Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|17 November 2020

Prioritas Utama Usaha Retorasi

Katingan-Mentaya Project menjadikan pencegahan kebakaran sebagai prioritas utama dalam mengelola areal restorasi ekosistem. Bermitra dengan penduduk desa di sekitar konsesi.

PADA 2014, tak lama setelah izin konsesi restorasi ekosistem PT Rimba Makmur Utama terbit, Rezal Kusumaatmadja dan Taryono Darusman terbang ke Kosta Rika. Co-founder dan general field manager ini hendak berguru kepada Daniel H. Janzen, ahli restorasi ekosistem asal Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan usaha restorasinya di Kosta Rika.

Prioritas utama dalam pengelolaan restorasi ekosistem adalah pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan, begitu pesan Janzen kepada Rezal dan Taryono terkait pengelolaan restorasi ekosistem untuk kawasan konsesi yang kelak mereka namakan Katingan-Mentaya Project (KMP).

Sekitar sepekan mereka berdiskusi dengan Janzen sembari meninjau areal restorasinya di sana. Selama itu pula Daniel selalu mengulang pesan mengenai penanganan dan pencegahan kebakaran. Karena itu sepulang dari Kosta Rika, Rezal dan Taryono menjadikan penanganan dan pencegahan kebakaran sebagai prioritas program KMP, seluas 157.000 hektare di Kalimantan Tengah yang 90% arealnya gambut terdegradasi.

Tahap paling awal mewujudkan sistem pencegahan kebakaran lahan adalah melengkapi tim pemadam kebakaran dengan peralatan dan kemampuan melalui pelatihan. Semua alat yang diperlukan menunjang pemadaman api secara cepat mereka penuhi. Standarnya adalah alat penunjang memadamkan api saat kebakaran hutan musim kemarau 2015, yang tak cukup mencegah api membesar.

“[Saat itu] kami melihat lahan yang terbakar begitu luas, dan begitu terbakar apinya besar banget. Sebagai perbandingan, tim siaga api kami seperti satu perahu kecil yang digulung ombak tsunami setinggi sepuluh meter,” cerita Taryono.

Dari pengalaman itu, Taryono dan tim KMP sadar pentingnya peran dan bantuan masyarakat dalam penanganan kebakaran. Karena itu mencegah api adalah pilihan yang paling masuk akal. Apalagi pemicu api umumnya manusia, misalnya dalam pembukaan lahan. Strategi pendekatan sosial menjadi krusial.

Strategi pendekatan sosial itu berwujud Regu Siaga Api (RSA), komunitas pencegah api yang anggotanya warga desa dari dalam dan sekitar wilayah konsesi. RSA berperan mencegah dan memadamkan kebakaran. Tiap regu dilengkapi peranti pemadam kebakaran serta skill-set seperti layaknya tim pemadam kebakaran PT Rimba Makmur Utama.

Untuk beberapa desa yang sebelumnya sudah memiliki kelompok peduli kebakaran hutan, baik yang dibentuk secara mandiri atau oleh pemerintah desa, posisi KMP sebagai mitra. “Namun karena kami ada di tapak, dan punya kepentingan lebih urgent dibanding lembaga lain, peran kami lebih dominan,” jelas Taryono.

Kini dari 34 desa yang ada di kawasan konsesi KMP hampir seluruhnya memiliki RSA. Menurut Taryono, saat konsep ini diperkenalkan nyaris tak ada resistensi dari tiap-tiap desa. Baik warga maupun aparat desa sepakat kebakaran lahan ini adalah masalah bersama.

Mengubah Mindset. Idrus adalah anggota RSA dari Desa Bantian, Kecamatan Pulau Hanaut, salah satu desa yang termasuk dalam wilayah konsesi KMP di Kalimantan Tengah. Sejak 2016 ia bergabung dengan RSA. Ia rutin mengikuti pelatihan dan kegiatan pemadaman kebakaran.

Menurut Idrus, hal paling penting dalam mencegah kebakaran adalah mengubah mindset masyarakat terhadap api, terutama kebiasaan membakar lahan sebelum bercocok tanam. “Saat kami sedang berusaha memadamkan api di satu titik, tiba-tiba di titik lain sudah muncul lagi, dan kami tahu itu masyarakat yang memantik apinya,” kata Idrus.

Malah ada pandangan seperti ini di kalangan penduduk: “Mumpung ada petugas RSA, ya, kita bakar saja supaya mereka ada kerjanya!” kata Idrus, “Mereka anggap kami ini enggak ada kerja kalau tidak ada kebakaran.”

Jika tak ada kebakaran, kata Idrus, tim RSA tak kurang-kurang sibuknya. “Minimal melakukan servis APAR, dan peralatan teknis lainnya. Lalu memperbaiki pos, memetakan kembali jalur-jalur logistik, sekat-sekat bakar yang mungkin berubah atau bahkan rusak dalam peristiwa karhutla sebelumnya. Itu semua membutuhkan waktu khusus,” kata Nandes, anggota tim fire fighter KMP yang bertanggung jawab dalam berkoordinasi dengan RSA Desa di Kecamatan Pulau Hanaut. Dengan padatnya jadwal pemeliharaan sehari-hari, RSA pun selalu aktif berkegiatan terlepas dari ada atau tidak adanya kehadiran karhutla.

Dalam pemetaan, tim RSA menandai akses jalan untuk manusia, hewan, kendaraan, sumber air, serta bangunan-bangunan vital. Dari situ, RSA berkoordinasi dengan tim KMP membuat rencana pencegahan di daerah-daerah rawan tersebut. Misalnya, membangun tower, tabat, juga jalur dan jadwal patroli. Rutinitas ini rupanya yang tak diketahui penduduk walau telah menjadi kebiasaan tiap-tiap anggota RSA.

Mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi menjalankan slash and burn tugas menjadi tugas berat bagi KMP. Kehadiran RSA menjadi jembatan dengan masyarakat agar mengubah cara berpikir, cara mengolah lahan, serta memperlakukan api dalam bercocok tanam.

Dengan RSA, warga desa pelan-pelan terbuka pemikirannya bahwa kebakaran adalah masalah bersama. Mereka juga mulai memikirkan pencegahan, melalui pola tanam tanpa bakar tanpa kimia di ladang dan kebun mereka.

Artikel ini terbit atas kerja sama Forest Digest dengan Katingan-Mentaya Project.

Intisiatif restorasi ekosistem seluas 157.000 hektare di Kalimantan Tengah yang dikelola PT Rimba Makmur Utama sejak 2013

Bagikan

Komentar

Artikel Lain