Oase | April-Juni 2018

Pertanyaan di Sekitar Mudik

Mudik sesungguhnya adalah mengunjungi kembali kenangan-kenangan. Tetapi untuk apa?

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

ADA seorang teman bertanya, di sekitar hari Lebaran ini: bagaimana anak-anakmu kelak memahami mudik? Bagaimana anak-anak saya memaknai pulang kampung dan merayakan Lebaran dengan susah-sungguh: macet yang panjang di tengah puasa, menyiapkan segala hal seperti hendak menyambut hari besar. 

Lebaran memang hari besar, dirayakan di kampung atau di kota, meski ada beda suasana pada keduanya. Sebab bagi saya mudik adalah rukun keenam, tak afdol Ramadan tanpa menutupnya dengan merayakan bersama kenangan. Membayangkan menempuhnya seperti menunggu hari perkawinan.

Karena itu bagaimana anak-anak saya kelak memahami mudik? Ini pertanyaan yang valid. Anak-anak saya tak mengalami apa yang saya alami. Anak saya tak belajar berenang di palung Cisanggarung yang angker, anak saya tak punya candu penciuman pada bau asap sampah dan jerami yang dibakar, anak-anak saya tak punya kenangan pada senja dan huma bersama domba-domba di tegalan.

Anak saya tak punya siklus hari seperti saya kecil: bangun pagi untuk sekolah, belajar di kelas, lalu pulang sebelum sore, mencari rumput ke hutan, lalu menggembalakan ternak dengan suka cita. Di gunung itu saya bertemu dengan bermacam orang, yang bekerja dalam diam, lalu istirahat di saung dan beradu cerita tentang pengalaman. Siklus anak saya hanya sampai pada peristiwa kedua: bangun tidur dan sekolah. Seharian mereka belajar lalu pulang dalam kelelahan.

Pendeknya anak saya tak punya syarat utama mudik: kampung yang membentuk karakternya 20-30 tahun ke depan. Mungkin mereka akan punya kenangan pada rumah, tapi bukan pada kampung, sebuah lanskap di mana hubungan sosial tak dihargai dengan pamrih. Liburan sekolah tahun lalu anak saya bengong menonton orang satu kampung mendirikan rumah, rumah seorang tetangga kakek dan neneknya.

Orang-orang kampung itu begitu saja bergabung ikut bekerja, membuat reng, membuat wuwung, sampai memasang genteng, tanpa dibayar. Pekerjaan berat itu pun selesai sebelum zuhur dan ditutup dengan pesta makan bersama. Di “kampungnya”, dalam kenangan yang bercokol di ingatannya, anak saya selalu melihat rumah dikerjakan tak lebih oleh lima orang, para tukang yang dibayar, dengan upah yang ditetapkan, tanpa ada pesta penutupan.

Mudik sesungguhnya adalah mengunjungi kembali kenangan-kenangan itu. Dan kenangan selalu menumbuhkan romantisme sebab ia seperti cermin yang memantulkan bayangan masa lalu, masa penting yang mengantarkan kita pada hari ini. Peristiwa-peristiwa, orang-orang, dan suasana yang terbentuk dan mengiringinya senantiasa memberikan sensasi dan déjà vu. Ikatan pada kampung itulah yang membuat mudik selalu menggairahkan.

Sebab ada pulang kampung lain di bulan lain, bukan di sekitar hari Lebaran, yang berbeda “momennya” dengan mudik setelah Ramadan. Barangkali karena mudik di hari lain kenangan-kenangannya tak lengkap. Teman-teman berenang dan gembala saya dulu tak pulang jika tak Lebaran. Mereka juga merantau dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Déjà vu karena itu menjadi terputus. Di luar Ramadan, kampung sepi. Tak ada cengkerama di teras sehabis asar. Di kampung, senja adalah waktu berkumpul, waktu bercengkerama, setelah mandi, sembari menikmati wangi asap sampah yang dibakar. Dan sehabis subuh adalah waktu yang genting: dapur-dapur menyemburkan asap tipis kayu yang dibakar ke hawu. Orang-orang menyiapkan bekal untuk ke sawah, ke ladang, ke hutan.

Lanskap itu tak ada dalam kenangan anak-anak saya. Mereka bahkan tak tahu hawu. Mereka tak punya udik yang selalu membetot untuk selalu didatangi. Apa yang mereka rasakan tiap menemani saya mudik, adalah perasaan turis yang mengunjungi sebuah tempat untuk transit, bukan seorang anak hilang yang sedang “Pulang”.

Bagi anak saya, pulang punya makna yang tunggal, yakni kembali ke rumah setelah sekolah. Mungkin makna itu akan bertambah tapi tak terlalu berkembang jika kelak dewasa: pulang setelah bekerja. Mereka akan merindukan rumah ini, rumah kami sekarang, tapi bukan kampung karena tak ada perangkat sosial yang mendukungnya menjadi lanskap kampung halaman yang meminta dikunjungi karena kenangan atas segala peristiwa yang mempengaruhi cara pikir dan tindakan kita hari ini. Bagi mereka kampung hanyalah rumah lahir dan dibesarkan.

Barangkali ini pikiran orang dewasa yang sedang sentimentil membayangkan mudik. Anak-anak saya tentu punya dunia sendiri, yang berbeda dan selamanya tak akan sama dengan saya, seperti saya juga punya kenangan berbeda dan memahaminya dengan cara tak sama seperti ayah saya memahami kampung kami. Dan dunia yang berbeda itu akan membentuk “mudik” mereka sendiri, kenangan mereka sendiri, “udik” mereka sendiri, yang kelak terus menerus membetotnya, di sekitar Lebaran atau di luar Ramadan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain