Teroka | Juli-September 2019

Toko-Toko Ramah Lingkungan

Kian banyak toko ramah lingkungan yang menjual produk tanpa kemasan. Baru di Jakarta.

Redaksi

Redaksi

MAKIN masifnya informasi tentang kerusakan lingkungan membuat kian banyak orang yang sadar aktivitasnya membuat alam merana, terutama aktivitas yang menghasilkan sampah. Lima tahun lalu kampanye ramah lingkungan adalah memilah sampah sesuai dan membuang ke tempatnya. Kini kampanyenya adalah tidak membuat sampah sejak dalam pikiran.

Karena perubahan gaya hidup dan paradigma itu melahirkan kebutuhan bahan pokok sehari-hari yang juga ramah lingkungan. Beberapa anak muda yang cemas akan nasib planet ini coba memenuhi kebutuhan itu dengan membuka toko-toko ramah lingkungan. Ciri toko ini adalah tak memakai kemasan dan mendorong konsumen berbelanja sesuai kebutuhannya saja.

SARUGA PACKAGE FREE SHOPPING STORE

Cara Cepat Memotong Jalur Sampah

MENJADI korban polusi udara akibat pembakaran sampah membuat Adi Asmawan bertekad menghentikan sampah sejak dari hulu: mengurangi kemasan barang kebutuhan sehari-hari. Lima tahun mempelajari alur sampah, Adi menyimpulkan bahwa untuk mencegahnya harus ada penanganan serentak dari produsen, distributor, dan konsumen. “Sejauh ini penanganan di sisi distributor belum menjadi perhatian,” kata laki-laki 45 tahun ini pada akhir Juni 2019.

Maka pada 16 November 2018, Adi mengajak Ridha Zaki mendirikan Saruga Package Free Shopping Store di Bintaro Jaya, Jakarta Selatan. Toko kelontong yang menyediakan kebutuhan sehari-hari ini menerapkan konsep nol sampah. Cara ini, menurut dia, bisa memotong jalur produksi dan distribusi sampah kemasan. “Sebab sampah rumah tangga itu lebih besar dibanding sampah industri,” katanya.

Di Saruga, konsumen didorong untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari secukupnya. Karena itu barang-barang kebutuhan bisa dibeli sesuai keinginan, bukan kemasan dengan berat dan jumlah yang tetap seperti umumnya di supermarket. Setiap produk menyediakan takaran dalam gram atau mililiter yang wadahnya dibawa sendiri oleh konsumen.

Saruga Package Free Shopping Store

Adi menyebut cara belanja ini sebagai “manajemen kebutuhan diri”. Ada macam ragam kebutuhan sehari-hari di Saruga. Selain kebutuhan dapur, makanan, juga alat-alat mandi dan kebutuhan rumah lainnya. Menurut Adi, kebutuhan personal dan rumah paling banyak diminati konsumen.

Tantang terberat di Saruga, kata Adi, bukan karena minimnya konsumen, justru dari produsen. Saruga menerima barang hasil olahan rumahan karena barang pabrik masih memakai kemasan. Menurut Adi, belum banyak produsen yang menyediakan produk sesuai dengan visi dan misi Saruga sehingga toko ini masih menerima barang dari pabrikan yang memakai kemasan. Adi menyalurkan plastiknya ke sekolah di sekitar Bintaro untuk diolah kembali menjadi barang berguna.

Saruga sudah menjalin kolaborasi dengan berapa produsen rumahan untuk menjadi pemasok barang. Adi berharap visi dan misinya ditangkap produsen lain yang bersedia menyediakan produk tanpa kemasan. “Ke depan kami berencana produksi sendiri, terutama makanan,” katanya.

Sejauh ini, Saruga masih belum beriklan secara masif. Adi dan Zaki masih mengandalkan informasi dari mulut-ke-mulut dan melalui media sosial. “Bila ada industri yang mau bekerja sama dengan produsen rumahan dan mendukung konsep ini saya yakin produksi sampah akan turun,” kata Adi. (Dewi Rahayu PN)

Lokasi:
Jalan Taman Bintaro 1, Sektor 1, RT.7/RW.11, Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan

 

NAKED INC

Tak Memikirkan Untung

BERAWAL dari kunjungannya ke Kalimantan pada 2018, Kiana Lee tersadar bahwa sampah memang jadi ancaman serius planet bumi. Selama ini ia hanya melihat berita soal sampah, sampah di perut paus, atau kura-kura yang mati terjerat tali plastik hanya dari televisi atau media sosial. Di Kalimantan ia melihat sendiri sampah merusak lingkungan. “Di hutan saja banyak sampah apalagi di kota?” kata perempuan 32 tahun ini. “Kita harus do something.”

Do something yang ada di benak Kiana adalah menghentikan produksi sampah, terutama kemasan plastik makanan dan kebutuhan sehari-hari. Penyebabnya adalah di toko makanan sudah dibungkus sesuai takaran pabrik, bukan takaran kebutuhan tiap orang. Akibatnya tak hanya menghasilkan sampah kemasan tapi juga sampah bahan makanan.

Maka muncul ide membuat toko tanpa kemasan. Tapi lulusan Western Sydney University ini tak punya pengalaman jualan. Tak ada juga anggota keluarganya yang pernah buka toko. Tapi ide itu terus menggodanya. “Idenya tiap orang bisa belanja sesuai kebutuhan mereka dan tanpa pembungkus,” kata dia.

Setelah survei tempat ke sana-sini, lahirlah Naked.Inc di Kemang, Jakarta Selatan, pada awal Maret 2019. Dengan lima karyawan, Kiana menyediakan pelbagai kebutuhan pokok masyarakat. Ia mencari pemasok hingga ke Bali, terutama untuk alat-alat pendukung seperti sendok dan garpu. Bumbu dapur dari Yogya dan Bandung, sementara makanan dan minuman jadi dari Jakarta. “Ada juga impor dalam jumlah yang banyak,” katanya.

Kiana Lee (tengah)

Selain menyediakan makanan, Naked.Inc juga punya program adopsi botol yang bisa ditukar dengan tas belanja. Hasil penjualan botol kaca itu sepenuhnya disumbangkan untuk pegiat perlindungan satwa.

Tas belanja di Naked lumayan mahal. Kiana sengaja memasang harga itu untuk memaksa konsumen membawa rantang sendiri dari rumah. Menurut dia, konsumen yang datang ke Naked umumnya sudah paham mengapa mereka belanja di sini. Jika libur, pembeli datang dari segala penjuru Jakarta, bahkan dari Bogor. Hari kerja umumnya pekerja kantoran di sekitar Kemang.

Para pembeli juga umumnya paham dengan harga yang sedikit lebih mahal dibanding di pasar tradisional. “Tapi pasti lebih murah dibanding supermarket,” kata Kiana. Harga lebih mahal karena Kiana mesti mengatur biaya dan ongkos, terutama untuk barang yang masa kadaluwarsanya cepat sehingga harus segera diganti.

Untung atau rugi jualan produk ramah lingkungan? “Saya sudah tak memikirkan untung atau rugi karena saya happy menjalani ini,” katanya. “I’m happy doing something untuk lingkungan, walaupun tidak banyak.” (Fitri Andriani)

Lokasi:
Jalan Kemang Timur Nomor 998, Jakarta Selatan

 

THE BULKSTORE & CO

Usaha Kecil Mencegah Pemanasan Global

SELAIN menjual bahan kebutuhan pokok sehari-hari, di The Bulkstore & Co juga ada informasi tentang gaya hidup yang selaras dengan alam. Salah satunya adalah mengurangi konsumsi makanan yang mengandung kimia dan berbahan protein hewani. “Industri peternakan hewan salah satu penyebab terbesar pemanasan global,” kata Putri Arif Febrila, CEO The Bulkstore & Co.

Bulkstore didirikan oleh lima sekawan pada Mei 2019 yang umumnya sudah punya produk lain semacam Burgreens, Herbilogy, dan Project Semesta. Buka setiap hari, kata Putri, semua bahan pangan curah di tokonya 95 persen berbasi nabati. Seperti di dua toko ramah lingkungan lain, Buklstore tak menyediakan kemasan plastik. Kantong belanja terbuat dari kertas. Itu pun dijual dengan mahal. Kantong belanja terbuat dari kertas atau wadah yang bisa dipakai berulang. Tapi Putri menganjurkan pembeli membawa kantong belanja sendiri.

Putri dan empat pendiri lain memang bercita-cita mengurangi sampah plastik sekali pakai, sampah makanan rumah tangga, dan mengubah kebiasaan hidup orang kota agar lebih selaras alam. Di Bulkstore, kata Putri, produk yang paling diminati jenis makan super seperti biji chia, kacang almon, bubuk vegan protein, hingga gula kelapa. Ada juga produk unik yang laris terjual seperti wine buah lokal, komposter organik, kantong berbahan dasar singkong atau sedotan baja.

The Bulkstore & Co

Pemasok di Bulkstore berasal dari industri rumahan dan pengusaha kecil dari luar Jakarta. Ketika Contohnya suplemen jamu dari Rahsa Nusantara, Bandung, atau produk-produk Mata Cinta yang disalurkan dari pengrajin Gorontalo. Dengan belanja di sini, kata Putri, konsumen juga diajak berkontribusi untuk kegiatan sosial yang dicanangkan oleh merek-merek produk yang yang bekerja sama dengan The Bulkstore & Co.

“Ada beberapa brand dari teman kami yang sebagian dari penjualannya didonasikan ke komunitas yang membutuhkan. Seperti misalnya Owellness untuk pundi perempuan, Liberty Society untuk edukasi anak, serta Live Mana,” kata Putri. “Kami sangat terbuka untuk kerja sama dengan sesama pelaku usaha sosial, termasuk UKM serta komunitas peduli lingkungan lainnya.”

Tantang utama membuka toko ramah lingkungan, kata Putri, justru mengedukasi kurir pengiriman barang dari luar kota. Perusahaan ekspedisi belum terbiasa tak memakai kemasan plastik dalam pengiriman barang. Putri dan teman-temannya menggunakan kurir sendiri karena jika tidak mereka harus meyakinkan ekstra keras agar kurir tak membungkus barang yang dipasok ke The Bulkstore & Co. (Siti Sadida Hafsyah)

Lokasi:
Jalan Wahid Hasyim nomor 47, Menteng, Jakarta Pusat.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.