Inforial | April-Juni 2019

Harumkan Citarum

Hulu sungai/DAS Citarum hampir seluruhnya berupa lahan kritis, yang termasuk dari keseluruhan luas lahan kritis Pulau Jawa 2,1 juta ha atau 14 juta ha lahan kritis di seluruh Indonesia.

Badan Pelaksana DAS Hutan dan Lahan Citarum-Ciliwung

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Pendahuluan

Sungai Citarum adalah salah satu sungai terpenting di Indonesia, karena jutaan jiwa masyarakat tergantung kehidupannya. Tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan air dan pangan (pertanian, perikanan), tetapi juga dalam pemenuhan energi listrik. Ironisnya, selama ini Citarum diperlakukan dengan buruk, seluruh Daerah Tangkapan Air (DTA) sungai Citarum telah digunakan untuk praktik-praktik pertanian yang tidak ekologis, sehingga menyebabkan erosi dan sedimentasi luar biasa. Ratusan pabrik membuang limbahnya ke sungai Citarum tanpa perlakuan memadai.

Terhadap fakta-fakta menyedihkan tersebut diperlukan tindakan nyata mengembalikan sungai penting ini agar sehat (mendekati normal). Presiden RI memberikan perhatian penuh terhadap penyehatan sungai/DAS Citarum, pada bulan Februari 2018, Presiden hadir di hulu DAS Citarum dan melakukan penanaman pohon. Sebagai bentuk komitmen Pemerintah, Presiden menerbitkan Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang  Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Penanganan DAS adalah sebuah persoalan kompleks yang melibatkan berbagai sektor dan stakeholders. Pemulihan Sungai Citarum adalah pekerjaan rumah bagi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, institusi, lembaga, hingga masyarakat di tingkat tapak.

Hulu sungai/DAS Citarum hampir seluruhnya berupa lahan kritis, yang termasuk dari keseluruhan luas lahan kritis Pulau Jawa 2,1 juta ha atau 14 juta ha lahan kritis di seluruh Indonesia. Untuk percepatan rehabilitasi lahan kritis ini, Presiden RI telah mengarahkan agar luas rehabilitasi dilipatgandakan, dan tahun 2019 target rehabilitasi lahan menjadi 226.000 ha atau 10 kali lipat target tahun 2018. Kegiatan rehabilitasi utamanya berupa penamanan pohon dan pembuatan bangunan teknis pencegah erosi dan sedimentasi. Secara khusus Presiden juga berpesan, agar upaya rehabilitasi lebih difokuskan pada 15 DAS prioritas (termasuk DAS Citarum), DTA dam/waduk, serta daerah yang rentan bencana hidrologi.

Menaruh Harapan pada Citarum

Jika mampu menyelamatkan Citarum, sejatinya telah menjaga keutuhan dan ketahanan bangsa ini. Bagaimana tidak, sungai yang mengalir sepanjang 297 kilometer ini mampu mendukung kehidupan lebih dari 27 juta manusia yang tinggal di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kebutuhan air minum penduduk Jakarta 80 persen berasal dari Citarum. Selain sebagai penyuplai air bersih dan menghasilkan listrik untuk Jawa-Bali, Citarum juga mampu memberikan air untuk irigasi persawahan seluas 420.000 ha, serta dengan kondisi yang subur di sepanjang Citarum, Cianjur dan Karawang menjadi lumbung pangan untuk warga Jawa Barat.

Berdasarkan data BPDASHL Citarum Ciliwung luas keseluruhan DAS Citarum mencapai 690.571,57 ha. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di Jawa Barat dan DKI Jakarta, seharusnya masyarakat tersebut mempunyai kesadaran yang tinggi untuk menjaga dan melestarikan Citarum. Namun, masih banyak yang tidak mempedulikan keberadaan Citarum, mulai hulu hingga ke hilir, kondisi Citarum kian memprihatinkan dan sangat kritis.

Lesson Learn Program Quick Wins

Pada 2015, Kementerian LHK mencanangkan program Quick Wins untuk 15 DAS prioritas penanganan, termasuk Citarum. BPDASHL Citarum Ciliwung memfokuskan dukungan penanganan Citarum pada aspek pengelolaan lahan dan konservasi tanah dan air DAS Citarum. Quick Wins, sebuah program cepat tanggap terkait pengelolaan DAS dengan indikator terukur, waktunya hanya enam bulan dengan didampingi 56 tenaga fasilitator.

Citarum terdapat 76.959 ha lahan kritis (Ditjen BPDASHL 2013). Kritisnya lahan di DAS Citarum membuat tingkat erosi tinggi yang secara nyata menyebabkan pendangkalan pada 3 waduk paling penting di Jabar, Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur.

Pendekatan yang digunakan untuk mengatasi degradasi lahan adalah konservasi tanah air dengan alami dan buatan. Pendekatan alami dilakukan dengan membangun agroforestry atau wanatani, yaitu menumbuhkan berbagai jenis tanaman di lahan kritis. Pendekatan teknis sipil dilakukan dengan membangun beberapa bangunan konservasi tanah dan air, yaitu: dam penahan, dam pengendali, gully plug, dan sumur resapan. Lahan kritis menjadi areal prioritas untuk pelaksanaan kegiatan quick wins, karena keberadaan lahan kritis memiliki daya dukung DAS yang rendah dan berpotensi menyebabkan masalah longsor, banjir, dan kekeringan.

Pelaksanaan program quick wins dalam membangun wanatani hanya mencakup 4,6 persen dari luas potensial lahan yang dapat dikembangkan menjadi wanatani mencapai 117.314 ha di daerah hulu, tengah, dan hilir. Sejumlah 240 kelompok tani turut membangun formasi hutan kebun seluas 5.475 ha di 126 desa. Wanatani memungkinkan beragam pemanfaatan potensi lahan, jenis tanaman campuran mulai dari pepohonan kayu, buah-buahan, tanaman palawija, sayur mayur, serta rerumputan sebagai penutup tanah. Wanatani juga dikombinasikan dengan ternak domba dan sapi yang memberikan stimulan kelompok tani mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih besar.

Bangunan fisik Dam penahan (Dpn) merupakan struktur bangunan yang bertujuan mengurangi erosi pada parit atau selokan dengan mengurangi kecapatan aliran air permukaan. Dpn ditempatkan pada lahan yang kritis dan potensial kritis dengan tingkat sedimentasi yang sangat tinggi. Program quick wins dalam menyediakan Dpn di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat berhasil membangun 143 unit (86%).

Dam Pengendali (Dpi) memiliki fungsi yang sama dengan Dam penahan. Secara struktur, bangunan Dpi lebih besar dari Dpn. Bangunan Dpi dapat dikendalikan sedemikian rupa sebagai tempat parkir air sementara, sehingga sedimentasi akan lebih banyak terjarap dalam bangunan sebelum masuk aliran utama. Selama periode quick wins, Dpi berhasil dibangun dua unit di Kabupaten Bandung.

Bangunan pengendali jurang atau (gully plug) dibuat dengan investasi yang lebih mudah dan lebih murah. Gully plug ditempatkan pada parit dengan kontruksi batu, kayu, atau bambu. Selama periode quick wins, di Kabupaten Bandung dibangun 250 unit dan Kabupaten Bandung Barat 85 unit.

Bangunan lain yang diterapkan sebagai pendekatan konservasi tanah dan air adalah Sumur Resapan Air (SRA). Fungsi sumur adalah menampung air hujan yang jatuh dari atap bangunan tertentu dan meresapkannya ke dalam tanah. Selama program quick wins, SRA yang berhasil dibangun mencapai 2.100 unit. Selain itu, BPDASHL Citarum Ciliwung juga membangun dua Stasiun Pengamat Aliran Sungai (SPAS) di Sub DAS Cihaur dan Sub DAS Ciminyak.

Periode quick wins telah berakhir, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil untuk membantu mengatasi lahan kritis di Citarum. Beberapa faktor yang mendorong keberhasilan pelaksanaan kegiatan di lapangan adalah (1) keterlibatan kelembagaan lokal yang peduli lingkungan dan tersedianya fasilitator yang mumpuni dalam mendampingi kelompok masyarakat, (2) kelompok tani dengan kesadaran sendiri telah menerapkan konservasi tanah dan air, dan (3) konsep wanatani secara jelas diterima oleh kelompok tani.

Terus Menanam

BPDASHL Citarum Ciliwung terus menanami lahan kritis dengan pepohonan untuk memperbaiki kualitas DAS Citarum. Periode tahun 2015, penanganan lahan kritis difokuskan pada lahan-lahan di luar kawasan hutan bekerja sama dengan kelompok masyarakat. Lahan-lahan wanatani yang dikembangkan tahun 2015 sebagai pelaksanaan quick wins tetap dipantau dan dalam pemeliharaan tahun pertama dan kedua.

Tahun 2016, BPDASHL Citarum Ciliwung bekerja membangun dan mengembangkan wanatani pada lahan seluas 5.795 ha dan terbangunnya 48 unit Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang digunakan sebagai sumber bibit berkualitas untuk membangun wanatani dan reboisasi. Tahun 2017, total lahan yang dipelihara dan dikembangkan untuk wanatani maupun reboisasi meningkat sampai 11.337 ha. Jumlah KBR bertambah menjadi 23 unit. BPDASHL Citarum Ciliwung juga melakukan aerial seeding (menyebarkan benih dengan bantuan helikopter) untuk memperluas jangkauan penyebaran benih tanaman di dalam kawasan Hutan Lindung seluas 7.221,35 ha.

BPDASHL Citarum Ciliwung mengembangkan kerangka kerja sama dengan para pihak, dengan menggandeng Perum Perhutani untuk melakukan rehabilitasi lahan kritis di dalam hutan lindung. Skema yang digunakan ada dua, yaitu: 1.100 batang per ha pada lahan seluas 81,75 ha dan pola 625 batang per ha pada lahan seluas 4.404,79 ha.

Kebijakan BPDASHL Citarum-Ciliwung Tahun 2019

Kebijakan BPDASHL Citarum Ciliwung tahun 2019 untuk perbaikan DAS Citarum terbagi menjadi 2 kategori, yaitu: kegiatan dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. Kegiatan dalam kawasan hutan berupa agroforestry, RHL konvensional yang pelaksanaannya berupa kerja sama dengan pihak Perhutani dan kawasan konservasi. Luas rencana kegiatan RHL pada tahun 2019 seluas 5.839,7 ha, dimana seluas 4.251,9 ha dilaksanakan bersama Perhutani pada Hutan Lindung, dan Hutan Konservasi oleh Balai Besar KSDA Jabar seluas 1.363,2 ha, dan sisanya Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango seluas 224,6 ha. Selain itu dalam kawasan juga diadakan Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang diberikan kepada Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) dalam mendukung Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL).

Sedangkan kegiatan di luar kawasan hutan dapat berupa bangunan KTA, yaitu: Dam Penahan sebanyak 70 unit, gully plug sebanyak 220 unit, pembagian bibit produktif, penyediaan bibit persemaian permanen, penghijauan lingkungan dan KBR.

Harapan kedepan kegiatan pengelolaan dan pelestarian DAS Citarum Ciliwung adalah perlu adanya inovasi berupa penggunaan teknologi dalam kegiatan RHL, berupa penilaian aset per pohon dalam bentuk monitor perkembangan secara citra setelit, sehingga aset negara berupa RHL tidak berkurang.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.