Oase | Juli-September 2018

Rumah, Reuni, Kenangan

Kita selamanya tak akan bisa melepaskan kampung halaman, seberapa jauh pun kita meninggalkannya, seberapa keras dan sengit pun kita berkonflik dengannya.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

JIKA kenangan punya wajah, ia akan tersenyum karena manusia tak akan bisa lepas mengingatnya. Jika kenangan seperti kaset film, ia akan terputar tiap kali ada momen yang memantiknya. Kenangan seperti memorabilia dalam bawah sadar kita: ia bertumpuk dan membentuk déjà vu pada ingatan manusia.

Dengan kata lain, kenangan semacam teror yang tak lekas lekang. Ia seperti film dan buku yang bagus yang terus bercokol meski kita selesai menonton dan membacanya. Ia teror yang menyatu dalam ingatan. Seperti film Fury.

Entah mengapa, setelah menonton dan kembali menontonnya, saya merasa film ini bercerita tentang kerinduan, kegalauan, kesepian, ketakutan, akan rumah dan kampung halaman. Sebagian besar film ini menceritakan apa yang terjadi di tank Sherman yang dihuni lima tentara Amerika dengan latar Perang Dunia II tahun 1945. Mereka terjebak pertempuran melawan 300 tentara SS Jerman karena roda tank hancur terkena granat ranjau.

Teror Fury kian menjadi karena lagu Cedarwood Road, yang saya dengarkan tak sengaja setelah menonton film itu. Ini lagu grup band U2 di album terakhir mereka, Song of Innocence, dan bukan lagu pengiring film.

Bono, yang menyanyikan dan menulis lagu itu, sedang mengenang kampungnya di Irlandia Utara. Ia lahir dan tumbuh di Cedarwood Road 10, perkampungan dengan jalan lurus dan sungai yang lebar, juga bunga ceri yang mekar di kiri-kanannya. Cedarwoord Road sukses merekam deskripsi dan suasana yang tertampung maupun tak tertampung adegan dan ucapan tokoh-tokoh Fury. Kesamaan pinus dalam Fury dan pinus yang terbayang dalam Cedarwood barangkali karena suting film ini di Inggris.

Dengan nada agak murung, Bono mengenang sungai yang mengalir di sepanjang jalan pinus: “Menyeberang dari sisi Selatan ke Utara, sungguh perjalanan yang jauh.” Di Fury, menyeberangi sebuah persimpangan yang hanya lima meter butuh perjuangan yang amat keras karena para tentara Amerika itu terlebih dulu harus mengalahkan dan membunuh puluhan musuh, juga terhalang teman yang jadi korban.

Sebagaimana umumnya tempat lahir, hubungan dengan orang-orangnya lebih dari sekadar kampung halaman. Tempat, peristiwa, dan lanskapnya berkait dengan kenangan dan pengalaman hari ini yang rumit dijelaskan hubungan-hubungannya. Bono melihat Cedarwood Road sebagai “zona perangnya” di masa remaja—wilayah yang membentuknya menjadi ia hari ini. “Saya masih berdiri di sini, di jalan ini. Saya masih butuh seorang musuh.”

Musuh, kata pesan bijak Sun Tzu, kita perlukan untuk menjadi cermin agar kita paham kelemahan dan kelebihan kita sendiri. Musuh tak harus orang yang bersiap membokong ketika kita lengah. Ia bisa juga tantangan, untuk mendewasakan.

Seperti Don Wardaddy (Brad Pitt) di Fury. Ia masih saja di zona perang sesungguhnya, setelah bertempur di pelbagai perang di Afrika. Hidupnya seperti selalu membutuhkan seorang musuh, untuk menegaskan bahwa ia masih hidup. “Ini rumahku,” katanya, menunjuk tank itu, ketika empat anak buahnya hendak lari dari pertemuan dengan 300 tentara SS itu.

Kata “rumah” barangkali tak terlalu menggetarkan dalam bahasa Indonesia. Dalam kalimat Wardaddy itu ada nuansa yang tak tertampung dalam padanannya, yakni sebagai sebuah tempat kembali, tempat hidup, tanah air.

Seperti kata Bono, kita selamanya tak akan bisa melepaskan kampung halaman, seberapa jauh pun kita meninggalkannya, seberapa keras dan sengit pun kita berkonflik dengannya, cause it’s never dead, it’s still my head. Pada Wardaddy, ia memilih tinggal di tank meski tahu hanya ada satu pilihan, yaitu mati. Ke mana juga ia akan lari? Perang tak menyediakan jalan kembali. “Wars are not going anywhere, Sir.”

If the door is open it isn’t theft, you can’t return to where you’ve never left.

Bono selamanya terkenang Cedarwood Road karena jejak hidupnya ada di sana. Wardaddy tak bisa keluar dari medan perang karena selama hidup ia mengukir peninggalannya di medan yang keras itu. Maka ia memilih bertahan di tank, menyongsong akhir hidupnya, di tempat yang ia sebut “rumah” itu. “Kamu pikir saya tidak takut?” katanya kepada Norman Ellison, pengemudi tank, yang mengkeret.

“Kadang-kadang ketakutan menyergap di tempat yang kita sebut rumah,” kata Bono.

And a heart is broken, is a heart that is open, it’s open...

Dalam banyak variasi, rumah dan kampung halaman bisa berbentuk apa saja. Ia tempat yang membentuk watak dan jalan pikiran kita. Kampus acap menjadi “rumah” bagi para mahasiswa yang menjalani masa transisi di usia persimpangan. Maka reuni, setelah mereka menjadi alumni, adalah cara menjemput dan merayakan kenangan selama mereka mengisinya. Dulu...

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain