Pojok Restorasi | 15 September 2020

Sekat Api Memakai Vanili

Tanaman vanili bisa menjadi dinding api yang efektif untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Satu hektare bisa menghasilkan Rp 5 miliar.

Katingan-Mentaya Project

Intisiatif restorasi ekosistem di Kalimantan Tengah

SALAH satu ancaman terbesar bagi kelangsungan Katingan-Mentaya Project, sebuah inisiatif restorasi ekosistem menjaga 157.000 hektare hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah, adalah kebakaran hutan dan lahan. Dari peristiwa kebakarna yang berulang tiap musim kemarau, tim KMP menyimpulkan, sumber api kerap berasal dari luar kawasan konsesi.

Karena itu, cara terbaik mencegah api datang lagi, adalah dengan membuat “dinding” atau “sekat” kawasan restorasi dengan permukiman penduduk atau perkebunan masyarakat. Dinding alamiah yang ramah lingkungan dan menghasilkan secara ekonomi itu adalah tanaman vanili.

Dengan berkebun vanili yang menguntungkan, penduduk secara otomatis akan melindungi tanaman itu. “Sehingga mereka juga akan mencegah api melalap kebun mereka yang berarti mencegah api masuk kawasan konsesi,” kata Hirason Horuodono, Manajer Pengembangan Bisnis KMP.

Penentuan tanaman vanili sebagai sekat alamiah mencegah api tak ditemukan begitu saja, melainkan melalui penelitian panjang sejak 2017 oleh I Made Setiawan, peneliti agroekologi dari Oxford, Inggris, dan konsultan independen KMP. Made menyimpulkan vanili sebagai tanaman yang cocok sebagai dinding api setelah beberapa kali ia berinteraksi dengan penduduk dan melihat lokasi desa. “Vanili mudah tumbuh di lahan gambut, minim perawatan, serta ada nilai sosial dan ekologisnya,” kata Made. Vanili juga coexist dengan biodiversitas di gambut sehingga tidak merusak dan tidak berpotensi dirusak oleh makhluk-makhluk yang sudah lebih dulu ada di ekosistem tersebut.

Made melihat vanili yang berkerabat dengan anggrek hutan cukup memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Dari beberapa referensi yang ia baca, di Kalimantan ada lima jenis indigenous vanili yang tumbuh liar di hutan. Artinya, tanaman ini cocok untuk kondisi alam dan iklim daerah setempat.

Pilihan tersebut baru dimantapkan saat Tukul, salah satu pegawai kantor KMP, bercerita bahwa di desanya ada sebidang hutan yang dipenuhi oleh vanili jenis Planifolia. Menurut Tukul, vanili itu sengaja ditanam oleh kepala desanya dari bibit yang dibawa dari Jawa. Tapi setelah ditanam penduduk membiarkannya begitu saja karena mereka tak paham membudidayakannya.

Setelah melihat kebun vanili itu, Made menyimpulkan bahwa vanili tumbuh baik di gambut karena ekosistem ini menyediakan inang untuk tumbuh, yakni kayu. Pertumbuhan vanili juga mulus karena ternyata tak disukai babi hutan dan orang utan, dua satwa yang hidup di rawa gambut. “Sehingga vanili tak diganggu atau dirusak,” kata Made.

Sebagai upaya awal, Made dan Tim Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Hutan (PMDH) KMP membagi-bagikan bibit vanili secara cuma-cuma kepada penduduk desa, baik yang berada di dalam zona proyek maupun kawasan sekitarnya. Sumber bibitnya, menurut Hirason, diambil dari Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat. Ada pula yang didatangkan dari Bali.

Penduduk antusias menerimanya. Mereka menanam vanili di kebun-kebun mereka yang bergambut. Untuk menghemat ongkos, Made menyarankan penduduk desa membuat beberapa lokasi pembibitan. KMP membuat kebun bibit di Desa Terantang dan di halaman Coconut Sugar Training Center di Desa Basawang.

Dengan tumbuh suburnya vanili di kebun penduduk, KMP mengubah pola kerja sama. Dari semua pemberian bibit gratis, KMP mengubahnya menjadi pinjam-tanam. Artinya, ketika ada tanaman vanili penduduk yang bibitnya berasal dari KMP siap dipanen, mereka mesti memotong sulur di bagian atasnya dan menyerahkannya kepada KMP untuk dijadikan bibit baru.

Saat ini proyek penanaman vanili masih dalam tahap pencarian mitra tanam serta tahap pembibitan di lokasi-lokasi yang telah dipilih. Mitra tanam yang diperlukan, terutama, ialah mereka yang telaten dan sabar untuk proyek ini. Pasalnya, penanaman vanili membutuhkan waktu lama. Untuk mencapai tahapan berbuah butuh 2-3 tahun. Setelah itu, butuh sekitar tujuh hingga sembilan bulan lagi bagi buah vanili untuk matang dan siap panen.

Hasil panen yang berharga tinggi biasanya yang sudah berupa polong kering. Proses pengeringannya bisa memakan waktu hingga sebulan. “Jadi memang benar-benar harus sabar sekali,” ujar Hirason.

Karena itu menanam vanili tak ubahnya investasi jangka panjang. Jika sukses, harga polong kering vanili di pasar sekarang sekitar Rp 5 juta per kilogram per hektare. Satu hektare menghasilkan 1 ton polong kering. Penduduk bisa memantau harganya melalui Internet.

Untuk menggairahkan penduduk pada minat menanam vanili, KMP meluaskan kerja sama dengan opsi  usaha lain, seperti menjadi perajin gula kelapa, kacang mete, atau petani tanpa bakar tanpa kimia (TBTK) serta peternak sapi. Usaha-usaha tersebut lebih cepat menghasilkan, sehingga kebutuhan ekonomi jangka pendek penduduk terpenuhi dengan budidaya ini sehingga mereka tertarik menanam komoditas jangka panjang.

Belakangan, karena nilai ekonominya yang tinggi, karyawan lokal KMP di Sampit juga tertarik budidaya vanili di lahan-lahan di sekitar rumah mereka.

Artikel ini terbit atas kerja sama Forest Digest dengan Katingan-Mentaya Project.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain