Teroka | April-Juni 2020

Gitar Bambu Lebih Mendayu

Seniman tradisional Endo Suanda mengolah bambu untuk alat musik modern. Gitar bambu lebih mendayu.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

KUNJUNGANNYA ke Oregon pada 2012 memberi kesan khusus bagi Endo Suanda. Meski acap bolak-balik ke kota di Amerika Serikat itu untuk menengok keluarga anaknya, kunjungan pada 2012 itu mengesankannya. Pada kunjungan kali itu, doktor etnomusikologi dari Washington University ini mengunjungi kantor Bamboo Revolution yang luas gedungnya kira-kira 800 meter persegi.

Endo, 73 tahun, takjub pada rancang bangun gedung itu. “Semuanya terbuat dari bambu,” katanya kepada Forest Digest awal Maret 2020. “Dari lantai, pintu, toilet, tiang, sampai gagang pintu.” Endo masygul karena Amerika bukan negeri bambu tapi masyarakatnya sudah mampu mempopulerkan bahkan memanfaatkan tanaman tropis ini.

Pulang ke Indonesia, ia pun bertekad melakukan hal serupa. Karena keahliannya di bidang musik, Endo ingin mengembangkan alat musik berbahan baku bambu, terutama untuk alat musik di Pendidikan Seni Nusantara yang ia ampu dan sudah masuk ke seribu sekolah SMP dan SMA di Indonesia. Ia ingin memberi pemahaman baru agar para siswa memanfaatkan bahan baku alat musik yang ada di sekitar mereka. “Bambu adalah kekayaan kita,” katanya. “Ia ada di mana-mana.”

Endo pun mulai meriset tanaman ini, melacak seluk beluknya, mengamati pertumbuhannya. Di Indonesia, bambu baru dijadikan bahan baku untuk alat musik tradisional seperti angklung, calung, atau suling. Jarang ada yang mengembangkannya untuk alat musik modern, seperti gitar atau violin.

Tahun 2000, produsen alat musik Yamaha dari Jepang pernah membuat gitar akustik dan listrik berbahan bambu yang dipasarkan di Indonesia. Tapi semua bahan bakunya diimpor, bukan bambu lokal. Itu pun tak berlangsung lama. Yamaha kembali memasarkan gitar berbahan baku kayu. Padahal, dari temuan Endo, bambu relatif lentur sehingga seharusnya mudah diatur ketika membuat kontur alat musik yang banyak lekuknya. “Ia juga tahan rayap jika diolah dengan tepat,” katanya.

Maka Endo mulai membuat gitar akustik. Di studionya di Semplak, Bogor, Jawa Barat, seorang diri ia mengulik bambu, menyerutnya, menatanya, hingga berbentuk sebuah gitar. Pada percobaan pertamanya itu, ia langsung menggarap bambu tanpa pengawetan. Padahal, setelah berkali-kali ia mencoba, bambu akan menjadi kuat jika ia direndam dalam kolam minimal satu tahun.

Hasilnya memang beda. Gitar pertamanya tak menghasilkan suara yang pas. Sebuah alat musik yang baik, menurut Endo, setidaknya harus memiliki tiga hal: power yang diukur dalam satuan desibel, lama getar, dan karakter. Bambu jelas punya karakter yang unik dibanding kayu. Tapi, kandungan glukosanya yang tinggi membuat bambu lentur tapi susah diatur ketika hendak membuat bilah setipis 2,4 milimeter.

Endo pun membawa gitar pertamanya yang ia selesaikan dalam waktu tiga bulan ke mana-mana. Tiap pentas tari, teater, atau acara-acara yang ia buat atau ia hadiri, gitar itu tak pernah absen ia bawa, terutama acara yang menghadirkan seniman gitar. Endo meminta mereka mencoba gitar bambu buatannya. Meski belajar tetabuhan sejak muda, Endo terbuka meminta pendapat seniman yang menggelutinya. “Saya seniman tradisional yang tak paham gitar,” katanya. “Saya juga bukan tukang yang rajin sehingga gitar itu perlu diuji oleh ahlinya.”

Para seniman gitar rupanya senang dengan gitar bambu buatan Endo. Menurut mereka, gitar bambu punya suara yang khas dan berbeda dibanding gitar berbahan kayu mahoni, cedar, siprus, atau sonokeling. “Saya belum dengar suara gitar kayak gini,” kata pemain gitar kenamaan Donny Suhendra kepada Endo.

Endo Suanda dengan biola bambu.

Pujian-pujian itu kian membuat Endo penasaran. Ia makin mengulik bambu untuk alat musik. Tak hanya gitar, Endo membuat kecapi, rebab, tarawangsa—alat musik tradisional gesek Jawa Barat yang memiliki dua dawai. Bahkan beduk berdiameter 1 meter. Endo merasa bebunyian yang dihasilkan dari alat-alat musik bambu buatannya belum pas.

Dari penelitiannya sambil membuat alat-alat musik itu, Endo menyimpulkan bahwa bambu tidak bisa dipanen sembarangan. Dari semua eksperimennya, hari Rabu pahing dan sore hari adalah waktu yang pas memanen bambu. “Kadar glukosanya paling rendah,” katanya. Sebab, glukosa yang tinggi akan mengundang hama ketika sudah diolah menjadi produk. Karena itu merendam dalam waktu lama menjadi kunci kekuatan bambu.

Usia bambu terbaik untuk jadi alat musik adalah 6-11 tahun. Bambu item, bambu gombong, dan bambu surat adalah tiga jenis bambu yang sudah dicoba Endo terbaik menghasilkan bunyi. Setelah dipanen pun bambu akan direndam selama setahun sebelum diulik menjadi alat musik. Endo merendam puluhan batang bambu di balong rumah orang tuanya di Majalengka, Jawa Barat.

Setelah enam tahun meneliti dan mempraktikkan, Endo menyimpulkan bahwa bambu jauh lebih bagus menjadi bahan baku alat musik karena kekhasan bunyinya. Apalagi bambu punya ratusan jenis yang menghasilkan karakter suara yang berbeda-beda juga. Setelah enam tahun juga ia baru berani merilisnya untuk publik. “Tanggal 27 Maret peluncurannya di Kafe Ranin di Bogor,” katanya.

Meski baru diluncurkan, alat musik Endo sesungguhnya sudah dipakai banyak orang untuk pentas. Pada 7 Maret 2020, Rektor IPB University Arif Satria menyanyikan dua lagu ciptaannya sambil memetik gitar bambu buatan Endo. Hari itu Arif meluncurkan buku kumpulan kolomnya di media massa berjudul “Politik Sumber Daya Alam”.

Gitar listrik bambu buatan Endo Suanda.

Arif mengatakan ia ingin mendukung Endo mengembangkan alat musik bambu ini karena lebih ramah lingkungan dibanding kayu yang kini jadi isu internasional akibat degradasi lahan dan deforestasi. “Usaha Pak Endo membuat kita punya alternatif lain bahan baku alat musik selain kayu,” katanya.

Indonesia memang kaya bambu, namun produknya belum mendapat perhatian maksimal karena tak memberi nilai tambah bagi pengelolanya. Padahal, bambu, bersama rotan, menyumbang 90% nilai devisa pada 2017 dibanding seluruh produk hasil hutan lainnya. Kayu bahkan hanya menyumbang 10%.

Pasar produk bambu juga paling tinggi dibanding produk hasil hutan lainnya, sebesar 40% dari nilai perdagangan US$ 60 miliar. Untuk Indonesia, nilai perdagangan bambu masih kecil karena tak menjadi produk unggulan akibat terkendala sertifikasi. Para petani mendapat nilai penjualan yang rendah karena tak mengolah bambu lebih variatif sehingga memberi nilai tambah terhadap produk yang mereka hasilkan.

Gitar bambu buatan Endo Suanda.

Endo memahami soal ini. Karena itu ia makin bersemangat meneliti dan mengembangkan bambu sebagai bahan baku alat musik agar bisa ditiru oleh para pengrajin lainnya di Indonesia. Karena itu, alat musik modern dari bambu mesti populer terlebih dahulu agar produknya punya pasar yang luas.

Setelah peluncuran, Endo baru menjual alat-alat musik berbahan baku bambu itu. Harga gitar bambu Rp 3-5 juta. Karena belum umum, pemasaran alat musik modern dari bambu belum masif sehingga pasar belum terbentuk. Di luar soal itu, “Fokus saya bukan pada bisnisnya, tapi berkontribusi pada kekayaan bunyi yang sudah ada,” kata Endo. Juga, seperti disebut Arif Satria, “Memberikan alternatif bahan baku alat musik selain kayu yang lebih ramah lingkungan.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain