Kabar Baru | 02 Juli 2019

Orang Jakarta, Tak Ada Waktu Terbaik untuk Joging

Polusi udara Jakarta mencapai level tidak sehat. Waktu terbaik joging jam 1 siang, itu pun tak baik bagi kesehatan.

Redaksi

Redaksi

BAGI Anda yang tinggal di Jakarta dan suka joging, sebaiknya menghindari lari pada pagi, sore, atau malam. Udara Jakarta paling bersahabat untuk paru-paru justru pada siang, antara pukul 1 hingga 3. Selebihnya udara di ibu kota tak sehat untuk tubuh manusia karena mengandung banyak polusi dan partikel bebas.

Riset Jaringan Kerja Komite Penghapusan Bensin Bertimbal mematahkan anggapan bahwa udara Jakarta pada pagi dan malam lebih rendah polusinya. Sebab, menurut Direktur Jaringan Ahmad Syafrudin, partikel yang terlepas dari aktivitas manusia dan mesin setinggi 2-3 kilometer selama masa padat polusi turun kembali ke permukaan ketika aktivitas kendaraan menurun.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta penyebab polusi utama ibu kota adalah emisi yang dibuang kendaraan bermotor. Polusi kian meningkat karena sejumlah proyek pembangunan, sementara ruang terbuka hijau di Jakarta hanya 14,9 persen dari luas ideal 30 persen total luas Jakarta yang mencapai 66.150 hektare.

Catatan Air Quality Index Jakarta pada 2 Juli 2019 pukul 10 menunjukkan angka 156 dan pada pukul 15 sebesar 186, yang artinya tidak sehat (skala 152-200). Dengan alat pengukuran AQI di Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta Pusat, angka ini mengkonfirmasi riset Jaringan Penghapusan Bensin Bertimbal soal waktu udara Jakarta paling bersih.

Masalahnya, joging pada pukul 11-14 tidak dianjurkan. Selain bisa menyebabkan dehidrasi, olah raga pada suhu terik tidak membantu kinerja otot,malah mendorong mendorong diabetes dan obesitas. Lari siang hari juga membuat penguapan suhu tubuh tidak terjadi secara sempurna. Akibatnya, panas terperangkap dalam tubuh yang bisa memicu kelelahan hingga serangan stroke panas.

Catatan Air Quality Index di Jakarta pada pukul 15.00 pada Selasa, 2 Juli 2019.

Artinya, dengan kondisi buruk udara Jakarta dan larangan lari pada suhu terik membuat penduduk ibu kota tak punya pilihan waktu olah raga joging di udara terbuka. Sebab, waktu ideal joging di suhu kamar dengan tingkat polusi yang rendah adalah pagi antara pukul 5.30-9. Lari pada rentang waktu ini bisa memperbaiki kinerja kardiovaskular dan penguatan otot.

Polusi udara menjadi mesin pembunuh yang sama berbahayanya dengan asap tembakau. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan polusi udara telah memicu kanker, penyakit paru-paru dan pernapasan, serta penyakit jantung.

Menurut WHO sembilan dari sepuluh penduduk dunia menghirup udara yang terkontaminasi polusi setiap hari. "Polusi udara merupakan risiko lingkungan terbesar yang paling berbahaya bagi kesehatan," kata Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip Tempo.co.

Polusi udara menyebabkan kematian tujuh juta orang karena kanker dan penyakit lainnya. Kanker dipicu oleh polutan mikroskopis di udara yang bisa menembus sistem pernapasan dan peredaran darah hingga merusak jaringan paru-paru, jantung, dan otak.

Dalam tiga tahun terakhir, menurut WHO, tingkat polusi udara dunia meningkat hampir dua kali lipat. Sebanyak 97 persen kota-kota di negara-negara berpenghasilan rendah memiliki kualitas udara buruk yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO. “Ketika kualitas udara menurun, risiko stroke, jantung, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronik dan akut, termasuk asma akan meningkat,” kata Ghebreyesus.

Dia menuding pemakaian bahan bakar fosil yang tak terbarukan sebagai penyebab utama pencemaran udara. Polusi udara juga menyebabkan bahaya lain yakni meningkatkan suhu udara yang menyebabkan pemanasan global. WHO memperkirakan ada 250 ribu kematian tambahan per tahun akibat pemanasan global yang memicu kekurangan gizi, malaria, diare dan stres pada 2030-2050.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.