Inforial | April-Juni 2020

Restorasi Ekosistem: Multiusaha Rimba Raya

Wilayah RRC rentan terhadap kebakaran, ekspansi kelapa sawit serta di kebutuhan pembangunan daerah, seperti pembangunan jalan pelabuhan Sigintung, perumahan dan perkebunan masyarakat.

Yani Saloh

Communication & Stakeholder Engagement Specialist Rimba Raya Conservation

Rimba Raya Biodiversity Reserve (Proyek Rimba Raya) merupakan program konservasi dan restorasi ekosistem PT Rimba Raya Conservation (RRC) yang beroperasi sejak 2013.  Kegiatan RRC bertujuan melindungi satu-satunya hutan rawa gambut tropis tersisa di Kabupaten Seruyan, penyangga utama Taman Nasional Tanjung Puting di sebelah barat—habitat orangutan (Pongo pygmaeus) yang terancam punah. Rimba Raya bekerja di 14 desa, 1 dusun, dan 1 dukuh, di Kecamatan Seruyan Hilir dan Danau Sembuluh, Kalimantan Barat.

“Misi utama kami adalah menjaga, melindungi, dan merestorasi hutan yang berfungsi sebagai penyeimbang iklim dunia, dengan tegakan pohon dan lahan gambut sebagai penyerap dan penyimpan karbon, menjaga keseimbangan ekosistem hutan dengan masyarakat dan keanekaragaman hayati yang berada di sekitarnya,” kata Sylviana Andhella, Eksekutif Direktur RRC.

Lokasi kerja Rimba Raya di utara dan timur dikelilingi 32 perkebunan sawit besar, serta 10 hutan tanaman industri, sedangkan bagian selatan berbatasan dengan pelabuhan Sigintung, pemukiman, dan kebun masyarakat. RRC merupakan inisiatif dengan perspektif bisnis, di mana keuntungan bisnis diperoleh dari melindungi dan meningkatkan jasa lingkungan ekosistem, terutama melindungi kawasan lahan gambut dari konversi perkebunan kelapa sawit yang terencana, yang mulanya untuk empat konsesi perkebunan sawit. Hal ini sejalan dengan kerangka kerja REDD melalui Avoided Planned Deforestation (APD) yang menjadi kerangka kerja RRC.

Berdasarkan verifikasi 2018, kegiatan restorasi RRC mendapatkan kriteria triple gold dengan standar verifikasi VCS/CCB (Verified Carbon Standard/Climate-Community-Biodiversity).

“Restorasi Rimba Raya merupakan proyek yang unik dan tidak mudah. Wilayah kerja kami 75% hutan rawa gambut tropis yang sebagian besar telah terdegradasi karena eksploitasi berlebihan, keberadaan tatah (kanal tradisional yang dibuat manual untuk mengeluarkan kayu) yang berdampak pada pengeringan gambut, termasuk kerusakan gambut karena proses oksidasi dan kebakaran,” ujar Febrasius, General Manager Rimba Raya.

Selain itu wilayah RRC juga rentan terhadap kebakaran, ekspansi kelapa sawit serta di kebutuhan pembangunan daerah, seperti pembangunan jalan pelabuhan Sigintung, perumahan dan perkebunan masyarakat. “Kami harus melibatkan masyarakat melalui program pemberdayaan dengan alternatif usaha berkelanjutan sambil mengajak masyarakat di desa wilayah kerja untuk meningkatkan kepedulian menjaga hutan dan ekosistemnya,” ujar Sylviana Andhella, Eksekutif Direktur RRC. 

Kerja sama para pihak, tidak saja masyarakat, termasuk pemerintah daerah sangat mendukung keberhasilan kegiatan restorasi ini.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan untuk IUPHHK-RE, RRC melaksanakan kegiatan restorasi ekosistem dengan mendapatkan keuntungan finansial dari kegiatan pemulihan fungsi hutan produksi berdasarkan prinsip pengelolaan hutan produksi lestari dan memajukan kesejahteraan masyarakat setempat (ekologi, ekonomi, dan sosial).

"Mandat yang dipegang teguh oleh para pemegang IUPHHK-RE adalah pemulihan fungsi ekosistem hutan produksi berdasarkan prinsip pengelolaan hutan lestari (PHL) dan memajukan masyarakat lokal," ujar Asep Sugih Suntana, Managing Director RRC. "Mandat ini kemudian disertai dengan mandat lain terkait efisiensi pengelolaan dan profit. Semua Restorasi Ekosistem dikelola oleh organisasi yang dirancang untuk memperoleh profit dari pelaksanaan kegiatannya", tambahnya.

“Kita tidak bisa berharap masyarakat terlibat untuk merestorasi dan menjaga hutan apabila kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi.”

Sylviana Andhella, Direktur Eksekutif RRC.

Sejak 2017 RRC tiga kali melepasliarkan orangutan di Camp Rimba Raya Seruyan (CRRS), di Tatah Slamet, Desa Baung, Seruyan, sebanya 25 individu, 13 laki-laki dan 12 perempuan telah dilepasliarkan. Pada 2019, putri salah satu dari orangutan yang dilepasliarkan tersebut telah melahirkan 1 anak. Sebelumnya Mercedes juga melahirkan 1 anak di tahun 2018.

Orangutan yang dilepasliarkan di Camp RRS berasal dari hasil sitaan BKSDA dari masyarakat yang menangkapnya di kebun sawit perusahaan. Kegiatan ini merupakan kerja sama OFI/OCCQ (orangutan care center and quarantine) dengan RRC.

Saat ini proyek RRC tengah mengidentifikasi flora dan fauna. Untuk identifikasi fauna, RRC memasang 25 unit kamera trap di tiga wilayah yang dimonitor setiap 3-4 bulan. Beberapa satwa liar yang masuk kategori nyaris punah tertangkap kamera tersembunyi, seperti: orangutan, bekantan, beruang madu, kijang, kelasi (lutung merah), kucing hutan, lutung, pelanduk akar, rusa, trenggiling, owa, musang congkok. Belum termasuk beberapa jenis lainnya seperti elang hitam, elang laut dan buaya taman, dan fauna berharga lainnya yang masih banyak terdapat di sekitar wilayah Rimba Raya.

Saat ini identifikasi fauna RRC masih difokuskan ke mamalia besar, seperti rusa, kijang, beruang. Hasil identifikasi ini dijadikan bukti sah untuk menunjukkan bahwa hewan tersebut memang benar ada di wilayah RRC. Setelah identifikasi, langkah berikutnya adalah penentuan pola persebaran mamalia tadi, yang juga bisa digunakan untuk memperkirakan jumlah populasi dan jangka panjangnya untuk penelitian pola hidup jenis mamalia tersebut. 

“Dengan ditemukannya banyak fauna dan flora yang memiliki status endanger, artinya kawasan tersebut menunjukkan habitatnya tidak tergantikan,” ujar Fernandez Ngariswara, Manager Biodiversitas RRC. Lokasi penemuan fauna atau flora tersebut menjadi indikasi kawasan tersebut memiliki high conservation value (HCV).

Upaya perlindungan keanekaragaman hayati RRC saat ini lebih mengarah ke restorasi kawasan, dengan melakukan penanaman kembali, dengan tujuan utama mengembalikan kondisi ekosistem yang hilang setelah pembalakan dan terbakar.  Kegiatan ini akan didukung juga dengan upaya pembasahan gambut (rewetting) pada areal penanaman tersebut. Langkah ini dimulai dengan identifikasi tatah (kanal tradisional) di lokasi-lokasi penanaman. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan beberapa sekat kanal secara bertahap.

Rimba Raya: Hutan terjaga, Masyarakat Berdaya dan Sehat

Lilis Sumarlin, 30 tahun, bersama suaminya yang bekerja sebagai nelayan pindah ke rumah jaga desa di pos Danau Sigintung sejak tahun 2018. Salah satu kendala tinggal di pos jaga adalah mendapatkan akses terhadap air bersih.  Tahun 2018, Ibu Lilis mendapatkan 1 unit alat penyaring air berkapasitas 13 liter dari RRC.

“Pembagian alat penyaring air bersih ini sangat bermanfaat untuk kami” ujar Ibu Lilis Sumarlin. “Dulu saya harus beli air bersih ke desa Muara Dua naik perahu kecil 20 menit. Sekarang saya hanya memasukkan air ke saringan, menunggu beberapa menit langsung bisa diminum” jelasnya. Alat penyaring air bersih siap minum ini sangat bermanfaat bagi ibu Lilis, di samping memiliki keterbatasan biaya, juga Ibu Lilis memiliki keterbatasan beraktivitas karena memiliki putri difabel.

Sejak 2014 Rimba Raya telah membagikan lebih dari 1,800 unit alat penyaring air bersih kepada warga di 14 desa dampingan. Manfaat program akses untuk air bersih ini sangat dirasakan oleh warga desa. “Ketika awal kami beroperasi, kami melihat bahwa masyarakat terbatas mendapatkan akses terhadap air bersih.  Oleh karenanya kegiatan ini muncul dan menjadi prioritas agar kesehatan masyarakat desa di wilayah kerja terjaga” ujar Hartono, Unit Manager Wilayah Tengah RRC.

“Air sungai Seruyan sangat kotor dan tidak layak minum. Air bersih adalah kebutuhan utama kami,” ujar Jumeri, warga desa Muara Dua. Pada 2019 Rimba Raya melakukan uji coba instalasi water purifying system (WPS) dengan kapasitas 2.000 liter di 3 desa.

“Uji coba ini kami lakukan karena ada masa penggantian terhadap alat penyaring air bersih setelah pemakaian 7,000 liter. Instalasi WPS ini di samping memberikan akses terhadap air bersih, juga menciptakan usaha dan pendapatan baru melalui unit usaha air bersih galon yang dikelola oleh masyarakat dan kelompok perempuan” jelas Anton Anthon Kesaulya, Manajer Pemberdayaan Masyarakat.

Sungai Seruyan merupakan sungai utama yang menghubungkan Rimba Raya dengan 14 desa wilayah kerja. Lokasi desa yang terpencil dan terbatasnya akses transportasi menjadi salah satu kendala masyarakat terhadap akses kesehatan.  Kedua hal ini merupakan elemen penting bagi masyarakat. “Pada tahun 2019 kami telah melakukan uji coba 3 kali pelayanan kesehatan melalui klinik terapung ke 8 desa, 2 dusun”, ujar Akhmad Efendi, Unit Manajer Wilayah Selatan Rimba Raya. “Kegiatan ini mendapatkan sambutan baik dari masyarakat, melayani 745 pasien, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat” tambahnya.

Selain kesehatan, akses terhadap listrik juga merupakan kendala utama desa. Proyek Rimba Raya membangun 2 unit solar panel komunal (15 panel) dengan kapasitas terpasang 12 KWH per hari di desa Ulak Batu. “Energi matahari ini menyediakan lampu bagi 57 rumah, fasilitas umum, mesjid dan lampu jalan” ujar Fransiscus Xaverius, Unit Manajer Wilayah Utara Rimba Raya. Perawatan solar panel ini dikelola oleh kelompok pemuda masyarakat desa Ulak Batu yang sangat antusias terhadap kegiatan ini. Kegiatan serupa direncanakan akan direplikasi di desa lainnya.

Mitra Utama Rimba Raya

  • KLHK
  • TN Tanjung Puting
  • Kabupaten Seruyan dan Dinas terkait
  • 14 Desa di Kecamatan Seruyan Hilir dan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan
  • PT BEST
  • InfiniteEARTH, Orangutan Foundation International, Widya Erti Indonesia.

Konsep restorasi Rimba Raya digagas oleh InfiniteEARTH bekerja sama dengan Orangutan Foundation International, dengan mereplikasi ide health in harmony untuk konsep klinik terapung.

Intervensi Proyek Rimba Raya

Kesehatan

  • Klinik Terapung, 745 pasien, 3 kali pelayanan kesehatan di 8 desa, 2 dusun (2019). Terlibat dalam Posyandu Desa.
  • 158 kaca mata baca dibagikan di 3 Desa, P: 76 ; L: 82.
  • 1,852 unit alat penyaring air bersih dibagikan di 14 desa.
  • 3 unit Instalasi Water Purifying System (WPS) di desa Baung, Muara Dua dan Jahitan, dengan kapasitas 2,000 liter. Menjadi unit usaha air bersih galon masyarakat, terutama kelompok perempuan. Akan direplikasi di desa lainnya.
  • Tanaman rumah untuk meningkatkan nutrisi keluarga.

Akses terhadap Listrik

  • 2 unit solar panel komunal (15 panel) dengan kapasitas terpasang 12 KWH per hari di desa Ulak Batu. Menyediakan lampu bagi 59 rumah, fasilitas umum, mesjid dan lampu jalan. Pendanaan dari Kedutaan New Zealand
  • Solar Power Electrification 6,7 KW per harinya untuk 27 rumah dan 1 mesjid/mushola di Dukuh Tampudau, Desa Muara Dua.
  • 1,669 rechargeable led lamp (tenaga surya).
  • 110 solar lantern (pelita lampu solar panel).
  • 166 penggantian baterai.

Ekonomi Baru Masyarakat

  • Dukungan usaha dan peningkatan kapasitas kelompok perempuan: Manuk Taheta usaha kelompok perempuan ternak ayam. Terasi Zuper. Unit usaha Galon air bersih. Budidaya ikan. Magot dan identifikasi potensi ekowisata akan dikembangkan di 2020.
  • Pengembangan Agroforestri di lahan hutan kerangas dengan tanaman pionir yang tahan terhadap kondisi ekstrem, seperti nenas, jengkol, petai, buah lokal.
  • Lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal di wilayah kerja. (P: 9 dan L: 49).

Edukasi

  • Sekolah lapang di SMP dan SMA Telaga Pulang.
  • Perpustakaan desa di Ulak Batu dan Muara Dua.
  • Pelajar dan pramuka menanam pohon dan edukasi lingkungan.
  • Beasiswa 14 perempuan dan 10 laki-laki, di tingkat SMA/SMK.

Revegetasi

  • 15,091 ha hutan rawa gambut dilindungi, semulanya akan ditanami oleh sawit apabila proyek restorasi ini tidak ada.
  • Hingga tahun 2019 awal, 246,245 bibit pohon ditanam. 139,465 jenis paludikultur, 86,780 jenis tanaman agroforestri dan 20,000 jenis untuk mangrove, di total lahan seluas 512,6 ha.
  • Menanam 70,000 bibit di zona penyangga TN (Utara dan Selatan). Pengadaan bibit berasal dari rumah bibit masyarakat (individu dan kelompok).
  • 28,737 bibit disemai,  dengan 8,450 jenis paludikultur dan 20,287 tanaman agroforestri.

Perlindungan Keanekaragaman Hayati

  • 25 kamera trap terpasang dengan pelatihannya.
  • Tertangkap beberapa jenis satwa terancam punah seperti orangutan, bekantan, beruang madu, kijang, klasi, kucing hutan, lutung, pelanduk akar, rusa, trenggiling, owa, musang congkok.
  • 25 orangutan telah dilepasliarkan sejak 2017 (3x) di Camp Rimba Raya Seruyan (P: 13; L: 12). Saat ini dua dari orangutan tersebut (Mercedes dan Putri) masing-masing telah melahirkan 1 anak.
  • Membuat peta area kerentanan terhadap pembalakan liar dan kebakaran lahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain