Bintang | April-Juni 2018

Jihan Audy: Suka Kemping

Ketika Forest Digest bertanya mengapa suka kemping di gunung dan laut, gadis manis ini menjawab, “Supaya ekosistem dalam lingkungan hidup tersebut tidak rusak,” katanya.

Gagan Gandara

Rimbawan IPB

PENYANYI dangdut koplo ini rupanya suka kemping. Ia suka kemping di laut dan gunung. Tapi bukan kemping yang susah dengan naik gunung atau menjelajahi pantai yang jauh dan terpencil. Karena masih 14 tahun, siswi Sekolah Menengah Pertama kelas VIII membatasinya pada kegiatan wisata alam. Misalnya, karena mengikuti kegiatan sekolah. 

Jihan adalah penyanyi dangdut koplo yang baru melejit. Ia mewakili generasi milenial yang terkenal berkat YouTube. Pemilik nama lengkap Jihan Audylia Arinde Silva ini mulai menyaingi popularitas Via Vallen atau Nella Kharisma. Dara kelahiran Malang yang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur, ini juga sudah go-nasional setelah tampil di sebuah televisi.

Pengikutnya di Instagram pun kian melonjak. Pada awal Mei lalu, jumlahnya sudah lebih dari 632.000, di luar halaman penggemar yang dibuat banyak fansnya di media sosial. Album dan lagu-lagunya di YouTube sudah ditonton lebih dari 7 juta kali. Menurut laporan Jawapos.com, Di kota kelahirannya, hampir semua orkes melayu pernah sepanggung dengan Jihan.

Popularitas ini tak membuat Jihan lupa sekolah. Ia akan mementingkan pendidikan. Juga mencintai alam. Ketika Forest Digest bertanya mengapa suka kemping di gunung dan laut, gadis manis ini menjawab, “Supaya ekosistem dalam lingkungan hidup tersebut tidak rusak,” katanya. Ia buru-buru menambahkan, “Apabila satu ekosistem rusak maka ekosistem yang lain akan terganggu bahkan bisa rusak pula.”

Pendapat yang bagus, Jihan!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.