Kabar Baru | 08 Juli 2019

Taman Kota Menurunkan Tingkat Kejahatan

Kota yang hijau dengan banyak taman kota membuat kejahatan menurun. Masyarakat tidak stres.

Redaksi

Redaksi

SUDAH lama para ahli menelisik hubungan alam yang hijau dengan tingkat kejahatan. Jika shinrin-yoku atau secara natural alam memberikan ketenangan dan mereduksi stres, seharusnya ia berpengaruh pada tingkat kejahatan—jika kejahatan dianggap berhubungan dengan cara manusia bertahan hidup yang menyebabkan kegelisahan dan tekanan mental. 

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PNAS menyebutkan ada korelasi positif antara kota yang hijau, jumlah taman, dengan tingkat kejahatan. Kota yang hijau dengan banyak taman yang asri telah menurunkan tingkat kejahatan sebanyak 10 persen, menurunkan kekerasan dengan senjata api hingga 17 persen, dan sebanyak 75 persen masyarakatnya merasa aman bepergian ke luar rumah.

Karena itu penelitian ini juga menelisik hubungan jumlah lahan kosong dengan kejahatan dan tingkat stres. Selain taman yang punya korelasi positif, banyaknya lahan kosong dan telantar di perkotaan juga mendorong kejahatan meningkat dan rasa tak aman bagi penduduknya. Ada persepsi semakin banyak lahan kosong yang tak terurus, masyarakat merasa kian tak aman.

Masyarakat yang tinggal di kota-kota dengan jumlah taman publik yang luas dan banyak, juga punya tingkat stres yang sedikit. Hijau daun, udara yang bersih, berpengaruh secara langsung pada tingkat stres dan kegelisahan. Dengan begitu, tingkat kejahatan akibat persaingan dan gerak gegas perkotaan menjadi berkurang.

Studi ini memang meneliti kota-kota di Amerika terhadap jumlah kejahatan antara tahun 1990-2007. Tapi, agaknya, bisa berlaku di kota mana pun. Sebab di Inggris, peneliti London School of Economic juga menemukan cerita serupa: kejahatan kecil terjadi ketika udara kotor di kota besar maupun kecil. Kota yang tak punya banyak taman publik cenderung meningkatkan stres dan mendorong penduduknya berbuat jahat dan menumbuhkan persepsi tidak aman bagi penghuninya. Survei Indonesia Research Center ini menunjukkan perbandingan ruang terbuka hijau dan persepsi keamanan berbanding lurus.

Indeks persepsi keamanan 10 kota di Indonesia dibandingkan dengan rasio ruang terbuka hijau (Sumber: IRC, 2013; BPS, 2014)

Udara Jakarta akhir-akhir ini mencatat rekor terburuk dengan kategori sangat tidak sehat. Dengan membandingkan grafik kualitas udara Jakarta dan tingkat kejahatan pada semester pertama 2019 ternyata berbanding lurus. Semakin buruk udara Jakarta, kejahatan perkotaan juga meningkat. Menurut polisi, di Jakarta kejahatan terjadi tiap 16 menit 27 detik dan ada 9 kejadian pencurian setiap hari.

Pada 2019, kejahatan naik cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ironisnya, di Jakarta Barat, para pelaku lebih banyak anak-anak dan memakai narkotika. Sayangnya, belum ada penelitian untuk menelisik korelasi antara keberingasan anak-anak perkotaan dengan polusi udara yang mereka hirup sehari-hari.

Dengan jumlah itu pun, Jakarta bukan provinsi dengan jumlah kejahatan terbanyak. Ia hanya menempati urutan kedua. Nomor satu adalah Sumatera Utara. Menurut Badan Pusat Statistik (2018), jumlah kejahatan di provinsi ini hampir 40.000 per tahun atau 109 kejahatan tiap hari. Meski pun tidak ada pembanding antara tingkat kejahatan dan jumlah taman kota secara spesifik, agaknya taman turut berpengaruh terhadap tingkat keamanan.

 

10 provinsi paling rawan berdasarkan jumlah kasus kejahatan (Sumber: BPS, 2018)

Sebab taman kota berperan menyerap polusi udara. Tingkat polusi yang tinggi di Jakarta akibat tak kunjung bertambahnya taman-taman kota membuat kualitas udara memburuk dengan kategori sangat tidak sehat. Ruang terbuka hijau di Ibu Kota masih 14,9 persen sejak beberapa tahun terakhir—atau separuh syarat ruang terbuka hijau dibanding luas Jakarta yang menapai 66 ribu hektare. Itu pun hampir separuh disumbang oleh swasta. Kurangnya ruang terbuka hijau, sementara pembangunan digenjot membuat udara Jakarta berada dalam kategori sangat tidak sehat bagi penduduknya.

Data dari Kepolisian Metro Jakarta menunjukkan jumlah pencurian dengan pemberatan pada periode 1-15 Mei 2019 sebanyak 226 kejadian, naik 26 kasus dibanding periode bulan sebelumnya. Pencurian dengan kekerasan pada periode yang sama sebanyak 44 kasus, naik tujuh kasus dibanding periode bulan sebelumnya.

Pohon paling kuat menyerap emisi

Adapun indeks kualitas udara Jakarta turun setiap hari. Secara tahunan kualitas udara Jakarta memburuk dibanding 2018. Pada 2019, konsentrasi partikel PM 2,5 atau lebih kecil dari 2,5 mikrometer sebesar 57,88 mikrogram per meter kubik, lebih tinggi dibanding 2018 sebesar 42,42 mikrogram. Saking halus, partikel ini sanggup menembus masker dan sulit disaring oleh bulu hidung, sehingga besar kemungkinan menyusup sampai paru-paru dalam jumlah besar.

Udara Jakarta bahkan memburuk saat Lebaran 2019. Padahal “Jakarta sunyi sekali di malam hari” saat Hari Raya Idul Fitri karena kendaraan sebagai salah satu sumber polusi berkurang akibat mudik. Buruknya udara ketika tak ada kendaraan dan aktivitas manusia, menunjukkan konsentrat dan partikel bebas yang dibuang selama sebelum Lebaran turun ke permukaan tanah ketika udara membaik.

Selain mengurangi energi fosil, kota seperti Jakarta perlu segera mengganti teknologi lebih ramah lingkungan, terutama polusi transportasi seraya menambah luas ruang terbuka hijau sebagai penyerap polusi paling efektif. Trembesi adalah pohon yang harus diperbanyak di tiap sudut kota karena kemampuannya menyerap emisi karbon paling banyak dibanding pohon lain.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.