarang, pengurangan emisi dan penangkalnya, kualitas manusia Indonesia akan menurun.

Untuk bisa menanam trembesi sebanyak itu setidaknya butuh lahan 3.000 hektare. Patokannya adalah tajuk trembesi (atau ki hujan) yang rata-rata 15 meter. Sehingga 1 hektare hanya menampung 44 pohon. Namun, 3.000 hektare jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan luas Ibu Kota yang mencapai 66.110 hektare. Luas lahan trembesi itu hanya 4% lahan Jakarta--bandingkan dengan kewajiban tiap kota memiliki 30% ruang terbuka hijau dari luas totalnya.

Perbandingan kecepatan kendaraan sebelum dan sesudah aturan ganjil-genap nomor polisi mobil di Jakarta (Sumber: BPTJ)

Cara ini bisa mengurangi polusi udara Jakarta yang sudah dalam tahap gawat karena sangat tidak sehat. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, indeks 280 kualitas udara Jakarta paling banyak disumbang oleh pembakaran emisi kendaraan bermotor. Akibatnya, tak ada waktu joging yang baik di udara terbuka ibu kota.

Kualitas udara di sebuah kota punya adil menentukan tingkat kesehatan masyarakatnya. Tak hanya secara fisik tapi juga mental. Banyak penelitian yang telah membuktikan tingkat kejahatan berkorelasi positif dengan udara kotor. Udara kotor bahkan menaikkan 7 persen tingkat kejahatan jalanan.

Perbandingan emisi karbon sebelum dan sesudah aturan ganjil-genap nomor mobil di Jakarta (Sumber: BPTJ)

Universitas Nasional Singapura bahkan mendapatkan data bahwa produktivitas penduduk kota Shanghai, Cinai, berkurang 1 persen tiap kenaikan 10 mikrogram partikel bebas yang kurang dari 2,5 mikrogram per meter kubik udara. Di California, polusi udara bahkan mereduksi produktivitas pekerja hingga 6 persen.

Apalagi, ruang terbuka hijau Jakarta belum memenuhi kewajiban 30 persen dari 66 ribu hektare kawasannya. Saat ini baru 14,7 persen, itu pun hampir separuhnya disumbang oleh perusahaan swasta. Kekurangan ruang hijau, tingginya polusi udara, membuat Jakarta menjadi kota paling polutif di Asia Tenggara.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.