Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 04 Juli 2019

Orang Jakarta, Tak Ada Waktu Terbaik untuk Joging

Polusi udara Jakarta mencapai level tidak sehat. Waktu terbaik joging jam 1 siang, itu pun tak baik bagi kesehatan.

BAGI Anda yang tinggal di Jakarta dan suka joging, sebaiknya menghindari lari pada pagi, sore, atau malam. Udara Jakarta paling bersahabat untuk paru-paru justru pada siang, antara pukul 1 hingga 3. Selebihnya udara di ibu kota tak sehat untuk tubuh manusia karena mengandung banyak polusi dan partikel bebas.

Riset Jaringan Kerja Komite Penghapusan Bensin Bertimbal mematahkan anggapan bahwa udara Jakarta pada pagi dan malam lebih rendah polusinya. Sebab, menurut Direktur Jaringan Ahmad Syafrudin, partikel yang terlepas dari aktivitas manusia dan mesin setinggi 2-3 kilometer selama masa padat polusi turun kembali ke permukaan ketika aktivitas kendaraan menurun.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta penyebab polusi utama ibu kota adalah emisi yang dibuang kendaraan bermotor. Polusi kian meningkat karena sejumlah proyek pembangunan, sementara ruang terbuka hijau di Jakarta hanya 14,9 persen dari luas ideal 30 persen total luas Jakarta yang mencapai 66.150 hektare.

Catatan Air Quality Index Jakarta pada 2 Juli 2019 pukul 10 menunjukkan angka 156 dan pada pukul 15 sebesar 186, yang artinya tidak sehat (skala 152-200). Dengan alat pengukuran AQI di Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta Pusat, angka ini mengkonfirmasi riset Jaringan Penghapusan Bensin Bertimbal soal waktu udara Jakarta paling bersih.

Masalahnya, joging pada pukul 11-14 tidak dianjurkan. Selain bisa menyebabkan dehidrasi, olah raga pada suhu terik tidak membantu kinerja otot,malah mendorong mendorong diabetes dan obesitas. Lari siang hari juga membuat penguapan suhu tubuh tidak terjadi secara sempurna. Akibatnya, panas terperangkap dalam tubuh yang bisa memicu kelelahan hingga serangan stroke panas.

Catatan Air Quality Index di Jakarta pada pukul 15.00 pada Selasa, 2 Juli 2019.

Artinya, dengan kondisi buruk udara Jakarta dan larangan lari pada suhu terik membuat penduduk ibu kota tak punya pilihan waktu olah raga joging di udara terbuka. Sebab, waktu ideal joging di suhu kamar dengan tingkat polusi yang rendah adalah pagi antara pukul 5.30-9. Lari pada rentang waktu ini bisa memperbaiki kinerja kardiovaskular dan penguatan otot.

Polusi udara menjadi mesin pembunuh yang sama berbahayanya dengan asap tembakau. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan polusi udara telah memicu kanker, penyakit paru-paru dan pernapasan, serta penyakit jantung.

Menurut WHO sembilan dari sepuluh penduduk dunia menghirup udara yang terkontaminasi polusi setiap hari. "Polusi udara merupakan risiko lingkungan terbesar yang paling berbahaya bagi kesehatan," kata Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip Tempo.co.

Polusi udara menyebabkan kematian tujuh juta orang karena kanker dan penyakit lainnya. Kanker dipicu oleh polutan mikroskopis di udara yang bisa menembus sistem pernapasan dan peredaran darah hingga merusak jaringan paru-paru, jantung, dan otak.

Dalam tiga tahun terakhir, menurut WHO, tingkat polusi udara dunia meningkat hampir dua kali lipat. Sebanyak 97 persen kota-kota di negara-negara berpenghasilan rendah memiliki kualitas udara buruk yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO. “Ketika kualitas udara menurun, risiko stroke, jantung, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronik dan akut, termasuk asma akan meningkat,” kata Ghebreyesus.

Dia menuding pemakaian bahan bakar fosil yang tak terbarukan sebagai penyebab utama pencemaran udara. Polusi udara juga menyebabkan bahaya lain yakni meningkatkan suhu udara yang menyebabkan pemanasan global. WHO memperkirakan ada 250 ribu kematian tambahan per tahun akibat pemanasan global yang memicu kekurangan gizi, malaria, diare dan stres pada 2030-2050.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain