Kabar Baru | 03 Desember 2019

Perubahan Iklim Merenggut 20 Juta Orang per Tahun

Akibat pelbagai bencana yang ditimbulkan perubahan iklim dan pemanasan global. Laporan ini menyambut Konferensi Iklim di Madrid 2-13 Desember 2019.

Redaksi

Redaksi

SEJAK 2008, setidaknya 20 juta orang per tahun terusir dari rumah dan kampung halaman mereka akibat pelbagai bencana yang diakibatkan perubahan iklim dan pemanasan global. Artinya, tiap dua detik ada satu jiwa yang kehilangan tempat tinggal. Demikian laporan Oxfam, lembaga nirlaba yang fokus pada kemiskinan, yang dirilis pada 2 Desember 2019. 

Oxfam menganalisis data selama 2008-2018. Data berasal dari instansi pemerintah, lembaga nirlaba, badan penelitian, dan media massa. Laporan itu dirilis berbarengan dengan pembukaan Konferensi Iklim di Madrid, Spanyol, hingga 13 Desember 2019. Oxfam meminta para ahli lingkungan dan dewan Perserikatan Bangsa-bangsa memfokuskan pembahasan pada mitigasi pembiayaan untuk menolong mereka yang terusir karena bencana.

Menurut Oxfam, iklim adalah bahan bakar utama dalam pelbagai bencana yang terjadi dalam satu dekade terakhir. Secara spesifik, Oxfam menyebut badai, banjir, kebakaran hutan, kekeringan, hingga gempa bumi. “Jumlahnya jiwa yang terdampak tiga kali lipat lebih banyak dibanding korban konflik,” tulis Oxfam.

Laporan itu menekankan bahwa penduduk di negara-negara miskin jauh lebih rentan terkena bencana dan risiko pemanasan global, terutama polusi udara akibat pembakaran bahan bakar karbon. Asia dan negara-negara kecil di Pasifik paling rentan terkena dampak perubahan iklim.

Oxfam menghitung tujuh dari 10 negara kepulauan masyarakatnya paling berisiko kehilangan tempat tinggal akibat cuaca ekstrem yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut atau topan atau rob. Menurut Oxfam, sebanyak 5% penduduk Kuba, Dominika, dan Tuvalu, mengungsi akibat cuaca ekstrem setiap tahun dalam dekade antara 2008-2018. Jumlah tersebut setara dengan setengah populasi Madrid yang mengungsi di Spanyol setiap tahun. Padahal, emisi per negara di kepulauan-kepulauan itu hanya sepertiga dari emisi di negara-negara berpenghasilan tinggi

Di negara lain yang lebih miskin seperti India, Nigeria, dan Bolivia, menurut Oxfam, punya risiko empat kali lebih tinggi penduduknya mengungsi dibanding negara kaya seperti Amerika Serikat. Sekitar 80% orang yang telantar tersebut berada di Asia—rumah bagi 60% persen penduduk dunia yang sepertiganya hidup dalam kemiskinan ekstrem.

"Pemerintah kita memicu krisis yang mendorong jutaan perempuan, laki-laki dan anak-anak dari rumah mereka dan orang-orang termiskin di negara-negara termiskin membayar harga terberat (akibat perubahan iklim)," kata Chema Vera, Penjabat Direktur Eksekutif Oxfam International.

BACA: Tiga Cara Mencegah Pemanasan Global

Dalam Konferensi Madrid, PBB akan membahas dan menilai kemajuan yang dirumuskan dalam “Mekanisme Warsawa tentang Kehilangan dan Kerusakan”. Mereka juga akan mendorong pembentukan lembaga dana pembentukan dana baru untuk membantu masyarakat memulihkan dan membangun kembali akibat guncangan iklim.

Menurut Oxfam, negara-negara kaya sebagian besar telah meninggalkan negara-negara miskin untuk menutupi sendiri meningkatnya biaya bencana akibat cuaca ekstrem. Analisis New Oxfam menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem selama dekade terakhir, rata-rata, setara dengan 2% pendapatan nasional negara-negara yang terkena dampak. Angka itu jauh lebih tinggi bagi banyak negara berkembang.

Peta bencana kekeringan (Sumber: BNPB, 2019)

“Orang-orang turun ke jalan di seluruh dunia untuk menuntut tindakan penanganan iklim. Jika politisi mengabaikan permintaan mereka, lebih banyak orang akan mati, lebih banyak orang akan kelaparan dan lebih banyak orang akan dipaksa keluar dari rumah mereka,” kata Vera.

Cuaca ekstrem memang terasa hari-hari ini. Satelit NASA mencatat bahwa suhu bumi naik 0,8 derajat Celsius setelah Revolusi Industri 200 tahun lalu. Para ahli dan pemerintah pelbagai negara bersepakat menahan laju pemanasan bumi tak lebih dari 1,5 derajat ada 2050. Waktu semakin sempit...

Tonton videonya:

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.