Oase | April-Juni 2020

Virus Corona dan Pemanasan Global

Pemanasan global memicu munculnya virus-virus baru, termasuk virus corona. Virus-virus itu masuk tubuh manusia dalam rangka rebutan ruang hidup dalam seleksi alamiah.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

SEMESTA bekerja dengan menyeleksi penghuninya. Teori Charles Darwin dalam The Origin of Species yang terbit pada 1859 kian relevan hari-hari ini, tentang siapa yang menginfeksi dan siapa yang tengah menyembuhkan bumi. Virus flu corona menyerang seluruh dunia dan menjadi pandemi yang mencemaskan di era modern. Hingga 6 April 2020 virus yang menular lewat kelelawar dan tenggiling—bermula di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019—ini telah menginfeksi 1.274.346 orang dan menewaskan 69.480 jiwa.

Ketika Darwin menerbitkan buku babonnya itu, dunia ilmiah terguncang. Ahli biologi Inggris ini menyodorkan teori penciptaan dan evolusi ketika dunia tengah kembali menengok agama. Tapi sejak itu pula para ilmuwan mempertanyakan konsepsi tentang kehidupan di bumi ini. Misalnya, sebuah pertanyaan yang memicu penelitian besar-besaran setelah temuan Darwin adalah: mesin apa yang menggerakkan semesta bekerja dengan menyeleksi penghuninya sendiri?

Tiga puluh-satu tahun kemudian, Hugo de Vries, ilmuwan Prancis, meneruskan teori Darwin dengan menjawab pertanyaan lain tentang bagaimana cara mahluk hidup bertahan dalam seleksi alam itu. Ia menanaminya mutasi gen—kata yang baru dikenalkan pada 1909 oleh William Johannsen. Ahli botani Denmark ini memendekkannya dari “pangennes” yang dikenalkan Darwin, lalu dipendekkan lagi oleh de Vries menjadi “pangene”.

LEBIH DETAIL: Dunia Setelah Virus Corona

Dengan mutasi gen itulah mahluk hidup bertahan dalam evolusi, membentuk keragaman hayati yang menopang semesta ini. Alam raya pun memiliki segala jenis mahluk hidup—para ilmuwan menduga kita baru bisa mengidentifikasi 3 juta spesies, sementara masih ada 15 juta yang belum terpahami oleh kita. Tapi kesimpulan de Vries memicu pertanyaan lain: apakah mutasi bersifat spontan? Mesin apa yang menggerakkan seleksi alam?

Baru pada 1930, pertanyaan itu coba dijawab. Salah satunya oleh ahli biologi Ukraina yang bermigrasi ke Amerika Serikat, Theodosius Dobzhansky. Ia mendatangi pulau tempat Darwin bermeditasi menyibak penciptaan alam: Galápagos di Laut Pasifik. Ia meneliti lalat Drosophilia psuedoobscura dengan memasukkannya ke dalam kardus berhawa dingin dan kardus bersuhu kamar. Larva baru tumbuh dengan jenis yang berbeda sesuai suhu tempat lalat itu hidup. Dobzhansky menyimpulkan, mutasi dan seleksi alam digerakkan oleh temperatur.

Suhu bumi adalah mesin tak terlihat yang membuat gen bermutasi, mendorong mahluk hidup beradaptasi, dan akhirnya berevolusi. Teori itu bertahan hingga hari ini. Maka jika para ahli dalam panel Intergovernmental Panel for Climate Change melansir bahwa 1 juta spesies hilang dalam 40 tahun terakhir, penyebabnya adalah naiknya suhu bumi yang membuat planet ini menghangat. Satwa-satwa beradaptasi menjadi spesies baru atau musnah karena tak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Tepat pada kurun itu, satelit NASA mencatat suhu bumi naik 0,80 Celsius. Penyebabnya adalah bertambahnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, dari rata-rata 280 part per million yang bertahan selama 800.000 tahun tembus ke rekor baru sebesar 400 ppm pada 2018.

Konsentrasi CO2 sebanyak 280 ppm mulai berubah 100 tahun setelah 1750—tahun penemuan mesin uap yang membuka gerbang dunia kepada Revolusi Industri. Teknologi yang pesat membutuhkan bahan bakar untuk memudahkan urusan manusia dengan meringkas jarak lewat transportasi atau menisbikan ruang dan waktu melalui Internet. Akibatnya, sumber daya alam dikeruk lebih masif untuk menggerakkan mesin-mesin itu. Emisi karbon pun naik tak tertahankan.

Produksi emisi dan munculnya pandemi.

Gas itu membumbung ke atmosfer, mengokupasi ozon hingga panas matahari yang dipantulkan bumi tak lagi bisa terserap. Tak ada pilihan lain, ozon memantulkannya kembali panas itu ke bumi. Di bumi, sementara itu, penyerap karbon juga berkurang akibat pohon dan tanamannya dibabat. IPCC melaporkan, hingga 2018, 72% ruang bumi sudah terpakai untuk memenuhi hidup manusia.

Panas pun muncul dari atas dan bawah. Bumi seperti berada dalam rumah kaca raksasa yang menghangat pelan-pelan. Kita menyebutnya pemanasan global yang mengubah iklim dan menyelewengkan musim.

Respons alamiah mahluk hidup atas perubahan suhu itu adalah adaptasi melalui mutasi gen, seperti teori Darwin hingga Dobzhansky, termasuk virus dan segala mahluk renik mikroorganisme. Akibat desakan manusia, hewan dan hutan yang menjadi inang dan rumah mereka pelan-pelan menghilang. Cara terbaik untuk bertahan hidup adalah mencari inang baru. Mamalia paling dekat adalah manusia. Kita menyebutnya penyakit. Seolah-olah virus itu menyerang kita yang tak berdosa. Padahal, kitalah yang mengokupasi mereka.

Kate Jones dkk, menulis di jurnal Nature terbitan 2008, bahwa dalam kurun 1940-2004 ada 335 jenis virus baru yang menginfeksi manusia, membuat pandemi yang menghebohkan hingga menewaskan puluhan juta manusia. Dari 335 jenis virus itu, 72% berasal dari satwa liar. Dari flu hingga AIDS, dari malaria hingga zika, semua virusnya ditularkan dari binatang liar yang dimangsa manusia atau menggigitnya karena kita mendekat ke habitat mereka.

Maka kehadiran virus corona yang ditularkan oleh burung, hewan laut, kelelawar hingga tenggiling di Wuhan itu bukan serangan, bukan pula cara balas dendam. Virus-virus itu masuk tubuh manusia dalam rangka rebutan ruang hidup dalam seleksi alamiah.

* Angka dalam versi web telah diperbarui dari versi cetak majalah.

Ilustrasi oleh FunkyFocus/Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain