Teroka | April-Juni 2019

Agar Desa Tak Kehilangan Petani

Diah Widuretno membangun Sekolah Pagesangan di Gunung Kidul untuk anak-anak hingga petani. Sudah menjual produk ke pasar.

Mustofa Fato

Pemerhati kehutanan dan lingkungan. Penyuka kopi dan fotografi

PINDAH ke Yogyakarta karena menikah pada 2003, tak membuat Diah Widuretno menghentikan aktivisme membangun pendidikan terbuka bagi penduduk kampung. Ia terus memikirkan cita-cita itu hingga lima tahun kemudian bertemu dengan remaja-remaja Dusun Wiantos dari Desa Girimulya, Gunung Kidul.

Bersama beberapa aktivis sosial Yogyakarta, Diah mulai membangun Sekolah Sumbu Panguripan. Ini semacam sekolah untuk siapa saja, penduduk di Girimulya, dan belajar apa saja agar mereka bisa lebih berdaya. Para guru tak mendapat honor, bahkan para relawan itu patungan agar bisa menyelenggarakan kelas. “Tapi lambat laun semua relawan mundur hingga tahun 2013 tinggal saya sendirian,” kata Diah, 42 tahun, kepada Forest Digest awal Mei 2019.

Diah, yang akrab di sapa Enno, memikirkan ulang konsepnya tentang sekolah terbuka. Ia terlatih untuk itu. Sejak mahasiswa semester 5 di jurusan Biologi Institut Pertanian Bogor, Diah membuat kelompok belajar membaca-menulis-berhitung untuk anak-anak kampung di sekitar kosnya di Babakan Fakultas, Bogor. Kegiatan relawan pendidikan gadis Banyuwangi, Jawa Timur, ini berlanjut setelah lulus pada 2000 ketika bergabung dengan Rimbawan Muda Indonesia—sebuah organisasi non pemerintah yang fokus pada advokasi pelestarian lingkungan.

Di Wiantos yang gersang, 40 kilometer dari rumah Diah di Yogya, hidup masyarakat berjalan rutin dan rudin. Permukiman berbatu itu susah air. Ladang-ladang mengandalkan hujan yang datang sekali setahun. Urbanisasi adalah pilihan anak-anak muda yang ingin mengubah nasib dengan pergi ke kota, menjadi pedagang, menjadi buruh, bekerja apa saja untuk menghasilkan uang tunai. “Sebagian besar pemuda berusia produktif meninggalkan desa,” tutur Diah.

Urbanisasi itu pula salah satu yang mengubah nilai-nilai yang berkembang dalam pikiran orang Gunung Kidul. Orang-orang tua, yang hidup pada usia produktif tahun 1980-an, akan menjawab punya gaplek dan hasil panen jika ditanya definisi “tenteram”. Kepada Diah anak-anak muda kini mengatakan hidup menjadi tenang jika di dompet ada uang tunai. Maka bertani, yang panen tiap tiga bulan sekali, tak lagi sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang berubah itu. “Desa telah difitnah sebagai daerah tanpa harapan,” kata Diah.

Dengan dasar pemikiran itulah, Diah mulai membuat konsep ulang sekolah yang mencoba mengembangkan pendidikan konstektual yang ia rintis itu. Setelah benar-benar sendirian karena tak ada lagi relawan yang bersedia menemaninya membangun sekolah untuk penduduk kampung, Diah mengubah namanya menjadi Sekolah Pagesangan. Anak-anak, remaja, orang tua, boleh belajar di sini. Diah memfokuskan pada pengetahuan umum dan belajar praktis dalam mengelola lahan pertanian.

Awalnya Diah memfokuskan pada anak-anak muda yang putus sekolah. Mereka yang tak bisa melanjutkan studi karena alasan biaya dan kemiskinan, ia ajak belajar di sekolahnya. Belakangan, anak-anak yang masih sekolah pun ikut bergabung. Hanya saja, program sekolah sehari penuh (full day school) membuat mereka tidak punya banyak waktu ikut belajar di Pagesangan.

Kegiatan belajar di Sekolah Pagesangan Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Dok. Diah Widuretno)

Diah datang ke Girimulya sekali hingga empat kali sepekan untuk memfasilitasi belajar mengajar di Sekolah Pagesangan. “Tergantung kebutuhan,” katanya. Di rumahnya di Pleret, Bantul, Diah mendirikan rumah usaha Butik Batik Larasati. Dibantu beberapa pekerja, ia memproduksi kerajinan dari kain perca dan pelbagai cenderamata.

Salah satu misi Diah mendirikan Sekolah Pagesangan adalah menahan laju urbanisasi sebesar mungkin agar ada regenerasi petani di Gunung Kidul. Tapi usahanya bukan tanpa hambatan. Kendati kembali mendapat guru-guru relawan dari luar desa, tantangan terbesar justru meyakinkan masyarakat ikut sekolah ini. Mereka yang menolak bergabung terutama karena termakan stereotip bahwa sekolah harus berseragam, punya gedung sendiri, ada guru sendiri, bahkan ada ujian tiap semester.

Di Sekolah Pagesangan, tiap orang adalah guru, tiap orang adalah murid karena penekanannya pada belajar bersama. “Slogan kami adalah menjadi manusia berdaya, berdaya dari desa,” kata Diah. “Sekolah ini tak punya kelembagaan formal. Semua proses, kegiatan dan dinamika menjadi milik pelaku dan semua orang yang terlibat.”

Untuk memudahkan alur pembelajaran, Diah membagi murid ke dalam empat kelompok: anak-anak, remaja, kelompok pengolah, dan kelompok tani.

Kelompok anak-anak dan remaja pada dasarnya memiliki kegiatan yang mirip, hanya lebih disesuaikan dengan kemampuan sesuai jenjang usia. Mereka dibentuk dengan hal-hal dasar seperti mengenali diri sendiri beserta lingkungannya, kebanggaan menjadi anak desa, serta belajar mandiri dan bertanggung jawab.

Kelompok pengolah fokus pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan diri dan keluarga dengan cara belajar menemukan dan mengembangkan usaha setelah panen pertanian. Sedangkan kelompok tani belajar memaknai dan mengamalkan tugas dasar petani, yaitu menyediakan pangan terbaik bagi keluarga dan masyarakat, menjadi penghubung manusia dan alam, serta menjaga keseimbangannya.

Kelompok tani juga menjadi pemasok bahan baku yang akan diproduksi oleh kelompok pengolah. Sehingga belajar di Sekolah Pagesangan menjadi siklus, tak hanya pengetahuannya, melainkan produk dan orang-orangnya. Remaja yang menjadi petani akan memasok bahan pangan kepada kelompok pengolah. Jika ia mulai berdaya karena punya modal mengolah bahan baku, mereka beranjak ke kelompok itu.

Kelompok Tani Sekolah Pagesangan di Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Dok. Diah Widuretno)

Hasil panen dan hasil olahan dijual bersama dalam kelompok. Kelompok-kelompok pengolah sudah lumayan banyak menghasilkan produk. “Sudah ada 10 kelompok pengolah,” kata Diah. Di antaranya kelompok pengolah tepung mocaf (modified cassava flour atau tepung singkong), tepung gaplek, tiwul instan, keripik singkong, mengleng singkong, kerupuk singkong, lempeng tiwul, sale pisang, tempe koro/benguk/botor, dan minyak kelapa.

Semua produk itu dijual di pasar-pasar komunitas di sekitar Yogyakarta. Juga secara daring melalui media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Karena semua produk berbahan baku lokal, hasil bertani penduduk sekitar Girimulya, produk-produk itu tidak memakai pengawet atau bahan kimia lain. Semua berasal dari hasil pertanian yang dipelajari bersama di Sekolah Pagesangan.

Dengan cara itu, materi pelajaran di Sekolah Pagesangan pun berkembang sesuai kebutuhan. Misalnya, untuk menambah subur tanah pertanian, kelompok petani dan remaja membuat kompos. Mereka cari sendiri referensinya di buku-buku atau Internet bahkan belajar ke desa lain jika ada undangan dari komunitas sekolah lain dari provinsi lain. “Belajarnya tidak di rumah, tapi di dekat kandang sapi,” kata Diah.

Tepung ketela, salah satu produk Kelompok Tani Sekolah Pagesangan Gunung Kidul, Yogyarakarta. (Foto: Dok. Diah Widuretno)

Kepada para relawan dan murid-murid Pagesangan, Diah selalu menekankan tiga hal utama nilai-nilai Sekolah Pagesangan: keberdayaan, kemerdekaan, dan kedaulatan. Tiga nilai yang serupa dengan apa yang didorong oleh para pendidik masyarakat semacam Ivan Illich dan Paulo Freire. Kedua filsuf pendidikan ini selalu menekankan bahwa hasil akhir pendidikan adalah kemerdekaan berpikir dan bertindak.

Pada 1970, Illich—filsuf dan pastor dari Austria yang hidup miskin di Amerika Latin ini—mengguncang dunia pendidikan Barat dengan menerbitkan Deschooling Society (Masyarakat Tanpa Sekolah). Illich mengkritik sistem pendidikan modern yang terlalu institusional sehingga menjadikan siswa sebagai mesin penerima ilmu pengetahuan belaka. Atau Freire dari Brasil yang meneruskan kritik itu melalui konsep pedagogi kritis dalam buku Pendidikan untuk Orang Tertindas.

Diah tak rumit dengan segala teori itu. Dalam bukunya yang ia terbitkan sendiri pada 2017, Gesang di Lahan Gersang, Diah menyebut tiga nilai itu sebagai perwujudan “kerja ideologis”. Dengan gaya naratif yang menyenangkan, buku ini semacam memoar bagaimana Diah membangun sekolah dalam menumbuhkan kepercayaan diri dan kebanggaan masyarakat menjadi petani, menjadi penduduk desa di Gunung Kidul.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.