Kabar Baru | 25 Juli 2019

Pengusaha Paling Banyak Memproduksi Emisi

Tanaman lidah mertua tak terlalu kuat menyerap emisi karbon dalam polusi udara. Jauh di bawah trembesi dan pohon lain.

Redaksi

Redaksi

PARA peneliti sudah lama menyimpulkan semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin banyak pula produksi emisinya. Sebab penghasilan yang tinggi mendorong konsumsi dan pengeluaran yang tinggi pula, berupa sampah atau pemakaian energi yang bertambah. Emisi adalah gas buangan dari aktivitas benda hidup berupa gas-gas yang menimbulkan efek gas rumah kaca jika terakumulasi dalam jumlah yang banyak.

Bernapas, duduk, berolahraga, perjalanan ke kantor, adalah aktivitas-aktivitas yang membakar energi dan menghasilkan emisi. Seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB meneliti produksi emisi tiap orang Jakarta berdasarkan profesinya pada 2017. Alat ukurnya pemakaian listrik, gas, kebutuhan energi untuk kendaraan, sampah yang diproduksi tiap orang, dan jumlah napas per hari.

Kesimpulannya, pengusaha paling banyak memproduksi emisi, yakni sebanyak 6,6 ton setara CO2/orang/tahun. Pegawai negeri sipil menempati urutan kedua sebanyak 4,45 ton setara CO2 per orang per tahun, mengalahkan para profesional yang hanya memproduksi emisi 4 ton CO2/orang/tahun.

Produksi emisi terbesar para pengusaha untuk pemakaian gas sebanyak 3,6 ton/kapita/tahun. Sementara PNS lebih banyak menghasilkan emisi dari kendaraan sebanyak 2,4 ton CO2/kapita/tahun, mengalahkan mobilitas para pengusaha dan profesional yang hanya 1,8-1,9 ton/kapita/tahun.

Kesimpulan ini juga sejalan dengan kesimpulan awal tentang hubungan pendapatan dan produksi emisi. Pada kelompok masyarakat Jakarta yang penghasilannya di atas Rp 5 juta sebulan, emisi yang diproduksinya 5,3 ton CO2/kapita/tahun atau dua kali lipat dari masyarakat berpenghasilan Rp 2,5 juta sebulan.

Baca: Pengaruh Ganjil-Genap Terhadap Udara Jakarta

Emisi yang diproduksi tiap penduduk Jakarta juga kian bertambah seiring kenaikan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk, dan tingkat kesadaran penduduk pada pemanasan global. Tiap kenaikan 2% jumlah penduduk, penambahan emisi yang diproduksinya setara 16,6%. Jika emisi di Jakarta antara 2005-2010 naik 1,1 ton CO2/kapita/tahun, pada periode yang sama emisi yang dihasilkan penduduk London justru turun 0,7 ton/kapita/tahun menjadi 5,43 ton/kapita/tahun.

Pada kurun waktu itu, pemerintah Kota London memang punya kegiatan kolaboratif antara pemerintah dan dunia usaha dalam menurunkan produksi emisi. Selama lima tahun tercatat penurunan emisi sebanyak 34 persen dengan cara peralihan teknologi yang lebih ramah lingkungan, dari energi fosil ke listrik, gas, angin, dan matahari.

Jumlah produksi emisi ini terbalik jika membandingkannya dengan pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita Jakarta pada 2010 hanya US$ 9.984 sementara London US$ 55.947. Kendati pendapatan per kapita berbeda hampir 5 kali lipat ini produksi emisi kedua negara hampir sama.

BACA: Bercinta Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Online

Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca itu, perlu penyerap yang efektif di sekujur Ibu Kota. Pemerintah Jakarta perlu menambah terus ruang terbuka hijau atau melakukan penanaman pohon penyerap emisi agar lebih banyak menyerap polusi, selain mengubah energi fosil untuk kendaraan ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Menurut catatan Air Visual, indeks udara Jakarta sudah sangat tidak sehat. Baru-baru ini pemerintah Jakarta hendak membagikan tanaman lidah mertua yang diklaim bisa menyerap hingga lebih dari 100 polutan.

Lidah mertua agaknya kurang efektif menyerap polusi mengingat Jakarta yang luas dan kemampuannya yang kecil dalam menyerap polusi dibanding pohon lain. Lidah mertua (Sansevieria trifasciata) hanya mampu menyerap 871,9 gram CO2/hari. Penyerap polusi paling efektif adalah menambah ruang terbuka hijau dengan menanam pohon dan mengurangi aktivitas kendaraan bermotor. Doktor Endes N. Dahlan menghitung satu pohon trembesi bisa menyerap emisi 28,5 ton setara CO2/tahun atau 78.082 gram/hari. Sementara jika karet (Hevea brasiliensis) digabungkan dengan trembesi (Samanea saman), kedua pohon ini diklaim bisa menyerap emisi 35,6 ton/hektare/tahun dengan waktu produktif selama 25 tahun.

Produksi emisi penduduk Jakarta

Berapa investasi untuk menyerap emisi memakai dua pohon ini? Jika 1 ton CO2/kapita/tahun dibutuhkan lahan seluas 300.000 hektare, maka biaya yang diperlukan untuk agroforestri karet dan trembesi sebanyak Rp 30,2 triliun selama 25 tahun atau Rp 4,8 triliun/tahun. Jika dibagi dengan sekitar 9 juta penduduk Jakarta, tiap orang mesti berinvestasi sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 577 ribu setahun untuk menetralkan emisi yang mereka produksi.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.