Teroka | Oktober-Desember 2019

Daun Perangsang Air Susu Ibu

Dua ibu ini mengembangkan tanaman torbangun untuk merangsang air susu. Lebih kental dan mudah diminum.

Kaka Prakasa

Pegiat data dan peminat F/LOSS

PERSAHABATAN sejak mahasiswa di Fakultas Kehutanan IPB membuat Tina Maretina dan Ega Ayudini sejak 2006 kian erat ketika keduanya mengembangkan Inang, usaha rintisan budidaya torbangun (Coleous amboinicus L.) untuk mendorong air susu ibu. Mereka mengolah daun tanaman semak itu menjadi suplemen sehingga mudah diseduh dan diminum.

Syahdan, ide membuat bisnis itu muncul pada 2006, setelah Ega dan Tina melahirkan anak pertama. Ega waktu itu bekerja di sebuah lembaga konsultan internasional sementara Tina di perusahaan negara. Keduanya acap bepergian ke luar kota. Keduanya acap saling bercerita tentang problem menyediakan air susu untuk anak mereka. Tiap kali dinas luar kota kedua harus menyediakan stok ASI di rumah

Suatu kali Ega mendapat informasi dari teman kerjanya yang berasal dari Sumatera Utara bahwa ada tanaman yang bisa mendorong ASI sehingga jumlahnya bisa banyak. “Informasinya kurang jelas, nama tanamannya terdengar seperti ‘bangun-bangun’,” kata perempuan kelahiran Jakarta 31 tahun lalu ini. Setelah berselancar di Internet, Ega tahu nama tanaman itu torbangun.

Ega Ayudini (kiri) dan Tina Maretina, pendiri Inang Booster ASI (Dok. Tina Maretina)

Rupanya, tanaman itu tak ada di pasar Tangerang, tempat tinggal Tina, atau Bogor yang jadi rumah Ega. Mereka baru menemukan torbangun di Pasar Senen Jakarta. Keduanya meracik dan meminumnya secara rutin. “Hasilnya ASI kami naik 65 persen,” kata Ega. “ASI juga lebih kental.”

Pengalaman itu mereka ceritakan kepada teman dan kolega. Para ibu yang punya problem serupa acap meminta daun torbanun kepada keduanya. Pemesannya tak hanya dari sekitar Jakarta. Informasi khasiat torbangun sampai juga di Kalimantan. Masalahnya, ketika daun itu sampai di pulau itu, kondisinya sudah rusak. “Tanaman ini juga tak bisa disimpan terlalu lama,” kata Tina.

Dari situ mereka terpikir untuk mengolahnya dalam bentuk kemasan sehingga mudah dikirim. Mereka mulai bereksperimen untuk meningkatkan daya tahan daun tanpa mengurangi manfaatnya. Dengan mengolahnya secara alami dalam kemasan, torbangun rupanya bisa tahan enam bulan. Sebelum disebar ke teman-temannya, Ega dan Tina yang mencobanya. Khasiatnya tetap sama. “Kami yakin aman karena organik,” kata Ega.

Untuk memudahkan pengiriman, mereka lalu mendirikan Inang, lini bisnis racikan daun torbangun. Menurut Ega, dalam bahasa Batak—asal tanaman ini—Inang artinya ibu. Mereka membuat web inangboosterasi.com agar para pemesannya bisa mendapatkan referensi dari web itu dan mudah memesannya, selain melalui akun di Instagram. Inang kini sudah dalam bentuk saset, teh tubruk, kue, dan kemasan botol siap minum. Menurut Ega, saset paling banyak dipesan.

Awal Inang berjalan, keduanya menanam torbangun di pekarangan rumah mereka dan mempekerjakan delapan orang untuk memeliharanya. Menurut Tina, torbangun yang mirip bayam ini mudah ditanam di lahan sempit. Karena pesanan kian banyak, Ega dan Tina bekerja sama dengan petani untuk pembibitan dan penanaman. Sejak 2017 mereka bermitra dengan petani di Cianjur, Sukabumi, dan Garut.

Untuk menjaga kualitas, mereka memprioritaskan calon mitra dengan lahan yang sebelumnya atau saat ini memang digunakan untuk sistem tanam organik. Sampai sekarang sudah ada 10 petani yang bermitra dengan Inang. “Tidak terlalu sulit mendapatkan akses mitra petani organik, mitra kami sebagian besar petani kami adalah pemasok sayuran organik di supermarket,” kata Tina.

Luas kebun milik petani rata-rata 100 meter persegi dengan sistem tumpang sari, seperti kombinasi dengan sereh singkong, sengon, pepaya, ada juga yang ditanam di pematang jalan di kebun. Inang telah mendapat sertifikat organik dari Inofice, sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan.

Daun torbangun yang telah diolah menjadi teh dalam kemasan (Dok. Inang)

Menurut Tina, mengurus semua itu tidak sulit. Mereka mengikuti pelatihan sistem jaminan halal dan penyuluhan keamanan pangan. Bagi mereka sertifikasi semacam ini sangat penting karena terkait dengan kepercayaan konsumen. Mereka sangat berharap ada pelatihan sertifikasi-sertifikasi lainnya supaya produk mereka lebih mudah dipasarkan baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Kesulitan kami saat ini ke akses permodalan,” kata Ega.

Pemesan Inang kini tak hanya dari dalam negeri, melainkan dari Malaysia, Singapura, India, bahkan Amerika Serikat. Para pemesan umumnya menghubungi keduanya melalui Instagram. Ketika wawancara sedang berlangsung, Tina sedang melayani pembeli dari Hawai. Para pembeli juga acap mencurahkan hati mereka soal kesulitan menyediakan ASI, terutama bagi ibu pekerja.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Bismillah, Assalamu'alaikum mams.. Selamat pagi mams 😊 Sudah tau belum manfaat dari tanaman torbangun atau Daun bangun-bangun? Selain untuk membantu untuk menstimulasi produksi ASI. Tanaman torbangun memiliki kandungan flavonoid yaitu apigenin, luteolin, salvigenin, genkwanin dan quercetin. Tahukah mam apa itu Flavonoid? Flavonoid adalah kelompok senyawa bioaktif yang banyak di temukan pada bahan makanan yang berasal dari tumbuhan. Flavonoid serupa dengan antioksidan, yang memiliki manfaat untuk tubuh. Seperti dapat memperbaiki sel sel yang rusak akibat radikal bebas. Selain itu torbangun atau daun bangun juga dapat membantu mengobati beragam jenis penyakit. Seperti : mengobati malaria, batu ginjal, gangguan hepatopati, asma kronik, mengatasi kejang mengatasi cacingan, mencegah cacingan mengetasi bronkitis, mengatasi cekukan Anti Tumor dan Anti kanker Selain beragam manfaat daun bangun bangun di atas, ada beberapa manfaat sangat mengejutkan seperti anti tumor dan anti kanker. Daun bangun-bangun juga dikenal sebagai anti inflamasi. Anti inflamasi adalah zat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Apakah mam Ingin merasakan manfaatnya juga? Dari daun torbangun kering yg di jadikan minumannya? . Yuk mam.. Order @inang_booster_asi Di whatsapp 087721094152 Gratis ongkir,ketentuan berlaku ya mams #torbangun #torbangunwater #daunbangun2 #daunbangunbangun #dauntorbangun #tehtorbangun #pelancarasi #lactationspecialist #lactationtea #tehlaktasi #tulsi #boosterasi #asibooster #milkbooster #basil #pelancar haid #increasebreastfeeding #increasemamamilk #lactagogum #moringa #asi #mpasi #aqiqah #aqiqahJakarta #aqiqahtangerang #aqiqahbogor

A post shared by Torbangun Leaves Premium Halal (@inang_booster_asi) on

Ada juga yang mengeluh ongkos kirim yang mahal sehingga Ega dan Tina terpaksa tak jadi mengirimkannya. “Kami jadi ikut sedih karena tak bisa mengirim Inang yang dibutuhkan konsumen,” kata Ega. Sejauh ini modal mengembangkan Inang dari tabungan keduanya.

Jika Inang sudah stabil, Ega dan Tina bermimpi mendirikan semacam Pusat Studi Ibu dan Anak, yang tak hanya memberi pengetahuan soal ASI, tapi juga segala hal yang dibutuhkan ibu dan bayi, seperti pijat laktasi, spa bayi, hingga kuliner sehat untuk memperlancar ASI.

Artikel ini terbit di majalah versi cetak dengan judul "Sekental Air Susu Inang".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.